Market Day SDIT PB1

Market day! Mungkin di masyarakat tradisional dikenal dengan nama hari pasaran.

Di daerah tertentu masih berlaku, seperti di pasar tradisional kecamatan tempat saya tinggal, hari Kamis dan Minggu, sedang di pasar kelurahan, Selasa dan Jum’at. Biasanya hanya buka dari pagi sampai siang atau siang sampai sore. Sebenarnya, hanya sebutan saya saja menggunakan wilayah, karena itu yang paling dekat dengan rumah. Bisa jadi, di kecamatan lain, berbeda.

Market Day, sudah menjadi salah satu program di beberapa sekolah, baik tingkat TK, SD, SLTP, mungkin juga SLTA. tentu saja disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Kemarin, hari Kamis, 5 Oktober, jadwal market day kelas 2 di sekolah Harish, setelah sebelumnya kelas lain.

Anak-anak ditugaskan membawa makanan dan minuman yang akan dijual sebanyak 10 setiap orang, kalau memungkinkan buatan anak dan orang tuanya. Harga jual maksimal 2000 rupiah.

Tujuan dari program ini adalah menanamkan konsep nilai uang dan kewirausahaan sejak dini.

Rencana semula, Harish mau membuat roti dengan Mas Hilmy, karena kakaknya itu telah berkali-kali membuat dan sukses. Sayang, saat hari yang ditentukan, ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.

Pagi hari, saat bangun tidur:

Harish : Umi, gimana, Harish jadi jualan apa?

Umi : Maaf, ya, kemarin seharian Umi banyak agenda, Mas Hilmy, yang katanya siap buatin roti, ada acara juga. Untuk jualannya, kita beli kue yang sudah jadi, ya?

Harish : Emang boleh kita beli terus dijual lagi?

Saya : Bolehlah, tuh Bude sayur, kan dagangnnya beli semua di pasar, terus di jual di warung.

Harish : Tapi ngomong dulu, geh, sama Bu Guru.

Saya : Sudah, boleh kok sama bu guru.

Harish : Tapi Harish malu, nanti dilihat Umi waktu jualan.

Saya : Jualannya jam 09.30, Umi ngisi kelas inspiratifnya cuma sampe jam 9. Kalau malu, ya sudah, Umi nggak liat, langsung pulang aja.

Harish : Mau beli kue, apa?

Saya : Harish mau jualan apa? Martabak mini atau donat? Atau Umi buatin perkedel jagung?

Harish : Martabak mini.

Qodarullah! Saat saya ke warung, ternyata martabak mini belum diantarkan. Mau menunggu, khawatir terlalu lama, sedangkan untuk sarapan belum selesai. Saya putuskan pulang dulu, nanti sambil berangkat sekolah, mampir ke warung. Sayangnya, saya tidak pesan minta disisihkan, karena masih ragu juga, diantar atau tidak.

Harish : Mi, beli roti yang lewat aja.

Saya : Harganya berapa?

Harish : 3000.

Saya : Kan jualnya paling mahal harga duaribu?

Harish : Ya dijual 2000.

Saya : Itu  bukan jualan, tapi sedekah.

Harish : Kan nggak apa-apa sedekah, malah berpahala.

Saya : Iya, tapi untuk hari ini, di market day, Harish dan teman-teman belajar jual beli. Orang jualan itu mencari untung, jadi menjualnya lebih mahal dari harga belinya.

Harish : Ya nggak apa-apalah.

Saya : Kalau dengan jualan nggak dapat untung, tidak ada yang mau berjualan, sudah cape, nggak dapat uang.

Harish : Harish nanti dapat uang, ya?

Saya : Dapat, kalau jualannya laku.

Sebelum berangkat, Abi Harish ke warung, ternyata martabak mini habis, tinggal kue-kue jajanan pasar. Alhamdulillah, di warung kelontongan dekat masjid, masih ada bolu.

Harish : Dijual berapa, Bi?

Abi : Belinya seribu, dijual seribu lima ratus.

Saya : Nggak kemahalan, Bi?

Abi : Nggak apa-apa, kan masih di bawah 2000.

Saya : Dua ribu lima ratus dua aja, biar nggak terlalu jauh dari harga warung. Eh, tapi susah ya kembaliannya, kalau belinya satu.

Abi : Nggak apa-apa, namanya belajar.

Saya : Ya sudah, jual 1500 ya, kalau laku semua nanti Harish kembalikan uang Abi 10.000, sisanya untuk Harish.

Harish : Kalau Harish pengen makan kuenya?

Saya : Boleh ambil dua, tapi tetap kembalikan uang Abi 10.000, artinya Harish mengambil untung berupa barang.

 

Alhamdulillah, keluar dari kelas inspirasi melihat Harish dan teman-temannya sedang menyiapkan lapak.

Saya : Mana, Rish,jualannya?

Harish : Ini, belum dibuka, belum boleh mulai.

Saya : Oo, ya sudah, Umi ke atas dulu.

Saya ke ruang rapat, untuk membicarakan terlaksananya program kelas inspirasi.

Alhamdulillah, berkesempatan menyaksikan wajah-wajah dengan berbagai ekspresi dari anak-anak yang sedang memerankan peran sebagai penjual dan pembeli.

Ternyata, obrolan dengan Harish di rumah, melampaui targetan program belajar, yaitu sebatas menjadi penjual danmpembeli yang baik untuk kelas 1 sampai 3, belum sampai hitung-hitungan untung rugi. Begini deh kalau kurang ngobrol. Maaf,nya, Bu Guru.

Add Comment