Membersamai Tim Asesor BAN-PAUD

tim asesor ban-paud visitasi ke desa goras jaya-bekri-lamteng

Membersamai Tim Asesor BAN-PAUD

Rabu, 25 Juli 2017

Ba’da sholat Subuh, saya bersiap berangkat menemani suami ke daerah kabupaten Lampung Tengah, tepatnya di desa Simpang Agung kec. Seputih Agung untuk melakukan visitasi tim asesor BAN-PAUD

Setelah memberikan arahan pada Hafa terkait urusan konsumsi santri rumah tahfidz, menanyakan persiapan Harish, sekitar jam setengah enam, kami berangkat, mengendarai avanza rentalan. Menjemput Bu Ria, partner asesor  BAN-PAUD yang bertugas berpasangan dengan suami.

“Satpamnya ganti,” kata suami, saat saya bersalaman dengan Bu Ria.

“Yang ini lebih galak,  lho,” saya menimpali candaannya.

Ya, dalam perjalanan sebelumnya, saya sedang ada acara yang harus diikuti dan beberapa amanah yang wajib ditunaikan, sehingga minta tolong Hafa menemani.

Mengapa harus ditemani?

Ups! Bukan…bukan cemburu, kami sudah sangat saling percaya, hanya saja, harusnya memang seperti itu. Selagi mampu, tidak membiarkan dua orang laki-laki dan perempuan dewasa hanya berduaan, walau pun sedang menjalankan tugas negara.

Yaa, sekalian jalan-jalan.

Kalau tidak mengukuti perjalanan ini, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah mendatangi desa Simpang Agung, bahkan mendengar namanya pun baru kali ini.

Desa Simpang Agung masuk kecamatan Seputih Agung, kabupaten Lampung Tengah.

PAUD yang akan di visitasi oleh tim asesor adalah TK LPMK Simpang Agung.

Tim asesor dibentuk oleh pemerintah, menghimpun tenaga kompeten di bidangnya. Harapannya, kualitas lembaga pendidikan di Indonesa memenuhi standar merata di seluruh wilayah.

Aaah, saya tidak akan membicarakan seluk beluk kerja asesor. Biarlah tim bertugas dengan tenang dan profesional sesuai SOP yang ada.

Hmm, masih dua hari lagi, tapi besok saya tidak bisa menemani, ada agenda yang tidak bisa digeser. Biarlah besok giliran Hafa ikut jalan-jalan, lepas dari rutinitas pondok, sudah ada yang diincarnya, komik Muhammad Al Fathih seri 3.

***

membersamai tim asesor ban-paud

Saluran air di persawahan Bekri, berbeda dengan saluran air umumnya di Lampung

Jum’at, 27 Juli 2018

Kembali, perjalanan visitasi tim akreditasi berangkat pagi. Anak-anak dan santri sudah diberi amanah untuk hari ini, saya menemani suami dan Bu Ria. Hari ini ke kampung Goras Jaya, kecamatan Bekri, masih kabupaten Lampung Tengah.

Kondisi alam yang dilewati tidak terlalu beda dengan kunjungan Rabu lalu. Sebagian kondisi jalan yang brenjol-brenjol, lumayan membuat tulang pinggang mendesah manja. Tetapi jarak tempuh dari Bandarlampung lebih dekat. Ada yang berbeda di sepanjang persawahan yang kami lalui dibanding dengan yang selama ini saya lihat, yaitu model saluran air untu mengairi sawah. Biasanya dibuat saluran air di tanah dengan menggali sejenis parit, tetapi di Bekri di bangun di atas tanah melebihi tingginya tananam padi.

Perjalanan agak santai, sebelum masuk, masih sempat rehat sebentar untuk sholat Dhuha di masjid sebelum pasar Wates.

“Kami sudah di jalan masuk, kemudian gimana, Bu?” Bu Ria berkordinasi dengan kepala PAUD yang akan dikunjungi.

“Lurus aja, sekitar 5 kilometer.”

Baiklah, jalan lurus sekitar 5 km.

Avanza yang kami tunggangi melonjak saat melewati jalan yang berlubang, dan itu…sering ditemui. Belum menempuh jarak 1 km, kami sudah bertemu dengan pertigaan, yang sulit menentukan cabang mana yang masuk kriteria “lurus”, seperti yang dikatakan tuan rumah.

Hmm, dari pada harus putar arah kalau salah ambil jalan karena jalan tidak begitu lebar, suami turun, bertanya pada salah satu penduduk yang pintu rumahnya terbuka.

