Magetan, Kota Kaki Gunung

Andai blogger sebuah profesi setara dengan karyawan, mungkin saya sudah dipecat dari kemarin-kemarin. Dan ini bukti bahwa saya hanya blogger suka-suka, walaupun sudah pernah mencoba menjadi blogger profesional, tapi terbukti, setahun lebih ikut-ikutan adsense, belum pernah sekalipun dapat transferan dari google. istilah teman-teman komunitas, gajian. Begitupun, saya mendapatkan manfaat yang banyak dengan menjadi blogger suka-suka, Alhamdulillah.

Postingan terakhir, tentang perjalanan ke Yogyakarta, rencananya dilanjutkan tentang perjalanan berikutnya, ke Magetan, Boyolali dan Sleman. Santai aja, ya. Sekedar melepas kangen menulis di blog. Walaupun, sangat banyak bahan yang layak diposting di sini. Namun, mengingat banyak amanah lain yang harus diprioritaskan, postingnya sesuai mood aja, ya.

Ini lanjutan dari tulisan sebelumnya, Yogyakarta.

***

31 Maret 2019

Setelah sholat subuh, Sofi menghidangkan segelas besar teh panas dan bakwan hangat.

“Telur Bude semalam, mana, Nduk?” tanya saya pada putri Sofi.

“Sebentar, Bude.”

Tidak lama, gadis lembut itu menyerahkan telur rebus yang saya bawa dari Yogya, masih ada 2 butir. Sungguh, saya benar-benar menjaga diri, mengingat perjalanan belum ada separuhnya, dan pergi sendiri. Telur rebus dan vitamin C, jadi andalan menjaga stamina.

“Satu aja, satunya simpan lagi, ya, maturnuwun.”

“Nggih, Bude.”

“Jadwal acaranya jam piro, Mbak?” tanya Sofi.

“Setengah sembilan.”

“Lumayan longgar. Sekarang ke kaki gunung dulu, jalan pagi,” ajaknya.

Kami bersiap keluar rumah, hampir saja saya lupa mengenakan jaket.

Brrr! Hawa dingin menyergap saat pintu terbuka. Saya merapatkan jaket sambil bersedekap.

Di depan rumah, kami menjumpai beberapa ibu yang sudah lumayan sepuh sedang mengobrol sambil menggerak-gerakkan badan, melenturkan otot dan persendian. Kami menghampiri dan menyalami.

“Ini teman dari Lampung,” Sofi mengenalkan saya.

“Monggo, Bu.”

Bersama dua putri Sofi, berempat kami menyusuri jalan aspal menuju kaki gunung Lawu.

magetan kota kaki gunung

pagi yang segar di kaki gunung Lawu

“Masyaallah!” Saya mengerjapkan mata, takjub melihat keindahan di depan mata. Sawah, aliran sungai kecil, gunung yang gagah dan mentari yang menyembul keemasan.

“Kita kesiangan, lebih indah kalau lebih pagi,” komentar Sofi.

Setelah puas, menikmati pemandangan dan udara pagi sambil ngobrol masa lalu, kami segera beranjak pulang.

Sebelum berangkat ke tempat kajian, kami sarapan dengan sate yang dibeli di warung, harganya Rp 500 pertusuk. Sungguh saya heran, bisa menjual sate seharga itu, memang sih, irisannya kecil-kecil banget, tapi kalau rasa, tidak kalah dengan sate yang biasa beli di Lampung.

Sekitar jam delapan, kami berangkat dari desa Bibis Bangsri Ngariboyo, tempat tinggal Sofi sekeluarga. Nama yang unik, dan ternyata nama-nama dusun dan desa di Magetan, rata-rata unik.

Kami menuju tempat acara, di Aula Bidan Widyastuti, di jln MT. Haryono, tidak jauh dari SPBU pasar sayur Magetan.

Wah, terbukti, orang Jawa ramah-ramah. Baru bertemu, tapi langsung ngobrol seru dengan sebagian panitia, tuan rumah dan beberapa peserta, terutama yang terlihat senior, sambil menunggu persiapan panggung dan kehadiran peserta yang lebih banyak. Memang narasumbernya kerajinan, sampai lokasi sebelum waktu acara dimulai. Menurut saya sebaiknya begitu, sehingga sempat mengenali situasi dan kondisi lingkungan dan audien yang nantinya akan berinteraksi. Ketika kita, sebagai narasumber, diterima dengan tangan dan hati terbuka, maka sekat-sekat yang biasanya membuat segan, berkurang, bahkan sirna. Ini sangat membantu membangun komunikasi efektif dengan peserta.

magetan

Nampak antusiasme masyarakat Magetan dalam mencari ilmu.

