Lebaran, Corona dan Banjir

lebaran, corona dan banjir

Kondisi air di jalan samping, belum setinggi pintu.

Jumat, 22 Mei sekitar jam 16 30.

Hujan mulai turun. Perlahan bertambah deras dibarengi angin kencang, terlihat pada daun kelapa dan pohon jambu biji di depan rumah, yang bergerak mengikuti tiupannya. Cabang pohon alpukat yang sudah kering, patah, jatuh berdebum.

Sekitar jam lima, aliran listrik mati. Nasi yang Harish masak di magic com baru saja mendidih. Kemudian dilanjutkan dimasak di kompor. Hafa sedang menyiapkan racikan untuk membuat sayur dan lauk.

Kami memperhatikan perkembangan ketinggian air di jalan samping rumah, semakin meningkat. Rumah kami memang di posisi pojok, jalan di samping posisinya rendah dan biasa menjadi aliran air dari perumahan di bukit. Di situlah debit air paling banyak saat hujan. Sedang jalan di depan rumah, hanya sedikit lebih rendah dari teras rumah. Kalau air di jalan depan sudah masuk rumah, berarti dari samping juga masuk. Bersamaan juga dari saluran air tiga kamar mandi.

Di pintu samping rumah, ada 4 undakan. Kami jadikan patokan prediksi, akan banjir atau tidak.

Sampai tangga ketiga, saya sudah menyelipkan lap di bawah pintu. Selama ini, hal itu sudah cukup untuk menghalangi air masuk.
Namun, berbeda dengan hujan kali ini. Air datang begitu cepat. Saya sempat bingung, mana dulu yang harus diperintahkan ke anak-anak. Hah, lucu kalau ingat kejadian itu.

Walau tanpa komando, semua bergerak mengikuti naluri. Saling bantu dan menunjukkan apa yang harus dilakukan.

Mantu ke lantai atas dengan tiga cucu. Abi memindahkan ijazah dan surat-surat penting lain.

lebaran, corona dan banjir

Buku dalam kardus yang masih terselamatkan

“Buku!” sontak saya berteriak, ingat ada 3 kardus besar berisi buku Hafidz Rumahan. Sayang, lupa dengan lemari. Saat ingat, sudah tidak sempat lagi. 10 Lemari; besar, kecil, semua bagian bawahnya terendam air. Buku, pakaian, berkas, tas, dll.

Selama tinggal di perumahan ini dari tahun 2001, baru dua kali air masuk, itu pun hanya sebatas mata kaki. Kali ini merasakan apa yang tetangga-tetangga sering alami.

Air terus meningkat, hingga selutut kaki Harish. Ya sudah, sepertinya tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan barang-barang. Hanya menunggu air surut, sambil memeriksa beberapa barang yang dikhawatirkan jatuh ke air.

Untunglah, pas Hilmy datang, membawa takjil, sehingga saat adzan Maghrib, ada yang dimakan untuk membatalkan puasa.

“Makan sambil berdiri, nggak apa-apa, ya?” tanya Harish. Kami hanya tertawa mendengar pertanyaan polos itu.

Alhamdulillah sekitar jam 18. 30 air mulai surut walaupun masih gerimis, tapi kami sudah bisa mengeluarkan air dengan serokan pel, sapu, sapu lidi, dan segala yang bisa dimanfaatkan.

Pintu depan dibuka, tapi pagar tetap tertutup. Bagian depan lebih cepat surut karena lebih tinggi. Pintu samping belum bisa dibuka, di jalan air masih tinggi.

“Ngungsi ke pondok aja, bersih-bersihnya besok,” Hilmy mengusulkan.

“Ya udah, yang lain ke pondok, biar Abi yang di rumah.” Abi memutuskan.

Menjelang jam delapan, saya dan anak-anak berangkat ke pondok yang berjarak sekitar 40km dari rumah.

Sepertinya hujan merata sepanjang perjalanan terlihat masih ada yang ada yang ada juga tidak akan sampai di pondok pun, masih hujan.

Keesokan paginya, Abi memberitahu supaya kami jangan pulang dulu, ada ada beberapa teman yang akan membantu membersihkan rumah. Alhamdulilah, 3 orang teman yang biasa menjadi relawan Badan Penanggulangan Bencana PKS datang membawa alat-alat untuk membersihkan lumpur.

Ketika Lantai sudah relatif bersih, Abi mempersilahkan saya dan anak-anak kembali, melanjutkan membereskan rumah.

Sampai di perumahan, tampak di halaman dan pagar rumah, jemuran pakaian bergelantungan, juga kasur-kasur yang sempat terendam. Sofa pun dikeluarkan. Bahkan jalan di blok rumah kami di tutup. jalanan dijadikan penjemuran darurat. Tambang dan bambu tiang bendera di pasang untuk jemuran.

lebaran, corona dan banjir

sebagian buku yang tidak sempat diselamatkan, di lemari paling bawah

Subhanallah, begini rasanya jadi korban banjir. Padahal ini hanya banjir kecil, jika dibandingkan dengan bencana yang sering diberitakan di media.

