Lampung Barat, Negeri Berselimut Kabut

Saya begitu terobsesi dengan Lampung Barat dari 4 tahun lalu, saat seorang pasien minta rawat inap di rumah selama hampir sebulan untuk terapi akupunktur dan herbal.
Bahkan, ada satu dua tulisan yang mengambil setting Lampung Barat berdasarkan cerita teman-teman yang berasal dari sana atau orang yang pernah ke sana.
Alhamdulillah, Allah izinkan saya menginjakkan kaki di Lampung Barat bulan Februari 2017 dalam rangka menghadiri undangan tetangga yang hajtan di Sekincau, karena keluarganya di sana.
Perjalanan saat itu berangkat dari Bandarlmpung jam 2 siang, sampai Sumberjaya, tempat menginap menjelang magrib. Cepet, ya? Hu um, ikut rombongan tetangga yang bawa mobil sendiri.
Malam harinya menikmati apa yang selama ini dibayangkan. Tidur di cuaca dingin berselimut tebal dengan kondisii tubuh lelah, karena sebelum berangkat, dari pagi full ada kegiatan.
Hingga kini masih terbayang nikmatnya tidur di rumah panggung, berjaket, tambah selimut, nyenyak!
Sebelum subuh ke kamar mandi, menyentuh air seperti mengambil ikan dalam freezer. Mundur, keluar dari kamar mandi. Minta izin tuan rumah merebus air untuk mandi.
Mandi air hangat, begitu pun terasa cepat sekali sir menjadi dingin. Brrrrr.
Saat di luar sedikit terang, walau matahari belum menampakkan diri, saya keluar dengan salah satu teman yang membawa anak umur 5 tahunan.
Bingung juga mau melakukan apa. Di depan rumah jalan raya. Nengok kanan, tampak gunung, belakang rumah juga nampak rumah-rumah di perbukitan.
Akhirnya kami menyusuri jalan, belum tahu mau kemana. Tidak ada petunjuk dari tuan rumah.
Terlihat anak-anak umuran SMP yang sedang bertegur sapa dengan anak Bu Dewi, tuan rumah. Muncul ide minta tolong mereka untuk mengunjungi tempat yang bagus, minimal kebun kopi, karena Sumberjaya terkenal dengan kebun kopinya.
Mereka bersedia mengantar kami, bahkan sangat tertarik saat saya sibuk mengambil obyek untuk di foto, entah itu pohon, bunga atau rerumputan, sambil mereka menanyakan, apa gunanya? Setelah saya beritahu untuk apa saya mengumpulkan gambar, mereka antusia menunjukkan saat bertemu dengan obyek yang menurut mereka saya akan tertarik.
Kami diajak melihat bekas tambang pasir di tengah persawahan, setelah melewati kebun kopi.
Pohon-pohon kopi masih berselimut kabut tipis, berulang kali saya harus mengeringkan layar tab yang sedikit basah tersentuh embun.
Hmmmm…berulang kali saya tarik napas dalam-dalam, menikmati kesegaran udara yang berbeda dengan hari-hari biasa, di Bandarlmpung.
Setelah keluar dari kebun, saya merasakan gerimis kecil…saya lupa, bisa jadi itu bukan gerimis, tapi kabut yang mencair.
Melihat foto-foto yang saya bawa, tuan rumah heran…seumur-umur belum pernah beliau ke tempat itu. Akhirnya, saya di tunjukkan pemandangan belakang rumah yang indah. Dari jendela dapur, kembali saya jepret-jepret mengambil sudut-sufut yang cantik dari perkebunan di perbukitan itu.
Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan ke Sekincau, tempat hajatan digelar.
Brrrrrr, sampai sekitar jam 9, Sekincau masih tertutup kabut. Jarak pandang terbatas sehingga supir memperlambat jalan kendaraan. Ditambah hujan di beberapa titik sepanjang perjalanan.
Sepulangnya dari kondangan, kami sempat mampir ke Fajarbulam, ke kebun kopi dan sayuran.
Cuci mata lagi, jeprat jepret lagi.setiap ada obyek bagus, tanpa dikomando sopir memperlambat jalan mobil, supaya saya berkesempatan menganbil gambar.
Saat sholat dzuhur,  tercapai apa yang jadi angan-angan saat berangkt tadi. Sholat dan istirahat di masjid puncak bukit yang berseberangan dengan tugu Bumi Skala Bkhak di perbatasan Way Tenong dan Sumberjaya.
Itu bulan Februari lalu.
Kemudian, kesempatan kedua, memenuhi undangan untuk mengisi acara di Way Tenong.
Travel menjemput setelah maghrib.
Perjalanan yang harusnya menegangkan.Jalan berkelok dalam kegelapan, diiringi nujan yang kadang disertai petir, tetapi ketegangan itu banyak berkurang karena yakin sopirnya sudah pengalaman,mitu terasa dari laju kendaraan yang terasa halus.
Sampai Way Tenong jam 11 malam, langsung istirahat. Hmmm, kembali menikmati tidur nyenyak hingga saatnya sebelum subuh.
Jam 9 pagi ke lokasi acara sa,pai menjelang jam 12 siang.
Yups! Nggak ada kesempatan jalan-jalan, walau sekedar melihat kebun sayur, tapi ada satu kesan saat makan di sebuah kafe, pesan ayam penyet. Beneran, enak!
Kesempatan ketiga, kemarin, tanggal 1 sd 3 Agustus 2017
Hmmm…bagaimana ceritanya?
Tunggu di postingan berikutnya, ya.

Add Comment