Alhamdulillah, peserta sangat antusias mengikuti acara sampai berakhir, menjelang dzuhur. Berikutnya kami makan hidangan yang disediakan panitia, saya memilih soto yang sangat nikmat dan segar.

Sebenarnya, kami bisa sholat di ruangan yang memang sudah disediakan, tetapi seorang senior, yang juga orang tua dari salah satu panitia, yang namanya sudah lama didengar Sofi, tapi belum pernah bertemu. Belaiu salah satu daiyah yang cukup dikenal di Magetan dan sekitarnya, Ustadzah Safa, semoga tidak salah menyebutkannya.

Seperti rencana semula, kami melanjutkan perjalanan ke kampung Temboro, kecamatan Karas kabupaten Magetan, yang sangat terkenal dengan pondok pesantren Al Fatah dengan santri puluhan ribu. Temboro dijuluki Kampung Madinah, karena dalam kesehariannya seperti kehidupan di kota madinah. Tujuannya, silaturahim ke keluarga Ustadz Abdurrahim yang sedang mukim di rumah anak pertamanya, sekaligus meninjau pondok yang sangat terkenal.

Setelah ngobrol motivasi, Ustadz Abdurrohim dan istri bersedia menemani kami masuk lebih dalam ke lingkungan pesantren.

Masyaallah. Pesantren ini memang bertaraf internasional, santri/watinya berasal dari berbagai negara, juga sering jadi tempat pertemuan para ulama dunia. Selain pesantren, tempat menimba ilmu agama, juga berbagai usaha berkembang di sana. Tempat pacuan kuda dan arena memanah, menjadi salah satu tempat yang ingin dituju pengunjung. Di sanapun sering jadi arena lomba.

Setelah melewati beberapa bangunan asrama, arena kuda dan masjid pusat yang sangat besar, kami memasuki area santri putri. Memang pesantren ini luas banget, lebih dari seratus hektar dan terus berkembang.

Saya tidak menemui pengurus untuk bersilaturahim dan mencari informasi. Pertama, ini kunjungan personal, kedua, khawatir mengganggu aktivitas mereka. Sengaja saya minta diantarkan masuk ke pondok putri, yang sebagian santri sudah mengenal Ummi Hasan. Saya diterima dan dipandu oleh santri senior yang sedang piket di meja resepsionis.

Wah! Memalukan! Saya ditegur dengan sopan, saat mengambil gambar lingkungan dalam pondok putri. Saya lupa, kebiasaan blogger, setiap ada kesempatan, mengambil gambar. Iya juga, sih. Wajah saja ditutup, hanya terlihat mata, masa internal tempat tinggal malah akan diekspos. Belum lagi, saat di lingkungan belajar, dengan pembimbing ustadzah, santri diperkenankan membuka cadarnya. Nah, kalau tertangkap kamera, terus terekspos, itu tentu sangat tidak elok.

Waktu ashar, jeda belajar. Benar-benar takjub, saat kami keluar dari komplek belajar asrama putri. Sejauh mata memandang, yang tampak lautan wanita berjubah hitam dan laki-laki bersurban putih. Ada yang berjalan kaki, berkendara roda dua, ada juga mobil angkutan yang membawa sebagian santri dan ustadzah yang tinggal di perumahan ustadz/ah, yang jaraknya berkilometer. Tentu lelah dan memakan waktu banyak jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Magetan, kota kaki gunung

Kami berpamitan, kembali ke rumah Sofi. Rencana, malamnya akan silaturahim ke Ma’had Aly Darul Wahyain di dukuh Ngrandu, Desa Sumber Agung,  kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur.

Anak ketiga Sofi, santri di sana. Karena sudah sangat dekat dengan pihak pondok, terkait beberapa amanah, maka kami bisa bertamu sewaktu-waktu tanpa melalui kantor, langsung ke asrama.

Nah! Niat hati mencari info tentang ma’had ini, malah diminta tausiyah. Yo wes, ngobrol-ngobrol dengan ustadzah dan para santri seniornya. Obrolan yang sangat akrab untuk ukuran orang yang baru bertemu. Apa yang menyebabkan kedekatan itu? Ruh yang sama, pegiat hafidzul qur’an, ditambah lagi saya sebagai blogger dan penulis buku. Itu ternyata wow banget bagi mereka. Ya sudah, sekalian motivasi urgensi menulis bagi seorang dai.

Anehnya! Saya sama sekali tidak ingat urusan cekrek-cekrek saat di dalam. Ketika keluar, baru ingat, biasanya foto di posisi yang ada tulisan nama tempat yang dikunjungi. Sayang, penyinaran untuk diambil fotonya kurang memadai, ya sudahlah, nyari di internet saja.

