Membandingkan Amal

Bulan Ramadhan, hampir saja berlalu. Masih tertahan beberapa saat untuk direnungkan sebelum dia benar-benar lenyap!

Mungkin kita termasuk orang-orang yang menyesal karena tidak maksimal dalam menjalaninya.

Atau pura-pura menyesal?

Mungkin kita menangis meratapi kepergiannya.

Atau menangis dramatis karena renungan sejenak?

Mungkin kita menghitung-hitung amal yang ternyata hanya sedikit, tak sebanding dengan rencana dan targetan yang dibuat sebelum memasuki bulan mulia ini.

Atau justru lega karena segera bebas dari belenggu?

Masih adakah kesempatan berikutnya?

Mau bagaimana lagi!

Tangisan darah pun tak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu.

Dalam beramal di bulan Ramadhan, kadang kita hanya fokus dengan satu jenis amal, misalnya khatam tilawah Al Qur’an. Kemudian kita membandingkan dengan orang lain.

Hasilnya?

Kadang kita bangga jika bisa khatam lebih sering, tapi bisa jadi merasa sangat kecewa dengan diri sendiri karena merasa paling terseok-seok.

Hmm, benarkah amal istimewa di bulan Ramadhan hanya tilawah banyak-banyak?

Apakah amalan lain tidak dicatat malaikat?

Bisa jadi seseorang hanya sekali khatam tilawah selama Ramadhan, tetapi dia membaca tafsir 1 juz, atau menambah hafalan beberapa halaman, atau membaca terjemah Al Qur’an beberapa juz, atau membaca siroh nabi dan sahabat, atau membaca buku-buku yang menghaluskan jiwanya, atau mengajarkan Al Qur’an, atau menerima setoran hafalan di pesantren tahfidz Ramadhan, dll.

Ketika kita mengutamakan memperbanyak tilawah di bulan Ramadhan, dasarnya adalah mengikuti sunnah Rasul, mengikuti kebiasaan para ulama salaf, yang tentunya bacaannya sudah benar sesuai kaidah. Nah, bagaimana dengan yang baca qur’annya masih terbata-bata? Lebih utama mana belajar iqro’ atau tahsin dibandingkan dengan mengejar banyak-banyakan tilawah dan khatam qur’an tapi dengan cara baca yang banyak salah?

Menjalani ibadah tidak melulu secara emosional.

Allah memberi kesempatan kita untuk beribadah dengan menyediakan begitu banyak cara dan jalan, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing hamba-Nya.

Ada yang memang bisa dan sanggup tilawah selama sebulan Ramadhan hingga 10 kali khatam, tetapi ada juga yang sangat bersyukur dengan sekali saja khatam.

Ada yang merasa sangat butuh mendahulukan tadabur, baik dengan membaca terjemah Al Qur’an, tafsir atau buku-buku yang mendukung, sehingga waktu dan kesempatannya untuk tilawah berkurang. Bahkan ada yang mengkhususkan diri belajar tahsin kemudian mempraktekkannya, sehingga butuh waktu lebih lama untuk mengkhatamkannya.

Ada juga yang fokus menghafal, sehingga tilawahnya tidak maksimal.

Ada yang merelakan diri mengajarkan Al Qur’an, karena biasanya kesadaran masyarakat belajar Al-Qur’an meningkat di bulan Ramadhan.

Hmm, sebenarnya apa yang kita cari dari ibadah-ibadah itu?

Pahala?

Peningkatan ilmu dan pemahaman?

Peningkatan keimanan dan ketaqwaan?

Allah Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bijaksana.

Kita yang tahu seberapa kapasitas diri, maka lakukan yang terbaik untuk menggapai ridho-Nya.

Membandingkan bukan denganmorang lain dengan kapasitas berbeda, tetapi dengan diri sendiri di waktu-waktu sebelumnya.

Celakalah orang yang hari kemarin lebih baik dari hari ini.

Merugilah orang yang kemarin sama dengan hari ini.

Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari yang telah dilaluinya.

 

 

 

One Response

  1. Yandigsa June 22, 2017

Add Comment