Mendesain Pernikahan Impian

Pernikahan, ya! Bukan walimah!

Sebagian kita terjebak pada kesibukan persiapan walimah yang hukumnya sunah, dan hanya untuk beberapa hari, tapi kurang detail memperhatikan substansi dari pernikahan itu sendiri.

Pernah menghadiri kajian pranikah?

Berapa perbandingan pria dan wanita yang hadir?

Pernah menghadiri seminar keluarga?

Berapa perbandingan pria dan wanita yang hadir?

Pernah menghadiri workshop parenting?

Berapa perbandingan pria dan wanita yang hadir?

Bisa dipastikan, peserta wanita lebih banyak dari pria, bahkan berlipat-lipat!

Mengapa bisa begitu?

Apakah karena jumlah penduduk wanita lebih banyak dari pria?

Berapa perbandingannya?

Pria : wanita = 1 : 4?

Data dari mana?

Pernah cari informasi dari badan statistik, berapa jumlah penduduk Indonesia?

Ternyata penduduk Indonesia, perbandingan pria dan wanitanya seimbang, cenderung lebih banyak pria! Berdasarkan sensus nasional 2014-2015 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia 126,8 jiwa perempuan dan 128,1 jiwa pria.

Jadi bukan faktor jumlah populasi wanitanya lebih banyak.

Lalu faktor apa?

Apakah pria cenderung tidak membutuhkan ilmu persiapan berkeluarga atau parenting? Atau karena sibuk? Atau kurang mementingkan? Ataj karena menganggap bahwa keharmonisan keluarga dan pendidikan anak merupakan tanggung jawab istri?

Jangan heran kalau narasumber seminar/kajian keluarga/parenting sangat mengapresiasi para pria yang hadir!

Alhamdulillah, Ahad 29 Oktober saya berkesempatan menjadi narasumber pada acara Sekolah Pra Nikah #2 yang diselenggarakan oleh BPKK (Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga) Metro, berduet dengan DR. Nadirsyah Hawari dengan tema Mendesain Pernikahan Impian.

BPKK merupakan salah satu bidang di tubuh Partai Keadilan Sejahtera yang salah satu programnya adalah Rumah Keluarga Indonesia (RKI) dengan berbagai program andalannya, seperti Sekolah Ibu, Sekolah Orang tua, Pos Eka, Sekolah Pra Nikah, Pelatihan Janaiz dll

Mendesain pernikahan impian berarti merencanakn keluarga seperti apa yang ingin dibangun untuk menjalani kehidupannya di dunia juga mempersiapkan kehidupan akhiratnya. Keluarga di dunia dan di surga.

Jadi ini proyek besar yang harus dipikirkan calon suami dan calon istri, bukan hanya salah satunya!

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

(Bahasa Indonesia)
Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

-Surat An-Nur, Ayat 26

Pernikahan ideal yang biasanya diimpikan adalah bersatunya dua orang yang baik-baik, sebagai unsur dasar paling penting dalam membangun rumah tangga.

Ayat ini memberi tuntunan kepada calon pengantin maupun orang tuanya dalam menyeleksi calon pendamping hidup.

Juga menyiratkan pesan, bahwa salah satu ikhtiar mendapatkan pasangan yang baik, maka selayaknya berupaya terus memperbaiki diri.

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

(Bahasa Indonesia)
Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.

-Surat An-Nur, Ayat 32

Ayat di atas merupakan perintah Allah untuk menolong orang-orang yang sudah seharusnya menikah.

Siapa yang dimaksud?

Tentu yang pertama adalah orang tua calon pengantin, yang memang berkewajiban mengantarkan anak-anaknya ke kehidupan selanjutnya.

Selain orang tua, juga saudara, sahabat dan dalam kondisi tertentu menjadi kewajiban negara, menolong otang-orang yang terkendala menikah karena faktor ekonomi.

Karena konsep keluarga telah sempurna disampaikan oleh DR. Nadirsyah, maka saya mengambil bagian sharing dan membahas permasalahan yang sedang dihadapi peserta wanita.

Saat kita bicara konsep sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi, rasanya akan lebih diperhatikan dan semoga efektif menemukan solusi.

 

Add Comment