Lagi, Membangun Kelurga Qur’ani

Lagi, ada yang meminta saya mengisi acara parenting school dengan tema membangun keluarga qur’ani.

Tidak bosan?

Kalau saya, tidak! Justru saat bicara tentang bagaimana membangun keluarga qur’ani, ibarat hp, baterrenya sedang dicharge. Mendapat tambahan energi baru, menguatkan langkah dalam menapakinya, karena keluarga saya sedang berproses dalam menggapainya.

Dalam forum, saya akan jumpai wajah-wajah haru yang menitikkan embun bening di netranya. Wajah-wajah antusias ingin tahu bagaimana cara mewujudkannya. Juga wajah-wajah penuh semangat untuk memulai dari diri untuk mewujudkannya. Satu dua wajah nampak kurang percaya diri, mampukah mewujudkannya sedang selama ini belum sukses menyingkirkan kendala-kendala yang menghambat langkah dalam menjalaninya?

Keyakinan!

Ini hal mendasar yang harus dimiliki sebelum perangkat lain dalam membangun keluarga qur’ani.

Keyakinan bahwa Al Qur’an sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Keyakinan bahwa Allah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari.

Bahwa Allah akan memberikan kehidupan yang baik untuk orang-orang yang dekat dengan Al Qur’an.

Untuk membangun keluarga qur’ani, harusnya dimulai dari lebih mendekatnya orang tua kepada Al Qur’an, agar lebih mudah mengarahkan anak-anaknya untuk dekat dengan Al Qur’an.

Bukan proses yang mudah, memang, tapi wajar, kan? Untuk mendapatkan surga memang butuh kesungguhan dan pengorbanan? Untuk sukses di dunia saja manusia rela jungkir balik siang malam, apalagi untuk kehidupan masa depan yang kekal?

Dalam setiap perjumpaan, diharapkan terjalin silaturahim baru dan mempererat yang sudah ada.  Biasanya keakraban tumbuh di luar forum resmi.

Ini bukan masalah makan enak.

Atau makan di tempat bergengsi, atau makan sambil selfi, welfi.

Ini tentang persaudaraan, silaturahim dan perjamuan.

Menghormati tamu merupakan kebaikan yang sangat dianjurkan Rasulullah saw, terlepas bagaimana teknisnya.

Ini tentang makan bersama dan kebersamaan.

Terlepas apa menunya dan berapa harganya.

Dengan makan bersama, terjalin keakraban, berbagi ilmu dan pengalaman. Saling mengakui kelebihan kawan dengan rendah hati, ditingkahi cerita nostalgia beberapa teman yang pernah bersama sebelumnya.

Yang baru kenal pun merasakan kedekatan yang menguar dari canda-canda yang spontan.

Mengapa bisa begitu?

Karena di antara perbedaan pemikiran masing-masing kepala, ada kesamaan yang menghubungkannya; menginginkan keluarga yang bernuansa surga, Keluarga Qur’ani.

Add Comment