Kopi Luwak

2 Agustus 2017

Salah satu target perjalanan kami adalah bertemu langsung nara sumber dari kalangan produsen kopi luwak di Lampung Barat.

Setelah mendapat beberapa keterangan dari Mbak Lisna di Ratu Luwak, pada kesempatan ngupi bebakhong kami berkesempatan belajar lebih lengkap dengan Mas Wahyu Anggoro, owner Mr. Zian Kopi Luwak Original.

Dari banner di standnya, kami dapat gambaran bagaimana kopi luwak diproduksi.

  1. Luwak memakan buah kopi berkualitas yang beraroma khusus dan benar-benar matang.
  2. Buah kopi yang dimakan luwak diproses melalui sistem pencernaan dan fermentasi terjadi dalam perut luwak. biji kopi bercampur dengan enzim-enzim yang ada di perut luwak. Suhu tertentu dalam perut Luwak membantu proses fermentasi sempurna. Kemudian dikeluarkan dalam bentuk kotoran berupa gumpalan memanjang yang terdiri dari biji kopi yang bercampur lendir.
  3. Kotoran tersebut kemudian dicuci bersih hingga tersisa biji kopi yang utuh.
  4. Proses selanjutnya adalah dikeringkan dengan sinar matahari, ditempat yang terjaga higienis. Proses penjemuran yang kurang baik akan mempengaruhi rasa, terutama aroma.
  5. Biji kopi yang sudah kering kemudian dikupas dari cangkangnya menjadi biji kopi luwak yang berbentuk Green Bean. Ada produsen yang memisahkan kopi berbiji belah dan berbiji tunggal (kopi lanang).
  6. Green Bean kemudian dicuci hingga bersih dan siap untuk disangrai.
  7. Setelah di sangrai kopi disebut Roasted Bean.
  8. Terakhir digiling menjadi kopi bubuk (coffee powder).

Kami juga bisa melihat wujud kopi luwak dalam beberapa tahap proses, dari yang bentuk utuh seperti saat pertama di keluarkan, juga ada yang telah dibersihkan.

Menurut Mas Wahyu, penyimpanan terbaik saat berbentuk gumpalan berlendir.

Beliau juga sangat terbuka tentang perhitungan produksi, juga hal-hal yang terkait dengan kebiasaan minum kopi, misalnya keluhan yang kita rasakan karena minum kopi, disebabkan kadar kafein yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh, setiap orang berbeda-beda kadar ramah kafeinnya.

Orang minum kopi kemudian pusing, karena kadar kafeinnya tidak sesuai.

Orang kembung setelah ngopi, karena memang kondisi lambungnya bermasalah dan tidak bisa menerima kafein.

Setiap jenis luwak juga memiliki lama fermentasinya yang berbeda-beda, logikanya hasil fermentasinya juga berbeda, dari segi manfaatnya juga berbeda.

Tidak juga bisa dikatakan luwak yang menyebabkan rasa kopi lebih enak, karena tanpa luwak pun, dengan kualitas kopi seperti pilihan luwak, maka rasanya akan sama. Luwak hanya mau makan kopi yang benar-benar tua dan masak sempurna.

Harga kopi luwak bisa 10 kali lipat harga kopi biiasa, sebab:

  1. Produksinya lebih sedikit, luwak tidak bisa dipaksa, tidak bisa direkayasa untuk menghasilkan lebih banyak, berbeda dengan mesin.
  2. Besarnya penyusutan; dari 10kg kopi yang diberikan pada 2 ekor luwak, jika kualitas kopi jelek, walaupun lapar, tidak akan dimakan. Dari 1 kg, per ekor menghasilkan 200 sd 300 gram
  3. Biaya perawatan luwak selain untuk menyediakan kopi, tenaga kerja, vitamin (menggunakan clorofil)
  4. Luwak nama lain dari musang, jenisnya ada sekita 21, tapi yang ada di Lambar hanya ada sekitar 10 jenis dan hanya 4 jenis luwak yang mau makan kopi.

Untuk yang penasaran, ingin melihat langsung lokasi penangkarannya, ini alamatnya.

Benar, dalam setiap perjalanan, ada wawasan yang semakin terkuak.

Ada informasi dan pelajaran yang bisa kita dapatkan.

Ada hikmah yang bisa kita ambil.

Add Comment