Memberi Peluang Potensi Anak Berkembang

“Mi, minta tolong gadisnya ngaji di pengajian ibu-ibu, nggih?” Seorang tetangga kelurahan menelpon.

“Gadis yang mana?”tanya saya, soalnya punya gadis tiga.?

“Yang waktu Ramadhan ngaji di pengajian ibu-ibu.”

“Oo, Hany, kalau sekarang nggak di rumah, sedang belajar di pondok. Ramadhan kemarin sedang liburan.”

“Yang lain?”

“Husna sekolah, pulangnya sore, ada Hafa, tapi belum gadis banget, apa nggak komplein nanti, ibu-ibunya?”Saya pernah mendengar komplen dari sebagian ibu-ibu, katanya, pengajian ibu-ibu, kok yang tilawah anak-anak.

“Mboten nopo-nopo, malah bagus, soalnya bersamaan dengan pembagian santunan ke anak-anak yatim, siapa tahu mereka termotivasi untuk menghafal qur’an juga, kalau yang ngaji anak-anak penghafal qur’an.”

***

Itu salah satu cara kami memberi kesempatan kepada anak-anak untuk meningkatkan kepercayaan dirinya tampil di depan umum.

Tampil sekali, demam panggung. Dua kali, masih. Tiga kali, masih. Setiap anak-anak butuh waktu dan intensitas berbeda-beda untuk bisa tampil anggun di panggung tanpa demam.

Pentingkah kemampuan dan kepercayaan diri tampil di depan umum?

Sebagai orang tua, kita tidak tahu, beberapa tahun mendatang anak-anak kita akan jadi apa, mendapat amanah apa. Apa salahnya kita siapkan mereka dengan bekal yang memadai?

Pengalaman sebagai guru TPA, kami membuktikan hal itu. Di masyarakat, walaupun kedudukan/ketokohan mereka tidak terlalu penting, tapi kemampuan tampil di panggung, sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Semakin banyak skill yang dimiliki, semakin banyak kemanfaatan yang bisa mereka berikan di masyarakat.

Selama ini Hafa tampil baru sebatas panggung di sekolah dasar, atau misalmadanevent di luar sekolah,nbersama teman dan gurunya, sedang kakaknya sudah terbiasa mengikuti beberapa panggung dan event di luar panggung sekolah.

Untuk di awal, masih perlu saya temani, kecuali saat ada teman lain yang juga tampil.

“Bawa qur’an kecil, nanti kalau ada yang lupa sedikit, baca aja nggak apa-spa, ini bukan lomba.”

Dan benar saja, saat tampil tidak mengucsakan salam, langsung ta’awudz, saya pun tidak nengingatkan sebelumnya.

***

Di kecamatan kami, biasanya setiap majelis ta’lim mengadakan pertemuan setiap pekan, atau dua pekan sekali. Kemudian diadakan pertemuan sebulan sekali dengan mengundang seluruh MT sekelurahan.

Pada acara bulanan ini, panitia menyelenggarakan acara yang agak besar. Untuk masjid ukuran sedang, biasanya penuh dengan jumlah peserta sekitar 200an orang.

Acara tabligh dengan mengundang seorang ustadz/ah dari luar lingkungan untuk memberikan ceramah.

Sebenarnya sayang, jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Memberikan kajian yang terstruktur. Walau sebulan sekali, bisa berpengaruh positif jika bahan kajian terkelola drngan baik.

Cat:

Nggih = ya

Mboten nopo-nopo = tidak apa-apa

Add Comment