Kenapa tidak menggunakan Google Maps? Nah! Itu masalahnya! GM tidak merespon, padahal sinyal internet, ada, walaupun berkedip-kedip genit.

Dan ternyata…pertigaan dan perempatan, sering kami temui. Okelah, nggak masalah, karena penduduk yang kami tanya selalu menjawab dengan ramah.

Haaa, saat sampai di lokasi, setengah bercanda kami membahas masalah itu.

“Piye tho, Bu, jare lurusssss, lha bolak-balek ketemu pengkolan, ki?” canda Bu Ria.

“Ngapuntene, maklum teng ndeso, he he he.”

Seperti kunjungan sebelumnya, saya membantu sekedarnya, setelah itu mencari posisi ternyaman untuk membuka laptop. Di sini hawanya terasa lebih sejuk dibandingkan dengan Simpang Agung, ah, mungkin hanya perasaan saya saja.

Saya agak lumayan banyak ngobrol dengan guru-gurunya, kebanyakan senior, dari awal berdirinya PAUD ini. Mendengar cerita perjuangan mereka mendidik anak-anak di usia dini. Yaaah, secara kualitas dan daya dukung fasilitas, tentu jauh beda dengan yang di perkotaan. Salut untuk pejuang pendidikan di pedesaan yang minim fasilitas dan apresiasi. Semoga dengan akreditasi ini, ada upaya lebih baik lagi untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diselenggarakan.

***

mendampingi tim asesor ban-paud

Penyambutan tim asesor BAN-PAUD

Selasa, 28 Agustus 2018.

Kembali, suami mendapat tugas untuk visitasi, kali ini di daerah Lampung Timur.

Ini hari pertama dari 6 hari tugas visitasi ke daerah ini, semoga saya bisa mendampingi suami dan Ibu Hera dalam melaksanakan tugasnya. Kali ini suami menyewa Xenia untuk mengunjungi 6 PAUD yang lokasinya berpencar-pencar.

Beruntung, di 4 hari pertama saya ditemani Bu Endang, sekretaris himpunan PAUD daerah tersebut untuk mengunjungi tempat-tempat unik. Awalnya tidak sengaja, saat saya mendapat notifikasi dari google maps untuk menambahkan nama vihara di dekat lokasi.

membersamai tim asesor ban-paud

Pura

“Di sekitar sini ada vihara?” tanya saya.

“Oh, ada, nggak jauh dari sini,” spontan Bu Endang menjawab.

Setelah sholat dzuhur, beliau mengantarkan saya ke vihara yang dimaksud. Saya ragu untuk memasuki gerbang, mengingat ini tempat ibadah, tempat yang disakralkan.

“Boleh nggak, ya, orang umum masuk?”

“Yok kita tanya teman saya, rumahnya nggak jauh dari sini?” cepat Bu Endang menjawab.

Segera kami menuju rumah teman beliau yang juga guru PAUD, seorang penganut Hindu. Beliau mengatakan boleh dan siap menemani, tetapi saat menuju ke tempat itu, beliau mampir ke salah satu rumah.

“Mungkin pengurusnya,” komentar Bu Endang.

Seorang bapak setengah tua yang ramah, mempersilakan kami masuk. Benar, beliau salah satu pengurusnya.

“Saya boleh foto di sini, Pak?” sedikit ragu saya memegang-megang bangunan indah itu.

“Monggo, silakan.”

Saya berusaha sangat berhati-hati dalam bersikap, selalu izin dan bertanya saat akan melakukan sesuatu.

Malamnya, saat saya upload foto di IG, ada yang mempertanyakan, vihara atau pura?

Ups! Bahkan saya lupa pelajaran SD. Segera saya konfirmasi ke Bu Endang, dan sadarlah beliau bahwa yang saya maksud vihara tidak sesuai dengan apa yang ada di benaknya, pura atau pure! Karena yang terdekat dan terlihat, ya pure.

Bu Endang berjanji, besok akan mengantarkan saya ke vihara yang sesungguhnya, bukan pura rasa vihara.

***

membersamai tim asesor ban-paud

Vihara di Rajabasa Lama 1, Labuhan Ratu, Lamtim

29 Agustus 2018.

PAUD kedua yang dikunjungi masih satu kecamatan dengan yang kemarin. Suami dan Bu Hera bertugas dibantu pengrus dan guru-guru.

Sesuai janji, Bu Endang segera mengajak saya ke vihara, tapi sebelumnya bersilaturahim ke rumah teman saya yang tinggal tidak jauh dari lokasi.

