Menangkal Terorisme dan Radikalisme di Media Sosial

workshop FKPT

Hotel Horison, 11 April 2018

7 April 2018, Bandara Soekarno Hatta

Saya membaca pesan WA dari Mas Nur Islam, setelah sukses mendarat di bandara Soekarno Hatta, saat menunggu kedatangan bis Damri yang akan membawa kami ke stasiun Gambir. Ya, dua hari ke depan saya akan mengikuti GWRF di perpusnas, Jakarta.

Sebuah foto undangan dikirim lewat WA.

“Maaf, ngasih undangan di lokasi aja, ya, Mba. Kegiatan LITERASI DIGITAL.”

It’s oke, nggak masalah, teknologi telah mempermudah banyak urusan kita.

Saya segera meneruskan foto undangan ke WA suami, untuk minta izin.

Peserta workshop FKPT

Dihadiri oleh blogger, mahasiswa dan pegiat literasi digital

11 April 2018, Hotel Horison bandarlampung.

Ini kali ketiga mengikuti acara di sini, dan semuaanya mengundang saya sebagai blogger. Tidak dapat disangkal, kesempatan-kesempatan seperti ini datang sejak saya bergabung di Komunitas Tapis Blogger, komunitasnya blogger Lampung, walaupun untuk kali ini undangan tidak melalui komunitas.

Saya merasa beruntung, karena ini merupakan peluang menambah wawasan dan semoga juga menambah kesempatan berkiprah dalam kebaikan.

sebagai peserta

Walau masih agak lelah, saya mengupayakan untuk hadir.

Saya segera menuju aula yang ditunjukkan oleh resepsionis, belum tahu siapa yang akan saya temui. Hmm, sepertinya saya kepagian, karena perlengkapan di meja regristasi belum lengkap, tetapi saat saya tunjukkan foto undangan, panitia penerima tamu langsung memberikan undangan fisik seperti yang di foto. Saya dipersilakan masuk setelah menerima undangan fisik dan nametag.

suvenir peserta

Salah satu suvenir yang dibagikan untuk peserta

Ruang yang tidak asing, dengan tata letak perlengkapan disetting sesuai kebutuhan workshop. Sengaja saya memilih meja di bagian tengah, walaupun saya terbiasa mengambil posisi di depan dekat panggung, tetapi pernah ada pengalaman, harus pindah meja ketika ada undangan istimewa. Memang seharusnya panitia mengatizipasi hal tersebut, tetapi pengalaman itu cukup memberi pelajaran, nggak harus di depan banget, yang penting kita bisa fokus pada acara yang terjadi di panggung.

Peserta terus bertambah, begitu juga perlengkapan yang kami terima. Name tag, map, alat tulis, buku terbitan BNPT, kupon sertifikat dan transport.

Acara pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan panitia penyelenggara dari Forum Kordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) dan sambutan dari Badan  Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan ditutup dengan doa.

FKPT sudah di bentuk di 32 propinsi yang merupakan forum masyarakat sebagai kepanjangan tangan dari BNPT untuk bersama-sama menjaga keutuhan dan kedamaian NKRI dari ancaman dan gangguan terorisme.

Ahmad Djauhar

Ahmad Djauhar, wakil ketua Dewan Pers

FKPT yang merupakan bentukan BNPT, sengaja mengundang blogger, pegiat literasi, mahasiswa pegiat IT dengan harapan, menambah wawasan dan silaturahim dalam rangka pencegahan terorisme dan radikalisme. Sebagai pegiat medsos diharapkan ikut berperan aktif dalam upaya ini disebabkan fakta bahwa teroris telah menggunakan internet untuk merekrut anggota.

Pada sesi satu disampaikan materi Bijak Bermedia Digital dengan narasumber Ahmad Djauhar, wakil ketua Dewan Pers.