Sofi sudah merencanakan, besok pagi akan mengajak saya untuk terapi ceragem, kemudian mengunjungi beberapa pondok yang dilewati. Memang di Magetan, sangat banyak pondok pesantren, mungkin ada sekitar lima puluhan.

***

1 April 2019

“Jam berapa terapi ceragemnya buka?”

Sambil mengeluarkan motor, Sofi menjawab santai,”Jam berapa aja, tempatnya di rumah, sambil buka warung.”

“Helm cuma satu?” saya bertanya karena Sofi tidak meminjamkan helm.

“Wes, rapopo,” jawabnya, sambil memakai helm.

O ow! Kalau di rumah, ini masalah cukup berat. Bukan hanya melanggar aturan lalu lintasnya, tapi…anginnya, loooh!

Pagi yang dingin, tanpa helm, motor melaju dengan kencang. Walau berjaket, tetap saja dingin menusuk.

“Ojo ngebut-ngebut!”setengah berteriak, saya mengingatkan Sofi.

“Ora-ora, wes meneng wae!” Sofi malah menambah kecepatannya, menembus jalanan yang masih sepi. Duh! Benar-benar deh nenek satu ini.

Benar saja, sesampai di lokasi, sudah ada satu orang yang sedang terapi. Untunglah disediakan dua dipan, sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama.

Ibu paruh baya itu menyiapkan perlengkapan, menghangatkan batu giok yang akan digunakan. Kemudian beliau mengarahkan posisi saya, berbaring dengan meletakkan alat sesuai titik yang akan dikenai cahaya infra merah yang dipancarkan batu giok yang dipanaskan.

Tidak sampai setengah jam terapi selesai, ditambah sedikit pijat oleh terapis. Benar, setelah terapi, badan terasa nyaman. Pegal-pegal dan cape di badan hilang dan terasa lebih segar.

“Sarapan, yok!”

Wah, tentu saja ini ajakan yang tidak layak ditolak.

“Sarapan apa?” Saya bertanya, mengharapkan tawaran pilihan menu sarapan khas Magetan.

“Wes tho, pasti nggak kecewa.”

Baiklah, tuan rumah yang baik hati, tamunya ngikut aja.

Waaah, soto! Pagi-pagi sudah buka? Ooo, artinya soto termasuk menu sarapan di sini. Kalau di Lampung, menu sarapan yang sangat mudah didapat; nasi uduk, lontong sayur dan bubur ayam. Eh, ada juga nasi urap, tapi hanya di tempat tertentu. Sedang tiga yang lain, banyak ditemui di pinggir jalan.

Masyaallah! Porsi jumbo hanya 10.000! Mana berani tambah nasi? Menghabiskan sotonya saja tidak sanggup.

***

“Kemana lagi?” Saya tanya, saat meninggalkan warung soto.

“Yang terdekat dari sini ponpes Al Muslimun, kemudian pondok tahfidz Az Zahra.”

“Siap! Kuikut kemana pun kau membawaku.”

Dih! Lebay! Kami ngakak bersama.

Kami melanjutkan perjalanan. Sayang, sesampai di pondok Al Muslimun, proses belajar mengajar sudah berlangsung. Rencana masuk dan bersilaturahim dengan salah satu ustadzah, dibatalkan. Khawatir mengganggu, karena beliau sudah masuk halaqoh.

Kemudian kami lanjutkan ke pondok tahfidz Az Zahra. Sepanjang jalan, Sofi menunjukkan beberapa pondok pesantren yang dilewati, hanya menunjukkan tempatnya yang sebagian bangunannya terlihat dari jalan.

Di pondok Az Zahra, kami menemui salah satu ustadzah kamar, yang bersedia bercerita tentang proses belajar mengajar dan sebelum berpamitan, saya minta brosur sebagai salah satu bahan saat ada yang minta rekomendasi pondok untuk melanjutkan pendidikan.

Di jeda waktu menunggu ustadzah longgar, kami sempat ngobrol, rencana perjalanan saya ke Boyolali. Mempelajari rute yang mungkin sampai ke Boyolali. Dan yang paling mungkin adalah bis atau …kendaraan sendiri. Sofi pengen banget ke Boyolali, di pondok tempat dua anak saya belajar. Tapi…biaya bensinnya lumayan besar.

“Subhanallah! Kalau kendalanya hanya bensin, insyaallah saya yang beli.”

“Tenan, Mbak?”

“Tenan, lah!”