Setelah melepas kangen dan mengobrol secukupnya, Bu Endang mengajak saya menuju vihara, tetapi sebelumnya mampir ke rumah salah satu pengurus. Indahnya kehidupan sosial di sini, keguyuban dan toleransi terasa sangat kental dari saling kenalnya penduduk dan bangunan rumah ibadah yang berdekatan.

Beruntung Bu Endang memahami saya, sehingga dengan mudah menjadi perantara. Beliau memberi pengantar kepada pengurus, bahwa saya ini pengamat…lupa, pengamat sosial atau apa, juga diinformasikan sedang mencari bahan tulisan. Wah! Saya merasa keren banget, he he he.

membersamai tim asesor ban-paud

Miniatur borobudur yang cantik

Di halaman rumah pengurus vihara, ada miniatur borobudur. Ternyata dibuat sendiri oleh anaknya yang menjadi biksu. Cakep bangeeeet!

“Ini dibuat untuk sarana ibadah atau untuk keindahan halaman?” Ih! Isengnya saya!

“Dibuat sendiri untuk obat rindu dengan Borobudur,” jelas ibu sang biksu.

Kami di antar ke vihara.

“Apa ciri khas vihara, Pak?” sengaja saya bertanya, mengingat kejadian kemarin saat ke pura tidak mencari tahu kekhasannya, lupa! Sibuk menikmati keunikan dan keindahan bangunannya.

“Stupa.” jelas beliau.

Di Vihara ini saya hanya berfoto di luar, walaupun beliau menawarkan untuk melihat dalam rumah ibadahnya.

“Di dalam ada apa, Pak?” Saya bertanya lagi, walaupun tadi istrinya sudah menjelaskan sedikit saat saya memperhatikan sebuah keramik berukir sebentuk guci di rumahnya. Istrinya mengatakan kalau di vihara banyak barang-barang seperti itu.

“Altar,” jawab sibapak.

Khawatir merepotkan, karena harus mengambil kunci dulu, dengan halus saya menolak untuk masuk.

Cukuplah untuk hari ini, semoga besok lebih asyik lagi.

***

membersamai tim asesor ban-paud

Kunjungan ke PT GGP Lampung Timur

30 Agustus 2018

“Kemana kita hari ini?” saya menodong Bu Endang, saat baru datang di PAUD ketiga, masih di kecamatan Labuhan Ratu. Bu Endang senyum-senyum mencurigakan, disambut tawa guru-guru yang sudah mengenal kami saat kunjungan kemarin.

“Wes, tenang wae, tho,” jawabnya, bikin penasaran.

Setelah memfotograferi acara pembukaan, kami bersiap berangkat. Ups! Rupanya pembina PAUD sudah menelpon suaminya yang pejabat di Way Kambas. Beliau mau mengantarkan ke perkebunan milik PT Great Giant Pineapple yang ada di Lampung Timur.

“Bayangkan kalau kita tadi naik motor,” kata Bu Endang. Mungkin pulang-pulang sekujur tubuh penuh debu atau malah tersasar di kebun yang sangat luas.

“Dan tidak bisa sampai ke lokasi produksi, karena tidak ada kenalan orang dalam yang berwenang,” saya imbuhi, mengingat kemudahan yang kami dapatkan karena dibersamai orang yang berpengaruh di Way Kambas.

Bagaimana kunjungan ke PT ini, semoga saya dapat menuliskannya pada kesempatan lain.

Saat makan siang, kami sudah di lokasi PAUD.

Ha ha ha, ada yang ngiri rupanya atas keberuntungan saya hari ini.

“Nanti kita ke PLG,” ujar suami.

Yaaaaa, tugas selesai sudah menjelang jam 5 sore, begitupun rencana ke PLG, Pusat latihan Gajah Way Kambas tetap dilaksanakan.

Wew! Lumayan jauh masuk ke lokasi sekolah gajahnya, sampai di sana cuaca sudah remang-remang. Foto yang diambil, hasilnya tidak maksimal.

“Besok pagi dari penginapan kita ke sini dulu, sebelum ke PAUD!” ujar suami.

Wk wk wk, penasaran rupanya beliau.

***

membersamai tim asesor ban-paud

Kunjungan ke TN Way Kambas

31 Agustus 2018.

Ini hari terakhir bertugas di kecamatan Labuhan Ratu. Sebelum jam 7 pagi, petugas informasi Taman Nasional Way Kambas, yang juga suami kepala PAUD yang akan divisitasi, menjemput kami di hotel.

Menjawab penasaran sore kemarin, hari ini kami ke PLG lagi, mencari moment gajah mandi.

