Meet with The Editors Gramedia Publishers

Meet with The Editors GWRF
Perpusnas, 7 April 2018

Kelas pertama yang saya pilih adalah Meet with The Editors, Sabtu 7 April 2018 di ruang serbaguna lantai 4 Perpusnas. Ini salah satu rangkaian acara Gramedia Writers and Riders Forum setelah pembukaannya.

Tidak tanggung-tanggung, 6 orang editor dari penerbit yang tergabung di grup Gramedia ditampilkan dalam satu panggung. Mereka mewakili beberapa genre buku yang diterbitkan oleh perusahaannya.

Yang pertama, Mirna, editor sastra dari GPU, Gramedia Pustaka Utama. Dalam sebulan, GPU menerbitkan rata-rata 4 buku sastra. Menurut Mirna, kesalahan umumpada penulis pemula adalah penulisan kata hubung, di, ke, pun. Buat editor meleleh di paragraf pertama, pilih kalimat yang membekas di imajinasi pembaca.

Kedua, Hera yang mengeditori buku-buku pelajaran, baik berupa buku tes untuk latihan ujian maupun buku teks sebagai sumber utama mata pelajaran.

Ketiga Andria, editor buku-buku nonfiksi dari Penerbit Grasindo. Prinsip dasar untuk buku nonfiksi adalah buku sebagai penyampai ilmu, sehingga harus valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

Keempat, Agnes, editor buku anak dari Elex Media Komputindo, menurut data, ternyata 30% omset toko buku berasal dari buku anak. Untuk jenis buku anak, harus sensitif dari sisi gambar, isi bahkan tanda baca.

Kelima, Damar, juga editor buku anak. Beliau memberi bocoran, buku anak yang banyak dicari biasanya berisi tentang kecerdasan sosial, pergaulan dan sesuatu yang harus dipahami anak. Buku anak terbit biasanya sesuai moment, misalnya menjelang masuk sekolah atau Ramadhan.

Yang keenam, Tika, editor komik dari penerbit MNC. Penulis komik ditantang untuk sanggup menghasilkan karya dalam waktu panjang, berjilid-jilid.

Dari keenam narasumber yang menjelaskan masing-masing bidangnya, saya merasa lebih terbuka lagi wawasan tentang penulisan buku dan tentu saja menambah semangat untuk lebih serius menjalaninya.

Jujur, beberapa waktu terakhir ada semacam kegalauan untuk meneruskan langkah di bidang menulis buku, mengingat begitu antusiasnya para penulis baru melahirkan buku-bukunya, sedang penulis lama tidak berhenti berproduksi, tetapi di sisi lain ada isu yang mengatakan minat baca buku masyarakat menurun. Hal ini diperkuat dari hasil penelitian tentang minat baca yang menempatkan bangsa Indonesia di urutan ke 61 dari 63 negara yang diteliti, sungguh miris.

Belum lagi minat generasi milenial yang lebih suka membaca dari android dibandingkan buku, karena lebih praktis dan murah, tidak harus membeli dan mengoleksi buku. Apalagi saat melirik dua lemari buku besar di rumah yang penuh buku-buku berkualitas, hati serasa menciut! Khawatir buku yang saya terbitkan yang membaca hanya hitungan ratusan, seperti buku-buku yang saya terbitkan secara indie.

Tetapi, saat membaca kegigihan para penulis sukses, saya jadi belajar banyak, bahwa menjadi penulis bukan pekerjaan mudah apalagi instan. Butuh waktu, kegigihan dan istiqomah dalam menitinya. Apalagi yakin dengan apa yang kita tuliskan adalah sebuah ajakan kebaikan, selalu ada harapan, ada dari pembaca yang terinspirasi dan mengikuti ajakan itu dalam kehidupannya. Nah! Itu motivasi terbesar!

Meet with The Editors memberi gambaran dan informasi untuk memperbaiki langkah-langkah dalam kepenulisan agar karya kita lebih banyak yang menerima dan menyukainya.

Kantin Perpusnas di lantai 4, menyediakan makanan berat, ringan dan berbagai minuman

Hmm, setelah kelas pertama, kami menyempatkan makan di kantin yang terletak di lantai 4 juga, sambil ngobrol dengan sesama peserta dari beberapa daerah yang selama ini kenal di dunia maya.

Add Comment