Mengunjungi Keluarga Hasan Basri, Hafidz Cilik dari Pulau Nias

mengunjungi keluarga hasan basri hafidz cilik dari pulau nias

Hasan Basri, hafidz cilik dari pulau Nias (sumber: Salam TV)

Tiga tahun terakhir, di media sosial, terutama youtube, kita bisa menikmati lantunan indah tilawah Hasan Basri sang hafidz cilik dari pulau Nias, Sumatra Utara.

Alhamdulillah, atas izin Allah, saya dan suami mendapatkan kesempatan bersilaturahim, ingin tahu lebih jauh tentang keluarganya yang telah mendidik semua anak-anaknya yang berjumlah 9 orang untuk menjadi hafidz qur’an. Istimewanya, ditangani sendiri oleh ibunya, bukan pondok pesantren. Hasan, anak ke 5, salah satu di antaranya. Ada kakak dan adiknya yang juga sudah hafal 30 juz, bahkan beberapa ada yang menghafal hadits.

Tentu ini hal langka di zaman ini. Saya pribadi merasa tertohok, mengingat 3 orang anak saya hafiz tetapi lebih banyak atas peran pondok pesantren.

Penasaran? Pasti!

Untuk mengenali seseorang, menurut sahabat rasul Umar bin Khatab, jika kita sudah melakukan perjalanan bersamanya atau bermalam, sehingga tahu bagaimana kesehariannya dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”

Hanya 3 hari kami berkunjung ke sana, mengingat salah satu hak tamu, hanya 3 hari.

Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu dengan menjamunya sehari semalam. Jamuan hak tamu hanya berjangka tiga hari. Lebih dari itu, jamuan bersifat sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di tempat tuan rumah sehingga menyusahkannya.”

Selain itu juga, sangat banyak amanah lain yang harus ditunaikan di rumah.

7 Januari 2019

Seorang pria berpakaian jubah putih dan bersorban, telah menanti, saat kami tiba di bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias. Beliaupun telah menyiapkan mobil sewaan untuk menjemput kami.

Keluar dari bandara, mata ini disuguhi pemandangan yang sangat menyenangkan. Hampir sepanjang jalan yang kami lalui, nampak pantai di sisinya, bahkan saat melewati pusat kota Gunung Sitoli. Pantai di tengah kota, atau kota di tepi pantai?

Gunung Sitoli dalam pandangan saya, tergolong kota kecil. Andai bertemu kemacetan, hanya sebentar, saat di tengah pasar atau di gerbang pelabuhan.

Selain mobil pribadi dan motor, kendaraan yang mendominasi adalah becak yang digandeng dengan motor, kalau di Medan disebut bentor, becak motor. Kalau di Nias, becak, sedang motor roda dua disebut kereta.

mengunjungi keluarga hasan basri di pulau nias

Tugu Pohon Natal di Pulau Nias

Jika melewati kota-kota lain kita bisa melihat tugu atau patung yang mencirikan kota tersebut, bisa tokoh pahlawan daerah atau lambang tertentu, maka di sini tugu kota utamanya berbentuk pohon natal. Ya, mayoritas penduduk pulu Nias adalah Kristen Protestan, mencapai sekitar 90% jumlah penduduk.

Dengan kondisi seperti ini, maka sebagai muslim, yang pertama diperhatikan adalah saat membeli makanan olahan. Kami hanya makan yang disuguhkan tuan rumah atau membeli di tempat yang direkomendasikan.

Hampir satu jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di desa Olora, yang berjarak sekitar 10 km dari pusat kota, termasuk waktu untuk mampir membeli durian.

Desa Olora tergolong kampung nelayan, dengan rumah-rumah yang kebanyakan semi permanen.

mengunjungi keluarga hasan basri hafidz cilik dari pulau nias

Rumah sederhana yang menghasilkan para penghafalAl Qur’an

Bergetar hati ini saat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seperti apa rumah yang mereka tinggali. Benar, sebelumnya mereka telah bercerita tentang kesederhanaan hidup, tetapi sangat berbeda efeknya saat melihat langsung.

