Membangun Peradaban Bersama Al Qur’an

19 Nopember 2017

Alhmdulillah! Acara inti baru di mulai.

Saya sudah menyiapkan waktu untuk menghadiri acara tabligh akbar hari ini, sejak jauh-jauh hari, sampai akhirnya kemarin sore, pembina Yayasan Ayo Bangun Indonesia memutuskan, mengadakan rapat dadakan ba’da subuh pagi ini, karena ada bahasan mendesak.

Rapat selesai jam 8 pagi.

Saya harus mempersiapkan diri, karena hari ini akan ada acara sampai malam hari, sehingga  sampai di tempat acara, Masjid Ad Dua, sudah hampir jam sepuluh.

Memasuki gerbang masjid, moderator memperkenalkan nara sumber, lamat-lamat saya dengar saat memarkir motor.

Ruang bawah sudah penuh, panitia menunjukkan tangga untuk ke ruang atas. Masyaallah,nternyata masyarakat antusias dengan acara ini.

Alhamdulillah, tempatnya masih banyak yang lowong, walaupun tidak ada lagi tempat kosong di pinggir pagar pemisah, yang bisa melihat langsung pembicara.

Ah! Tak apalah, sound systemnya bagus, di posisi manapun suara narasumber akan terdengar.

Tapi bukan blogger, kalau tidak berusaha mendapatkan gambar😁😁, yaaa…

“Permisi…maaf Bu, mengganggu sebentar, saya mau ambil foto.”😊😊😍😍

“Ooo, silakan.”

“Terima kasih.”

Cekrek…cekrek…cekrek, beres.

Selanjutnya cari posisi untuk nyimak.

Ustadzah Amirotun Nafisah MA. Al-Hafidzoh
Pembicara dari Jakarta, seorang penghafal qur’an, 6 orang anaknya semua penghafal qur’an, dan segudng kegiatan yang bermanfaat untuk umat.
Mari kita simak ringkasan penjelasannya, karena saya tidak mencatat kisah-kisah yang menyertai setiap poin-poin materi yang diberikan.
Bagaimana cara mewujudkan peradaban yang berlandaskn Al Qur’an?
Ada tahapan-tahapan yang harus dilakui sebelum cita-cita besar itu terwujud.
1. Meyakini dan mengimani Al Quran.
Mengimani bahwa Al Qur’an adalah firman Allah, pesan-pesan Allah pada manusia, sebagai bekal dan petunjuk dalam menjalni kehidupannya di dunia. Juga berisi informasi tentang segala hal yang menyangkut kehidupan baik dunia maupun akhirat. Tanpa iman, hal itu sulit, karena tidak semua hal bisa dinalar oleh manusianyang sangat terbatas akal pikirannya.
Al Qur’an adalah kitab pegangan terbaik, yang:
** diturunkan dengan perantara malaikat terbaik (Jibril as)
** diturunkan dengan bahasa terbaik (Arab)
**diturunkan kepada nabi terbaik (Muhammad Saw.)
**diturunkan di malam termulia (Lailatul qodr)
**di bulan terbaik (Ramadhan)
**diturunkan di kota terbaik (Mekah)
**diturunkan untuk umat terbaik (Muslim)
2. Mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an
Sebaik-baik manusia adalah yang mau mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an. Allah telah berjanji, bahwa Al Qur’an mudah dipelajari bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan siapa-siapa yang dikehendakinya, terkait dengan keimanan dan kesungguhannya.
Utsman bin Affan : Jika hati suci, maka tidak akan pernah kenyang dengan Al Qur’an. Para shalafus sholeh selalu merindukan untuk dekat dengn Al Qur’an. Ketika mereka membaca surat Al Baqoroh, mereka sudah rindu dengan Ali Imron, saat membaca surat Ali Imron, mereka rindu surat An Nisa, dst.
Banyak pilihan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an:
1. Dengan lisan : tilawah
2. Dengan akal : memikirkan
4. Dengan hati : merenungi
4. Seluruh tubuh kita : mengamalkannya.
3. Mentarbiyah/ mendidik diri dan keluarga dengan Al Qur’an, jadikan Al Qur’an sebagai kurikulum, agar diri dan keluarga kita menjadi manusia sholeh yang ridho dengan aturan Allah, dan diridhoi-Nya.
4. Mengajak lingkungan untuk mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an.
Sholih secara pribadi tidaklah cukup untuk menciptakan masyarakat yang diberkahi-Nya, karena Allah akan memberikan keberkahan untuk sebuah negara yang masyarakatnya beriman dan bertaqwa.
Di sinilah peran kebaikan manusia berikutnya, mengajarkan Al Qur’an.
Mengajarkan Al Qur’an, bukan sebatas mengajar membaca Al Qur’an, tetapi mendakwahkan Al Qur’an dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan, menjadikan masyarakat qur’ani, bangsa yang hidup berlandaskan keimanannya pada Al Qur’an dan pengamalannya.
Hafidzul Qur’an, penghafal Al Qur’an adalah orang-orang yang sangat istimewa, mereka masuk dalam keluarga Allah dibumi yang bertugas menjaga kemurnian Al Qur’an.
Nasihat untuk calon penghafal AlQuran:
1. niat yang ikhlas, karena diterimanya amal sholeh adalah yang dilandasi niat yang ikhlas karena Allah, menggapai ridho-Nya, apalagi seorang penghafal Al Qur’an.
2. Merasakan kedahsyatan al qur’an.
Al Qur’an adalah bacaan mu’jizat, yang hanya akan dirasakan kedahsyatannya oleh orang-orang yang beriman dan berinteraksi dengannya. Seorang penghafal Al Qur’an,mpasti secara intensitas interaksi dengan Al Qur’an jauh lebih banyak dibanding yang tidak menghafal.
3. Tinggalkan maksiat, karena kemuliaan tak mau berkumpul dengan kemaksiatan dalam jiwa seorang manusia.
Pertanyaannya, di barisan manakah kita dalam berinteraksi dengan Al Qur’an?
Alhamdulillah, sempat menambah kenalan dari peserta dan saling tukar nomor kontak, karena ke depan sepertinya ada peluang untuk bersinergi dalam upaya dakwah qur’an di masyarakat.
Juga bertemu seorang sahabat SMA, yang sekian tahun tidak pernah bertemu.
Indahnya silaturahim😊

4 Comments

  1. Ade UFi November 21, 2017
    • nenysuswati123 November 21, 2017
  2. reza November 21, 2017
    • nenysuswati123 November 22, 2017

Add Comment