Ternyata tidak semua rumah di perumahan kami kemasukan air. Memang rumah kami ada di lokasi tempat mengalirnya air dari perumahan atas bukit, jika intensitas hujan berlebih.

Alhamdulillah, saat kami datang lantai sudah bersih. Abi segera ke masjid, gantian beristirahat, sekalian menunggu waktu sholat Dzuhur. Hilmy hanya mengantarkan, karena banyak urusan menjelang lebaran yang harus diselesaikan, di pondok.

Saya segera membagi tugas, masing-masing anak membereskan satu lemari. Mengeluarkan barang-barang yang ada di lemari paling bawah yang pastinya sempat terendam air. Memilah-milah mana yang masih bisa diselamatkan, mana yang harus dicuci dan dijemur atau mana memang harus dibuang. Alhamdulillah, 4 orang anak yang di rumah sudah besar semua. Nggak terbayang kalau kondisi normal, di rumah hanya dengan Harish karena yang tiga di pondok.

lebaran, corona dan banjir

Buku-buku dibuka plastiknya dan dijemur. Entah nantinya bermanfaat atau tidak, masih diusahakan. Sayang kalau dibuang.

Barang apa yang menjadi korban terbanyak?

Kalau yang disebut korban atau kerugian itu yang bisa dinilai dengan uang langsung, itu adalah buku yang masih tersegel.
Total berapa eksemplar buku yang basah dan pastinya tidak akan layak untuk dijual? Kalau 100 eksemplar lebih, tapi semoga saja tidak tidak sampai 300an.

Memang selain buku Hafidz Rumahan juga masih ada buku Menuju Keluarga Hafidzul Qur’an dan Beranda Harish.

Belum lagi buku-buku lain, majalah, berkas, entah apa lagi, Semoga tidak ada dokumen penting yang terbuang karena tidak bisa lagi diperiksa satu-satu. Karena kekayaannya buku, ya itulah yang menjadi korban.

Alhamdulillah, kasur masih terselamatkan, walau basah sebagian. Alhamdulillah, dua hari berikutnya panas terik, sehingga mempercepat proses pengeringan.

Alhamdulillah, diberi sehat untuk membereskan pakaian dan perlengkapan rumah tangga yang terendam.

Hari ini Senin 25 Mei 2000 kami masih menyelesaikan membereskan rumah, semoga selesai semuanya sehingga besok sudah bisa beraktivitas dengan normal.

Lebaran yang sungguh istimewa. Kebanjiran menjadi penyempurna kondisi pandemi covid-19.

Kalau lebaran identik dengan sholat Ied, maka hanya Abi yang lebaran. Saya dan anak-anak sholat Dhuha di rumah.

Kalau lebaran identik dengan ketupat, Alhamdulillah Abi sempat pesan dengan tetangga seminggu sebelumnya.

lebaran, corona dan banjir

ketupat + gulai ikan asap

Kalau lebaran identik dengan kuah ketupat, Alhamdulillah, H-1 sore, Abi membelikan kelapa parut sepulang dari masjid. Sudah niat, lebaran masak gulai ikan asap yang sudah dibeli beberapa hari sebelumnya. Walaupun hanya berbumbu bawang merah, bawang putih dan cabe hijau. Semua bumbu dapur yang di luar kulkas, tak terselamatkan, tetap enak, khas aroma ikan asap.

Alhamdulillah ada teman yang mengirimkan semangkuk rendang, dan tetangga mengantarkan opor ayam. Artinya, dari hidangan khas lebaran, tetap ada.

Sepertinya yang berbeda dengan lebaran sebelumnya bagian silaturahim.

Biasanya Syawal hari pertama sampai ketiga bahkan keempat kami silaturahim bareng-bareng, baik itu di lingkungan, kemudian orang tua dan keluarga besar di Metro, Kotabumi, Lampung Tengah, Lampung Timur dan relasi-relasi terutama yang senior di Bandarlampung.

Untuk Lebaran kali ini cukup, di rumah bahkan tidak menerima tamu bahkan kerja bakti membersihkan rumah.

Alhamdulillah semua baik-baik saja, bahkan dengan peristiwa ini lebih menguatkan kami untuk mendukung program physical distancing, tidak berkerumun, tidak bertemu dengan banyak orang, tanpa perasaan bersalah atau tidak enak.

Bagaimanapun masih sangat banyak hal yang bisa disyukuri dibandingkan sedikit hal yang tidak biasa di lebaran kali ini. Yang lebih penting, semoga Allah menerima dan ridho dengan amalan Romadhan kita dan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Taqobbalallahu minna wa minkum.

6 Comments

  1. Coba Geh Mei 29, 2020
    • nenysuswati123 Mei 30, 2020
  2. Mega Marlina Mei 30, 2020
    • nenysuswati123 Mei 30, 2020
  3. Naqiyyah Syam Juni 5, 2020
  4. Emmy Herlina Juni 5, 2020

Add Comment