Memetik Hikmah dari Musibah

Setelah sekian hari, baru ada kesempatan menuliskannya.

Kita mulai dari hari Selasa, 7 Desember 2021

Hari itu sempat 2 jam di ruang AC, tanpa jaket. Pulang sore, badan sudah terasa tidak nyaman. Seperti biasa, langsung diterapi Abi dengan pijat.

Pagi harinya, saya menyempatkan diri berjemur, tapi ketidaknyamanan malah bertambah. Selera makan lenyap. Ini sudah tanda-tanda kurang baik. Akhirnya Abi bertindak lagi, kali ini dengan bekam kering + pijat.

Mungkin ada yang membatin,”Duh enaknya, didampingi terapis.”

Alhamdulillah, sungguh itu karunia Allah yang sangat saya syukuri.

Kalau sudah seperti itu, saya pasrah, mengatur posisi rebahan yang paling aman untuk migren dan gangguan lambung. Namun, saya masih berharap, sore hari kuat duduk untuk menyimak ta’lim yang pas giliran di rumah, makanya saya tidak membatalkan atau mengalihkan tempat.

Qodarullah, semakin siang semakin berat, hingga akhirnya saya tidak bisa bangun untuk mengikuti ta’lim.

Saya berusaha untuk tidak terlalu lama terkapar. Dengan mengatur pola makan secara teliti, juga konsumsi obat dan suplemen. Berharap, ta’lim Kamis sore bisa terselenggara seperti biasa

Kamis pagi, Alhamdulillah bisa bangun, hanya masih lemah. Saya tunggu sampai siang, menghitung-hitung kekuatan sampai akhirnya diputuskan, ta’lim libur dulu.

Jum’at siang ada jadwal ta’lim di masjid, tapi saya izin, karena ada jadwal fisioterapi yang sudah ditentukan sebelumnya.

Semula, terapi dijadwalkan jam 4 sore, qodarullah bisa dimajukan ke jam 3 sore.

Jam 4 terapi selesai, kami segera bersiap pulang. Saat keluar dari klinik, nampak langit mendung sangat tebal, tapi belum hujan. Kami bersegera pulang, sekalian menjemput Husna.

Belum begitu jauh berjalan, hujan turun dengan deras, bahkan sampai harus memperlambat laju mobil. Husna terpaksa terkena hujan, karena tidak membawa payung. Jilbab n bajunya sedikit basah, bahkan rok dan sepatu basah karena harus melewati genangan air setinggi mata kaki.

Menjelang masuk kompleks, saya menelpon tetangga, menanyakan kondisi. Alhamdulillah, katanya, mobil masih mungkin masuk.

“Cepat, Bi, kita ga tau Harish di rumah atau masjid.” Saya menegur Abi, seharusnya Harish memang di masjid, ada jadwal mengaji.

Saat masuk komplek, air di jalan sekitar setinggi mata kaki. Sepertinya tidak mungkin parkir di dekat rumah, biasanya jadi tempat pengungsian mobil-mobil tetangga, karena tempatnya agak tinggi. Akhirnya diputuskan parkir di tanah kosong yang biasa untuk parkir mobil tetangga, sekitar 10 m dari rumah.

“Husna ambil payung di rumah, pakai kunci Umi, mungkin Harish ga di rumah!” Abi menyuruh Husna.

Agak lama, Husna baru muncul, tanpa payung. Air sudah setinggi betis.

“Nggak ketemu kali, payungnya,” kata Abi.

“Nggak kepikir ambil mantel di motor,” saya menimpali.

Sampai di mobil, Husna laporan,”Pintunya ga bisa dibuka, mungkin Harish di dalam, tidur, kuncinya ga dilepas, sudah Na gedor-gedor.”

“Ya sudah, Abi aja.”

Husna masuk mobil, dengan baju basah kuyub, Abi turun. Mesin mobil tetap menyala.

Air terus bertambah tinggi, Abi nggak segera muncul. Saya melihat air sudah menyentuh bibir pintu rumah tetangga yang ada di depan parkiran.

“Sepertinya air sudah masuk rumah kita, Hus.”

Saya mau nekat turun, tapi belum izin Abi. Tadi sudah diwanti-wanti, tunggu di mobil. Kena gerimis aja nggak boleh, apa mungkin diizinkan hujan-hujanan dengan banjir setinggi lutut? Begitupun, saya tidak menyuruh Husna menyusul Abi. Semoga Abi sempat menyelamatkan barang-barang yang penting, seandainya air masuk.

Saya membuka jendela, memanggil tetangga yang biasa memperbaiki mobil saat rusak, saat beliau melintas.