Idih! Apa bagusnya? Seperti Jaka Tingkir mengintip bidadari, ha ha ha.

membersamai tiam asesor ban-paud

Nonton gajah mandi

Beruntung sekali bertugas ke daerah ini, tapi tentu saya yang merasa paling beruntung. Traveling gratisan, tapi tidak merugikan siapapun, insyaallah. Bahkan keberadaan saya sangat disyukuri, setidaknya oleh suami, Bu Hera dan suami Bu Hera.

Hari ini berpisah dengan Bu Endang, yang begitu baik hati menemani saya.

Ups! Belum selesai, karena saat suami bertugas hari ini, saya diajak jalan oleh Bu Endang bersilaturahim ke orang tuanya dan ke pondok pesantren anaknya. Terakhir, mampir ke pemancingan, sambil menunggu suami selesai, yang diperkirakan sampai menjelang maghrib! Fuih!

membersamai tim asesor ban-paud

Pemancingan dengan sumber air tanah

***

2 September, lokasi tugas pindah ke kecamatan Pekalongan, masih di Lampung Timur.

Hari ini saya tidak menemukan teman yang bisa menemani jalan-jalan. Juga merasakan tubuh kurang sehat, mungkin kecapean.

Hari ini visitasi di PAUD yang ada di desa Ganti Mulyo.

Setelah selesai menyaksikan pembukan, jepret-jepret secukupnya, saya keluar lokasi.

Wow! Ada yang menarik, sekitar 200 m dari PAUD. Terlihat banyak patung-patung dan stupa.

membersamai tim asesor ban-paud

Kolam renang Pitaloka 2

Ternyata kolam renang Pitaloka 2.

Oke, karena dekat, tak mengapa jalan sendiri. Bagus terlihat dari luar. Selfi sedapatnya. Memang kurang maksimal, tapi mau bagaimana?

Ups! Saat selfi di dekat miniatur Borobudur, again, kepergok petugas kebersihan.

“Duh! Kaget aku, Mbak!” spontan saya berkomentar. Memang saya masuk halaman kolam renang, tanpa izin kan tak mengapa, tempat umum ini.

“Boleh minta tolong fotoin, Mbak?”

Dengan ramah, beliau menolong mengambil foto.

“Mbak, bayarnya untuk masuk atau renang?” iseng, saya bertanya.

“Untuk masuk, Bu, kalau hari biasa 20 ribu, kalau Sabtu Mnggu atau hari libur, 25 ribu.” jelasnya.

“Selain kolam renang, ada apa aja?”

“Taman luas, Bu.”

Hmm, saya bisa membayangkan, karena pernah masuk lokasi kolam renang sejenis milik teman SMA.

Mau masuk?

Nggak, lah. Nggak asyik, sendirian. Fotonya nggak maksimal. Lha, memang sedang mencari obyek foto, bukan mau berenang.

Saya berpamitan, menuju PAUD.

Hmm, bakso glodak! Jumbo!

Jam 9 pagi sudah, siapkah?

Saya belokkan langkah, masuk warung bakso yang cukup besar.

“Baksonya sudah mateng, Mas?”

“Sudah, Bu.”

Saya masuk dan membaca menu yang ditempel di dinding. Ingat tulisan di depan, jumbo!

“Porsi yang terkecil, apa, Mas?”

“Harganya tetap sama, Bu.”

Yaaah, Mas, bukan nyari harga termurah, tapi porsi terkecil, mengingat daya tampung lambung yang biasanya sedikit.

Okelah, saya pilih bakso belah, tanpa tahu seberapa besar porsinya.

“Pakai mi, Bu?”

“Mi putih, sedikit.”

membersamai tim asesor ban-paud

Bakso glodak yang asli jumbo

Sebentar kemudian…masyaallah! Benar-benar super jumbo, padahal sudah bilang sedikit. Hmm, bakalan berbagi dengan makhluk lain, ini.

Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata nama glodak diberikan karena warung ini sangat ramai sehingga sering terdengar suara glodakan memindah kursi, meletakkan bakso di meja, dll.

Dengan santai, saya nikmati bakso sambil buka tab yang sekali-sekali dihampiri sinyal, hmm.

Di sebelah warung bakso, terbaca tulisan pengrajin klanting.

“Mbak, di situ buat klanting, ya?” tanya pada salah satu karyawatinya.

“Ya, Bu.”

“Sedang produksi?”

“Biasanya, iya.”

“Boleh lihat, nggak, ya?”

“Boleh.”

