Mengajarkan Perbedaan

Bukan hal mudah memberikan pemahaman tentang perbedaan pada anak.

Di sebelah rumah, ada tetangga sementara yang sudah tinggal kurang lebih sebulan, dari rencananya tiga bulan.

Mereka adalah keluarga yang memilih home schooling untuk pendidikan anak-anaknya, dan salah satu metode pembelajarannya adalah berpindah-pindah domisili.

Anak yang bungsu, laki-laki, Muhammad, berusia sekitar 9 tahun, 1 tahun lebih tua dari Harish. Kini, mereka berdua bersahabat.

Mereka hampir selalu bersama untuk aktivitas di luar jam sekolah Harish, kecuali saat tidur. Ke masjid, main di kebun, berenang, latihan panahan, jalan pagi, membaca komik, jajan, dsb.

Muhammad sudah terbiasa menerima bahwa dia berbeda, belajar dengan cara yang tidak seperti anak-anak seusianya. Lain halnya dengan Harish, yang dia tahu selama ini, sekolah formal yang berangkat pagi pulang siang/sore atau belajar di pondok, yang jarang pulang.

Kemarin, sudah ada kabar, kalau Muhammad dan keluarganya akan ke Jakarta selama seminggu, mungkin Harish baru menyadarinya saat ke masjid subuh tadi.

Sepulang dari masjid, wajahnya tidak seceria kemarin-kemarin. Tampak kurang bersemangat.

“Mi, di sekolah sekarang belajarnya tambah susah,” keluhnya.

Hmm.

“Lha iyalah, kan Harishnya juga tambah besar, dikasih yang susah insyaallah bisa.”

“Emm, Mi, Muhammad ke Jakarta selamanya atau balik lagi ke sini?”

“Insyaallah balik lagi, tapi suatu saat dia akan pergi dan nggak balik lagi, kan rencananya 3 bulan.”

“Muhammad enak, ya, Mi, nggak sekolah. Bisa pergi kemana-mana.”

“Harish juga enak, sekolah banyak teman, banyak guru, banyak yang dipelajari.”

“Iya, sih, kata Muhammad dia nggak banyak teman, tapi enak bisa pergi-pergi.”

“Muhammad belajar dengan orang tua dan kakak-kakaknya mungkin nggak seenak Harish, belajar dengan banyak teman dan banyak guru. Harish enak belajarnya tapi nggak seenak Muhammad bisa pergi-pergi ke banyak tempat, semua pilihan ada enaknya ada nggaknya.”

Hmm, mengajarkan untuk memahami dan menerima perbedaan pilihan cara belajar saja butuh memilih cara yang membuat hatinya tidak sedih dan bisa menahan diri untuk tidak ikut-ikutan, bagaimana dengan perbedaan yang lebih besar?

Misalnya mengajarkan perbedaan dan toleransi dalam beragama.

Orang tua akan sulit mengajarkan toleransi yang elegan sebelum anak memahami konsep keimanannya dengan benar dan mantap.

Mengingat keimanan adalah hal mendasar dalam kehidupan manusia, maka orang tua berkewajiban mengajarkannya kepada anak sebagai wujud tanggung jawab dari amanah yang diterimanya.

Atas pertimbangan inilah, wajar jika sebagian orang tua saat ini memilih home schooling atau sekolah formal berbasis agama, untuk pendidikan dasar anak-anaknya. Harapannya, dasar keimanan akan tertanam dengan baik di usia awalnya, sehingga, jika saatnya nanti anak harus melihat perbedaan dalam berkeyakinan, beragama, mereka sudah bisa memposisikan diri dalam bersikap di masyarakat.

Keterbukaan, kecanggihan teknologi dan perkembangan zaman, menuntut orang tua lebih peka dalam memahami anak, sehingga bisa melakukan pendampingan dan edukasi yang sesuai dengan tuntunan agama tanpa membuat anak gagap teknologi atau kurang update perkembangan zaman.

Anak harus kita siapkan untuk sukses hidup di zamannya, agar tidak menjadi korban dari kemajuan yang semakin menggila.

 

Add Comment