“Mas, kayaknya di sebelah situ agak tinggi, bisa minta tolong pindahin?”

“Sebentar, Mi, nunggu mobil di belakang, sedang dipindah.”

Saat beliau membuka pintu mobil, air masuk. Dengan lincah beliau memindahkan mobil, hanya bergeser sedikit, tapi tanahnya agak lebih tinggi. Beliau menganjurkan mesin mobil dimatikan saja.

Saya perhatikan beberapa orang lalu lalang, ada beberapa orang berteduh di gardu, di lokasi parkiran. Sepertinya tak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menunggu. Air terus meningkat, setinggi pinggang tetangga yang lewat, badannya tinggi besar.

Menjelang Maghrib, hujan mulai reda, perlahan air surut, sinar matahari yang tertutup awan kelabu, semakin meredup.

Saat air setinggi betis, Husna turun, saya ditinggalkan sendiri. Hari mulai gelap, lampu-lampu luar rumah dan lampu jalan dinyalakan.

Abi datang dengan membawa payung, saat air setinggi mata kaki.

Saya merasa seperti seorang permaisuri. Tidak mengalami seperti yang lainnya, basah kuyub, kotor, kedinginan. Masyaallah.

Sebenarnya malu, tapi sepertinya lebih baik begitu, mengingat kondisi kesehatan yang sedang kurang baik. Abi memilih menjaga, daripada terlanjur parah, lebih merepotkan.

Rumah dalam kondisi seperti yang saya bayangkan, tapi air semakin menyusut. Segera ke kamar belakang, Alhamdulillah, dua tingkat bagian bawah dua lemari buku yang terbuat dari kaca, dalam kondisi kosong. Artinya sudah di selamatkan. Tapi belum tahu, buku-buku baru yang di depan bagaimana kondisinya. Memang ada tiga kotak besar buku Hafiz Rumahan yang tadinya di lantai, tadi sudah di atas meja.

Saya segera sholat Maghrib di kamar atas, walaupun sudah lewat awal waktu, tapi belum masuk waktu isya.

Diputuskan, Saya, Husna dan Harish, akan dijemput Hilmy, mengungsi ke pondok. Abi sensiri di rumah, tadi ada teman-teman Abi datang untuk membantu, tapi sepertinya belum bisa maksimal. Rencananya besok, bersama tim relawan PKS akan turun ke daerah yang terkena banjir.

Masih gerimis, kami berangkat ke pondok, di Lampung Tengah.

Dalam perjalanan, saya memikirkan kejadian beberapa hari terakhir.

Secara pribadi, saya mendapatkan beberapa hikmah yang membuat rasa syukur yang terus bertambah. Dan semua pasti Allah sudah atur.

Dari jadwal terapi yang dimajukan 1 jam, karena ada pasien yang membatalkan jadwalnya.

Bagaimana kalau jadwal terapi di jam 4? Mungkin saat pulang mobil sudah tidak bisa masuk.

Harish yang seharusnya ke masjid, ternyata mengeluh pusing, sehingga dia putuskan tidak mengaji. Tidur di rumah sendiri.

Saya diungsikan ke pondok, pun, bukan sekedar menyelamatkan diri, beristirahat sementara Abi berjibaku dengan dampak banjir. Setidaknya saya mewakili mempersiapkan dan melaksanakan ujian seleksi penerimaan santri baru, hari Ahad 12 Desember.

Masalah kerugian?

Ya namanya hidup, ada saatnya Rizki bertambah, ada saatnya berkurang. Ada saat lapang, lain waktu disempitkan.

Satu hal yang perlu dijaga, apapun takdir yang Allah tentukan, hendaknya semua jadi sarana kita untuk evaluasi diri dan menambah kedekatan kepada-Nya.

Baru keesokan harinya ada kejelasan, penyebab banjir kali ini. Ternyata ada dinding saluran air, jebol sepanjang sekitar 15 m, sehingga air tumpahannya menggenangi kompleks perumahan, disamping curah hujan.

Alhamdulilah, keesokan harinya Abi mengirim kabar, banyak relawan turun memberi bantuan, juga aparat, bahkan walikota. Saat kejadian, aparat kelurahan langsung turun ke lokasi.

Perumahan kami langsung mendapat perhatian, keesokan harinya dinas PU langsung mulai memperbaiki kerusakan dampak banjir.

Semoga tak ada lagi banjir di perumahan kami, walaupun sepertinya sulit bebas darinya, mengingat sawah dan tanah di sekitarnya telah berubah jadi komplek-komplek perumahan baru.

Add Comment