Oke, dapat lagi sasaran.

membersamai tim asesor ban-paud

Klanting dijemur sebelum digoreng

Rupanya, di sini banyak produsen klanting. Menurut Mbak Yus, klanting produksinya dipasarkan di sekitar Pekalongan, Metro dan kota-kota lain di propinsi Lampung, Serang dan beberapa tempat lain. Namanya dua perempuan, sayang kalau nggak curhat, walau baru kenal. Mbak Yus bercerita bagaimana jatuh bangun kehidupan dan usahanya.

membersamai tim asesor ban-paud

Mbak Yus, salah satu pengusaha klanting

Tidak lupa, Mbak Yus memberi sebungkus klanting original untuk icip-icip, sekalian oleh-oleh.

Saya kembali ke PAUD, he he he, membaca plang di depan, ternyata rumah yang di halamannya berdiri PAUD, mantan kepala desa, juga produsen klanting.

Dengan tubuh yang terasa penat, saya masuk ke halamannya yang luas. Nampak seorang nenek yang sibuk menjemur kerupuk nasi. Seorang ibu berjilbab menyambut saya yang uluk salam. Ramah!

membersamai tim asesor ban-paud

Keramah tamahan yang tersaji dalam teh tubruk panas

Saya ditawari minum, teh atau kopi. Ups!  Orang kota, he he he, ga ada basa basinya.

“Boleh, teh panas.”

Biasanya, kebiasaan di daerah, kalau membuat teh dengan air yang baru mendidih, jadi masak air dulu. Saya tidak menyadari saat si ibu mengantarkan teh tubruk, ternyata saya tertidur di kursi panjang. Memang udaranya sejuk, walau sinar mentari begitu menyengat.

“Ibu kelihatannya cape sekali,”komentar beliau.

Kami ngobrol sambil menikmati klanting yang sepertinya baru digoreng. Tentang homeindustrinya, perkembangan PAUD dan pastinya…parenting. Seperti biasa, seperti yang lainnya, siibu nampak berkaca-kaca saat saya bercerita tentang anak-anak saya yang menghafal Al-Qur’an. Betapa mereka ingin anaknya seperti itu.

Benar-benar hari tertidak nyaman. Tanda-tanda kelelahan sudah terasa. Kepala, perut, badan keseluruhan. Masih sehari lagi, harus bertahan. Suplemen herbal ditambah, jenis makanan lebih diperhatikan, menyempatkan tiduran di mushola. Alhamdulillah, keesokan harinya lebih segar.

***

membersamai tim asesor ban-paud

Masjid Taqwa, semakin cantik

4 September 2018, hari terakhir visitasi tahap ini.

Masih di kecamatan Pekalongan, kondisinya lebih tenang…maksudnya, sama sekali nggak ada peluang keluar dari lokasi. Sebenarnya pengen ke Swadaya, mengenang saat-saat SMA, tempat wisata yang ditempuh dengan sepeda sejauh sekitar 5 km. Sayang, tidak ada yang menemani dan mendapat informasi, lokasinya kurang aman kalau pergi sendiri pakai motor. Yo wes, menikmati bukunya Salim A. Fillah aja. Nggak mau ambil resiko untuk sesuatu yang tidak penting.

Alhamdulillah, sehari terlewati dengan santai. Di rumah, mana bisa duduk seharian baca buku sampai habis tanpa gangguan. Di sini aman, sinyal internetnya byar pet, jadi nggak tertarik online.

Karena tugas sudah selesai, pulang agak santai, tanpa harus memikirkan persiapan besok pagi. Sholat maghrib di Masjid Taqwa Metro. Ha ha, sepertinya terakhir saya sholat di sini sekitar tahun 90an. Terlaluh, ya? Padahal orang asli Metro, hampir setiap bulan ke Metro.

Untuk sementara, selesai sudah tugas saya mendampingi suami. Tinggal beliau berdua membereskan laporannya, saya kembali fokus ke rumah tahfidz dan mangkal di depan laptop.

Aaah! Saya, mah gini orangnya. Sebenarnya perjalanan yang seru, tapi ceritanya biasa aja, tanpa greget. Entahlah, kapan-kapan, mungkin bisa jadi referensi saat mengupas hal tertentu yang berkaitan dengan hal-hal yang ditemui di perjalanan ini.

 

12 Comments

  1. Slamet Sumardi September 14, 2018
    • nenysuswati123 September 17, 2018
  2. Akang Putra September 14, 2018
    • nenysuswati123 September 17, 2018
  3. Naqiyyah Syam September 14, 2018
    • nenysuswati123 September 17, 2018
  4. Yudi hartono September 15, 2018
    • nenysuswati123 September 17, 2018
  5. Novi Nusaiba September 15, 2018
    • nenysuswati123 September 17, 2018
  6. Emmy Herlina September 16, 2018
    • nenysuswati123 September 17, 2018

Add Comment