“Ya Allah, Alhamdulillah.”

Sofi girang banget, tanpa ditutup-tutupi. Bahagianya melihat teman bahagia.

Setelah dianggap cukup, kami segera kembali ke rumah, tanpa mampir-mampir. Hanya saja di beberapa tempat, motor berhenti dan Sofi menjelaskan tempat apa itu.

Sesampainya di rumah, Sofi menyampaikan ke suaminya akan perubahan rencana hari ini. Sofi sempat sedih.

“Mobilnya nggak kuat lewat puncak Lawu. Kalau lewat jalur biasa, waktunya banyak dan jauh.”

“Ada solusi lain?” Saya masih berharap tidak naik bis dan bisa jalan-jalan dengan keluarga yang sangat baik ini.

“Ada mobil tetangga yang biasa disewa.”

“Berapa?”

“Kalau sama kami biasanya 200 ribu, jadi kalau dengan bensin sekitar 400 ribu.”

“Lumayan banyak, ya?” Saya bergumam, sambil menghitung-hitung isi dompet.

“Nanti sebagian kami yang bayar.” Sofi agak ragu menjawab.

“Nggak usah, saya aja semua, insyaallah ada.” Saya tidak ragu lagi, setelah yakin dengan jumlah uang di dompet dan rencana perjalanan berikutnya. Ini kesempatan langka yang entah ada lagi atau tidak di lain waktu.

Setelah semua ok, Mas Ghofar ke tetangga pemilik mobil, saya berkemas, Sofi dan anak-anak menyiapkan bekal.

Masyaallah! Benar-benar karunia Allah yang sangat saya syukuri. Tidak menyesal meninggalkan keluarga beberapa hari, untuk mendapatkan banyak karunia di perjalanan kali ini.

Menikmati perjalanan melalui lereng dan puncak gunung Lawu. Sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, bahkan informasi tentang itu pun, tak ada. Hanya saja, kami hanya lewat di tempat-tempat yang indah, mengingat tujuan kami adalah Boyolali dan keluarga Sofi harus kembali hari itu juga. Agak disayangkan, karena rencana mendadak, jadi berangkatnya kurang pagi.

Udara dingin menyergap sesaat mobil mulai merayap di perut gunung. Pemandangan indah menghiasi kiri kanan jalan. Perkebunan bunga, sayur, strawberry dan rumah-rumah penduduk. Jalan yang berkelok-kelok tajam, sesekali membuat debaran jantung meningkat. Sedikit was-was. Tenang kembali saat mengingat Mas Ghofar sudah lama terbiasa membawa mobil, tidak diragukan lagi jam terbangnya.

“Tolong telurnya, perut sudah terasa kemasukan angin.” Saya minta diambilkan telur, sambil menekan perut yang sudah terasa ada yang mengganjal.

“Ada yang bawa minyak kayu putih?” Saya lupa, dimana menyimpan suncream.

Sofi sibuk mengupaskan telur, sigadis mencari minyak kayu putih, saya merapatkan jaket sambil menekan perut. Brrr! Dinginnya sampai membuat perut sedikit kram.

“Ini Mbak, gek ndang dimaem!” Sofi mengulurkan telur yang sudah dikupas. Saya tidak membantah, segera menghabiskan sebutir telur rebus. Alhamdulillah, berangsur masalah perut teratasi.

Magetan, kota kaki gunung

Pemandangan indah dengan udara sejuk dan segar di lereng gunung Lawu

Saya, Sofi dan dua gadis kecilnya berisik menunjuk-nunjuk tempat-tempat yang dilewati dan sibuk merekam gambar. Membuat video-video pendek. Untuk dinikmati saat di rumah.

Telaga Sarangan yang sangat terkenal, tidak nampak keindahannya, hanya saja Sofi menunjukkan arah keberadaannya. Tidak terlalu kecewa, walau tidak sampai ke sana. Bisa lewat sini pun sudah sangat bersyukur.

“Sholat dhuhur dimana, kita?” tanya sibungsu.

“Di masjid Isy Karima, kalau bisa sekalian meninjau pondoknya.” jawab Sofi, sesuai rencana sebelum berangkat.

Saat terdengar adzan, kami sudah hampir sampai di lokasi pondok pesantren Isy Karima, Karang Anyar. Nama pondok ini familiar, karena kenal beberapa alumninya, salah satunya Ustadz Asep Maulana, mudir di PPTQ Abi Ummi, tempat Hany dan Husna belajar. Hal yang  menarik, kualitas tahfidz alumninya sangat baik, sebagian sudah bersanad. Karena memang, di sini, beberapa ustadznya bersanad. Dan setelah ngobrol dengan resepsionis yang bertugas, ternyata pondok ini termasuk sangat pesat perkembangannya. Ditilik dari usia berdirinya yang belum terlalu tua.

