Mengambil Pelajaran dari Kasus Sukmawati Soekarnoputri

Sukmawati Soekarnoputri

Mari kita coba mengambil pelajaran dari kasus Sukmawati Soekarnoputri.

Luar biasa pengaruh medsos dalam penyiaran berita saat ini.

Jika apa yang terjadi di acara pagelaran Anne Avianti tanggal 29 Maret 2018, dimana Ibu Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi hasil karyanya yang diberi judul “Ibu Indonesia” tidak ada yang mengunggahnya di medsos, mungkin tidak seperti ini jadinya. Hanya peserta yang hadir saja yang tahu, dan tidak ada jaminan seluruh peserta memperhatikan.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
(terjemah QS. Al Mulk : 2)

Semua takdir Allah, tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Baca juga Merindukan Sosok Abu Bakar ra. Zaman Now.

Ada beberapa kemungkinan di balik peristiwa itu, yang tentu saja terkait dengan reaksi yang muncul di masyarakat. Saya coba mengangkatnya dari beberapa sudut pandang.

  1. Ibu Sukmawati Soekarnoputri sebagai manusia biasa, berusia matang, yang seharusnya tercermin dari pilihan sikapnya, tetapi tidak ada jaminan bahwa usia matang bebas dari kesalahan dalam bersikap. Jadi ada kemungkinan bahwa kejadian ini murni insiden yang tidak disengaja, semata-mata dorongan jiwa seninya yang cenderung bebas mengekspresikan apa yang sedang dirasa dan dipikirkannya. Disayangkan, ketika karya seninya menyenggol masalah sensitif yang baru saja tersulut di negeri ini.
  2. Ibu Sukmawati Soekarnoputri sebagai politisi, apalagi sebagai putri proklamator kemerdekaan RI, sepertinya mustahil tidak memahami dan mengenali karakter bangsa ini. Beliau pasti tahu, kemungkinan besar hal ini terjadi. Jadi? Yup! Test case! Bagaimana reaksi masyarakat terhadap kejadian ini akan menjadi pertimbangan untuk rencana-rencana berikutnya.
  3. Sebagian masyarakat mencurigai, kejadian ini sebagai pengalihan isu, seperti dugaan kejadian-kejadian sebelumnya. Salah satu yang dicurigai, isu yang sedang dialihkan, kasus Puan Maharani, keponakannya, yang diduga terlibat kasus E-KTP seperti yang diangkat dalam berita ini, atau berita ditandatanganinya  peraturan presiden (perpres) no 20 tahun 2018.

Aliansi Muslimah Aceh Melaporkan Sukmawati

Seminggu sudah berita itu mendominasi jagad media, perkembangannya bergitu cepat.

  1. Sukmawati membacakan puisi itu, kemudian menjadi berita viral.
  2. Sukmawati membantah kalau itu dimaksudkan melecehkan agama.
  3. Ada pihak yang melaporkan sebagai tindak pelecehan agama.
  4. Sukmawati meminta maaf.
  5. Berbagai pihak meminta pelaporan ditarik.
  6. Sebagian pihak meminta tetap diperkarakan.

Huft! Sepertinya negara kita sedang diuji dengan hal-hal seperti ini, entah sampai kapan. Bagaimana solusinya?

Simpati untuk Sukmawati

Saya sih pengennya, permintaan maafnya diterima, dimaafkan, tetapi proses hukum tetap dilanjutkan.

Alasannya?

Budaya kita mengajarkan untuk mudah memaafkan, tetapi dalam bernegara dituntut ketegasan hukum sebagai bentuk keadilan untuk seluruh rakyat, karena sebelumnya kasus pelecehan agama terus diproses hukum sampai putusan diambil.

Lalu, apa yang harus kita cermati?

  1. Bersikap bijaksana dalam menanggapi apapun yang terjadi, tenang, tidak emosional. Jangan sampai, belum paham dengan kejadiannya, sudah tersulut emosi dan bertindak yang merugikan diri sendiri. Apa itu? Berkomentar negatif bahkan mem-bully, berdebat. Jangan sampai, kita terseret pada hal yang tidak perlu bahkan sia-sia.
  2. Mengambil sikap sesuai kapasitas yang dimiliki dalam meresponnya, setelah mencermati duduk persoalannya. Jangan sampai melampaui kewenangan. Bisa dengan tulisan, diskusi, gerakan tertentu, atau membawanya ke ranah hukum.
  3. Jadikan sebagai bahan pelajaran untuk melatih berfikir politik dan mengasah kepekaan sosial.
  4. Selalu mengaitkan apapun kejadian, semua adalah bagian dari takdir Allah untuk menguji kita. Dunia hanyalah permainan, maka bermainlah dengan jujur, sebab apapun akan ada pertanggung jawabannya di hadapan Allah.

Add Comment