Mendidik dengan Cinta ala Kak Seto

Kak Seto!

Nama yang familiar di kalangan pemerhati pendidikan di Indonesia. 40 tahun lebih pengalamannya di dunia pendidikan, ditambah dengan pendidikan formalnya hingga tingkat doktoral di bidang yang sejenis, tentu menjadi jaminan kompetensinya di bidang ini.

Belum lagi aktivitasnya di organisasi tingkat nasional dan internasional, tentu merupakan catatan yang tak bisa diabaikan.

Bertemu dengan orang yang potensial, sebagai pembelajar, tentu kita berpikir,’saya bisa belajar apa darinya?’ Tidak ada sosok yang sempurna, tapi setiap diri tentu memiliki potensi unik yang bisa kita pelajari.

Nilai positip yang diambil seorang pembelajar tentu berbeda antar masing-masing orang terhadap sebuah sumber belajar, demikian halnya dengan peserta seminar parenting yang di selenggarakan oleh Sekolah Darma Bangsa Lampung dalam rangkaian perayaan miladnya yang ke 10, bekerjasama dengan WOW Save ID yang diadakan di gedung Hall kampus SDB Bandarlampung pada 5 Maret 2017.

Alhamdulillah, saya hadir di acara ini atas undangan dua komunitas blogger yang berkolaborasi, Tapis Blogger dan Kopi Lampung

Penampilannya tetap bersahaja, relatif sama seperti hampir 40 tahun lalu, di awal saya mengenalnya di TVRI sebagai pengasuh acara Aneka Ria Anak-Anak, bahkan usia 66 tahunnya tidak begitu terlih


Apa konsep pendidikan yang menjadi misinya?

Mendidik dengan cinta!

Lebih spesifik lagi, mendidik dengan cinta = mendidik tanpa kekerasan.

Tentu, semua orang tua ingin mendidik anaknya dengan cinta, tetapi tidak semua bisa mendidik tanpa kekerasan.

Himpitan kesulitan hidup, tekanan perasaan, ketidak harmonisan komunikasi antar suami istri yang bermasalah, dll, sering kali menjadi alasan untuk berlaku keras dan kasar pada anak. Mereka menjadi korban, bukan karena tak cinta, semata orang tua tak cerdas mengelola emosinya.

Menjadi orang tua/guru ideal memang menuntut kita menjadi manusia serba bisa

Kak Seto memberi contoh bagaimana seharusnya orang tua dan guru selalu kreatif menciptakan metode-metode dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada anak, baik itu dengan bernyanyi, bermain atau bercerita.

Menjadi orang tua, selain cerdas emosi, juga harus bisa memberikan keteladanan pada anak.

Anak-anak yang bahagia, hatinya senang, akan lebih mudah belajar dibandingkan yang banyak mendapat tekanan dari lingkungannya.

Inti masalahnya adalah, bagaimana orang tua mampu menciptakan sistem komunikasi dan iklim kondusif di dalam rumah.

Begitu banyak permasalahan yang muncul di kalangan anak-anak dan remaja, bermula dari kurang kasih sayang dan perhatian dalam keluarga, juga komunikasi yang berjalan tidak baik.

Anak-anak yang kebutuhan kasih sayangnya tidak tercukupi di dalam keluarga, akan mencarinya di luar rumah, karena memang kasih sayang adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi.

Ketidak pahaman dan ketidakpedulian orang tua dalam masalah ini, merupakan andil terbesar dalam hancurnya moral generasi bangsa, di samping faktor lingkungan yang semakin tidak sehat untuk mereka.

Setidaknya, anak-anak yang tercukupi kasih sayangnya di rumah, ditambah dengan penanaman keimanan yang kokoh, akan menjadikan mereka anak-anak yang mampu berkata”tidak” terhadap pengaruh negatif yang mendekatinya.

Bukan sekedar mendidik dengan cinta dalam arti tanpa kekerasan, seharusnyalah mendidik dengan cinta dalam penanaman keimanan dan moral yang kokoh.

Bukan sekedar mendidik dengan cinta tanpa kekerasan agar anak selalu bahagia dalam belajar, tetapi lebih bagaimana cinta itu mampu mengantarkan mereka bahagia di dunia dan akhirat.

Bukan hal mudah, tetapi bisa, karena Allah telah memberikanmperangkat-perangkatnya dalam diri kita.

Yang dibutuhkan adalah niat yang kuat, terus belajar dan komitmen dalam menjalaninya.

4 Comments

  1. Lilih Muflihah Maret 7, 2017
    • nenysuswati123 Maret 7, 2017
  2. razone Maret 8, 2017
    • nenysuswati123 Maret 8, 2017

Add Comment