Magetan

Mampir di pondok Isy Karima untuk sholat dhuhur

Setelah dianggap cukup mendapatkan informasi tentang program pondok, kami melanjutkan perjalanan ke Boyolali. Resepsionis berbaik hati memberi saya brosur dan kalender akademik pondok untuk dipelajari.

“Mau makan dimana, kita?” tanya Sofi.

“Sudah lapar banget, belum?” saya balik bertanya.

“Belum, sih.”

“Kalau nggak dapat tempat bagus, kita makan di pondok aja, di sana banyak gazebo yang boleh kita gunakan.”

Magetan, kota kaki gunung

Menanti Hany dan Husna dipanggilkan

Sampai PPTQ Abi Ummi, kami tidak menemukan tempat makan yang sesuai, dan lagi sepanjang jalan, sering bertemu hujan lokal di beberapa tempat.

Agak lama menunggu sampai bertemu Hany dan Husna, memang sedang jam belajar.  Sambil menunggu, kami makan bekal yang tadi dibawa. Setelah sholat ashar, baru kami bertemu.

Setelah ngobrol seperlunya, Hany membawa tas pakaian saya ke asrama, kemudian kami diajak silaturahim ke rumah Ustadz Asep, karena ada yang akan ditanyakan Sofi kepada beliau, terkait program belajar anaknya.

Masyaallah, pertemuan yang insyaallah berkah. Sekali mendayung, beberapa pulau tergapai. Tujuan saya ke pondok, berkaitan dengan masa berahirnya masa pengabdian Hany, sedangkan Sofi sedang mencari tempat yang sesuai untuk kelanjutan program belajar anaknya.

Sore harinya, Sofi dan keluarga berpamitan kembali ke Magetan sedang saya diizinkan menginap di asrama sampai besok, kembali ke Jogja.

Malam, saya diizinkan bermalam di ruang UKS, ditemanu Hany sebagai ustadzah pengabdian, sedangkan Husna tetap mengikuti halaqoh sesuai jadwal. Sebenarnya, tidak ada fasilitas menginap bagi orang tua, tapi saya mendapat dispensasi, mungkin karena tempat tinggal saya jauh dan tidak bisa mengunjungi anak sesuai jadwal, sebulan sekali. Pertemuan singkat ini menjadi ajang kangen-kangenan plus rapel motivasi dan ajang curhat.

***

2 April 2019

Hari ini saya harus kembali ke Jogja, karena besok dijadwalkan mengisi kajian di MIT Sahabat Qur’an Ibnu Mas’ud, di Godean, Sleman, Yogyakarta.

Dari pagi Hany mencari travel online ke Jogja, karena agak repot kalau mau naik bis. Harus ada yang mengantarkan ke terminal. Sayangnya, belum ada respon, karena kantor travel aktif jam 8 pagi.

Magetan, kota kaki gunung

Berpamitan, Husna tambah tinggi

Alhamdulillah, ada travel jam 9 pagi ke Jogja. Namun, mereka keberatan kalau menjemput di lokasi dan mengantar sampai ke rumah. Akhirnya di sepakati, titik jemput di minimarket di pasar Ampel dan titik antar di pertigaan blok O. Nah, urusan transfer pun masih dari Bandarlampung, karena mobile banking belum aktif di hp yang memang baru beli sebelum berangkat ke Jogja kemarin. Setelah semua ok, Hany segera mencari pinjaman motor ustadz untuk mengantarkan saya ke titik penjemputan.

Alhamdulillah, ontime! Saat penjemputan maupun sampai di Jogja, sesuai perkiraan. Lancar.

Menjelang dhuhur saya sampai di rumah kakak.

***

3 April 2019

Dari pagi saya sudah packing semua barang. Jadwal mengisi kajian. Sebelum jam 9 saya sudah harus sampai sana. Tanya kakak, belum pernah ke alamat tersebut. Akhirnya saya ngoprek google maps, memperkirakan waktu tempuh dengan grabcar. Waktu harus diperhitungkan dengan cermat. Sebelum jam 9 sudah harus sampai lokasi, sebelum dzuhur harus meninggalkan lokasi karena sore jadwal terbang ke Lampung.

Alhamdulillah, semua dimudahkan. Dalam perjalanan kali ini, waktu benar-benar bisa diefektifkan. Semua yang direncanakan terwujud, bahkan ada bonus-bonus tak terduga yang Allah berikan. Masyaallah.

Add Comment