Mengelola Rasa Iri

tmpdoodle1479085890429

Manusiawi banget kalau kita merasa iri terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain, dan ingin mendapatkan yang sejenisnya.

 

Cukup? Hanya sebatas rasa ingin?

 

Biasanya akan berlanjut dengan munculnya rasa ingin tahu:

1. Ih, kenapa dia bisa, ya?

2. Apa yang sudah dilakukannya?

3. Gimana caranya supaya bisa mendapatkan yang seperti itu, ya?

 

Rasa ingin tahu di atas masih aman, apalagi kalau diikuti mencari tahu, kemudian memotivasi untuk melakukan perjuangannya.

 

Yang tidak bagus itu kalau rasa iri menyebabkan su’udzon:

1. Enak benar, pendatang baru kok sudah bisa seperti itu, pasti ada orang dalam.

2. Ya iyalah, modalnya gede, semua gampang didapat.

3. Kalau jalan normal, rasanya nggak mungkin bisa sesukses itu.

4. Dia ngamalin apa, ya, kok bisa secepat itu?

 

Rasa iri itu normal, selama kita mampu mengelolanya, tidak akan membahayakan.

 

Bagaimana caranya?

 

A. Memahami konsep rizki.

 

1. Setiap manusia memiliki jatah rizki di sisi Allah yang besarnya kita ketahui setelah sampai ke tangan.

2. Ada rizki yang berkaitan dengan ikhtiar langsung dengannya, seperti mendapat uang karena melakukan sesuatu sebagai upah, berdagang, dll.

3. Ada juga yang sepertinya tidak berkaitan langsung, misalnya, kita terbiasa melakukan kebaikan kepada banyak orang, kemudian rizki itu sampai melalui salah satu orang yang kita pernah berbuat baik kepadanya.

4. Ada juga rizki karena kita rajin menjalin silaturahim.

5. Bentuk rizki bisa berbeda-beda, materi, pertemanan, kesehatan, kemudahan urusan, dll.

 

B. Mempelajari apa yang dilakukannya, perjuangannya, karena bisa pasti, kesuksesan terkait dengan kerja keras dan kesungguhan, baik dalam kerja maupun doa.

 

C. Bandingkan dengan rizki yang sudah kita terima, karena setiap kita memiliki kelebihan rizki  yang berbeda bentuknya. Misalnya, ada yang sukses di karir, tapi banyak masalah keluarga, sedang kita relatif tidak bermasalah dalam keluarga. Mau, nggak, ditukar?

 

D. Fokus pada tujuan akhir kehidupan yang kekal, sambil terus mengevaluasi diri, apakh rizki yang kita terima bermanfaat untuk mengumpulkan bekal kemba

li kepada-Nya.

 

Allahu Arrozaq!

 

 

One Response

  1. Naqiyyah Syam November 15, 2016

Add Comment