Seiring pertumbuhan dan pengguna media digital yang dahsyat, mendorong masyarakat sangat membutuhkannya untuk kemudahan hidup sehari-hari. Banyak informasi terkait penggunaan media digital yang beliau sampaikan, antara lain:

    1. Berbagai alasan manusia menggunakan media digital
    2. Apa saja yang ada di medsos
    3. Jenis media digital
    4. Pertumbuhan media digital
    5. Potensi media digital
    6. Media digital sebagai pasar besar
    7. Berbagai contoh akibat dari sikap salah dalam menggunakan media digital
    8. Kode etik berkomunikasi
    9. Perbedaan UU pers dan UU informasi Transaksi Elektronik.
    10. Pedoman pemberitaan media cyber.

Dari penjelasan Ahmad Djauhar yang seorang jurnalis senior dengan pengalaman sebagai wartawan selama 25 tahun, dapat disimpulkan:

    1. Kita harus bijak dan hati-hati memanfaatkan media sosial (jaga penggunaan kata, tidak terpancing hasutan atau provokasi, dll).
    2. Gunakan media sosial sebagai tabungan kreativitas positif (menyebar hasil karya kreatif, berniaga motivasi hidup, dll).
    3. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk latihan jurnalistik (melaporkan hal-hal yang terjadi di sekitar disertai foto/gambar sebagai bukti serta keterangan terkait lainnya).

Ketika ada seorang peserta bertanya tentang sebuah ungkapan yang dianggap sebagai pegangan saat membuat berita,”Bad news is good news”, beliau menyatakan bahwa itu paradigma lama, tahun 50an, untuk masyarakat kelas bawah. Kondisi saat ini, paradigma yang terus dikembangkan, bagaimana berita baik itu akurat dan terpercaya.

Gardjito kasilo

Gardjito Kasil, Ahli komunikasi sedang memaparkan materi

Pada sesi kedua, narasumbernya Naqiyyah Syam, seorang blogger sekaligus ketua Tapis Blogger, sebuahnkojujitas blogger terkemuka di Lampung. Beliau memberikan pencerahan, bagaimana begitu banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk mengimbangi hal-hal negatif yang beredar di medsos. Blogging, jualan online, berdakwah, menambah wawasan dan pergaulan, menambah penghasilan, dll. Prinsip dalam menggunakan media digital: cerdas, kreatif dan produktif.

Setelah istirahat, sholat dzuhur dan makan siang, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dan workshop hingga sore hari, dengan nara sumber Gardjito Kasilo (ahli komunikasi dan penulis buku Komunikasi Cinta)

Asyik sekali ketika kita membahas sesuatu dengan ahlinya.

Gardjito Kasilo dengan gayanya yang khas, santai, akrab, mengupas permasalahan mendasar dalam komunikasi dan berbagai efeknya. Kunci komunikasi adalah tahu siapa yang akan diajak bicara.

Sering terjadi kita terpenjara pada masalahnya, padahal untuk mencari solusi, kita harus berada di luar masalah itu, konsentrasi pada tujuan.

Contoh: Ketika kita akan membuat sebuah pesan untuk menangkal berita hoax, jangan terpenjara isi berita hoax itu, tetapi harus mencari solusinya. Kalau isi berita hoax itu kita anggap tesis, maka kita harus membuat antitesisnya yang sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Di akhir sesi, peserta dibuat berkelompok untuk membuat sebuah karya kreatif digital dengan isi pesan mencegah radikalisme, bisa berupa video, vlog atau meme.

Harus diakui, saya sebagai generasi baby boomer tidak bisa secepat generasi milenial dalam menghasilkan karya kreatif, tetapi setidaknya bisa memahami dan menelurkan hasil, walau sederhana.

Nah, ini karya saya…bagaimana?

pesan damai

Meme hasil workshop, membuat pesan positif

12 Comments

  1. Yudi hartono Mei 3, 2018
    • nenysuswati123 Mei 3, 2018
  2. Slamet Sumardi Mei 3, 2018
    • nenysuswati123 Mei 3, 2018
  3. Indra Bagus Yuniari Mei 3, 2018
    • nenysuswati123 Mei 6, 2018
  4. Linda Dwihapsari Mei 3, 2018
    • nenysuswati123 Mei 6, 2018
  5. Emmy Herlina Mei 8, 2018
    • nenysuswati123 Mei 9, 2018
  6. Majalah Lampung Mei 8, 2018
    • nenysuswati123 Mei 9, 2018

Add Comment