Rumah setengah permanen, bagian bawah tembok, bagian atasnya papan dengan atap seng. Itupun bukan rumah sendiri, hanya dipinjamkan oleh orang yang mengharap keberkahan dari tetesan air wudhu keluarga ahli ibadah ini.

Rumah yang hanya berjarak sekitar 7 sampai dengan 15 m dari bibir pantai sesuai pasang surut air laut. Sebelum masuk rumah, saya sudah sibuk mengagumi pantai yang sangat cantik itu.

Segera saya masuk setelah dipersilkan. Menyibakkan sehelai kain yang dijadikan tirai pintu depan. Bisa membayangkan? Pintu luar dipasang tirai?

Di ruang tamu, kalau boleh disebut begitu, terhampar tikar pandan yang terlihat sudah tua. Saya segera masuk ke ruang tengah yang dibatasi dengan tirai berlapis dua. Lapis pertama dikaitkan sebelah kiri, sedang lapis kedua dikaitkan ke dinding sisi kanannya, sehingga saat satu lapis tersibak, ada lapis kedua yang menutupi ruang bagian dalam.

Saya sudah beberapa kali bertemu istrinya untuk wawancara, saat beliau berkunjung ke Lampung. Di rumah, hanya ada Abdullah, anak kelima yang berusia sekitar 10 tahun, yang sudah hafal qur’an 30 juz saat usia 5 tahun dan kini sudah hafal juga lebih dari 500 hadits, masyaallah.

Setelah menanyakan kabar, kami bergabung dengan para bapak, menyerbu durian Nias yang mantab rasanya.

Dengan hadir di sana, saya lebih menjiwai apa yang telah dilakukan oleh keluarga ini dalam melahirkan para penghafal Al Qur’an, bukan sekedar hafal mulut, tetapi ke depan akan menjadi para ulama pembimbing umat.

Semula, berniat melihat bagaimana praktek langsung mereka mendidik anak-anaknya hingga bisa hafal qur’an di usia dini, bahkan ada yang di usia 5 tahun, tetapi justru kami mendapatkan jauh lebih banyak dari sekedar teknis membimbing belajar mereka.

Saya menyaksikan bagaimana pengejawentahan iman dalam kehidupan nyata mereka. Bagaimana mereka berusaha menghadirkan suasana kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam dan para sahabat ra.

Bagaimana meneladani itu tidak hanya dari sisi ibadah mahdoh, tapi seluruh aspek kehidupannya. Menjaga kemesraan antara suami istri, mencontoh kesederhanaannya, mendidik anak.

Humairoh” panggilan kesayangan Rasulullah Saw. kepada Aisyah ra. Istri kesayangannya, saya dengar berulang ulang selama saya tinggal di sana.

Bagaimana anak yang begitu taat pada orang tua.

Disiplin dengan program yang rutin dilakukan, walaupun ada tamu/orang lain.

Pergi sholat jamaah ke masjid walau cuaca hujan dan lokasi masjid agak jauh.

Hijab yang sangat terjaga, dari hijab rumah sampai cadar.

Saya bisa membayangkan keseharian keluarga ini dalam proses menghasilkan anak-anak yang hafal Al Qur’an.

Dan setelah ini, tugas saya adalah menuangkannya dalam bentuk tulisan agar lebih banyak lagi keluarga muslim yang terinspirasi dan mengikuti jejaknya dalam kegigihan dan kesabarannya mendidik anak.

Kapan terbitnya? Doakan segera terwujud. Agar tidak tertinggal info, ikuti akun instagram saya @neny_suswati atau akun fb dan fp saya, Neny Suswati.

Sebelumnya Nias, pulau dengan pantai yang cantik

4 Comments

  1. Masturi Istamar Suhadi Usman Februari 7, 2019
    • nenysuswati123 Maret 19, 2019
  2. Rita Maret 2, 2019
    • nenysuswati123 Juni 11, 2019

Add Comment