Mengurai Permasalahan Remaja Bersama Biro Psikologi Harmoni

mengurai permasalahan remaja

Workshop Mengurai Permasalahan Remaja

Mengurai permasalahan remaja,…orang tua mana yang tidak ingin bisa?

***

“Masih perlu ikut? Kan sudah menangani 5 anak sendiri dan remaja-remaja lain?”

Itu komentar suami, saat saya mengutarakan maksud ikut workshop yang diselenggarakan Biro Psikologi Harmoni ini.

“Ilmu, kan, harus di-update terus, apalagi sekarang ketambahan 9 santriwati yang dari bangun tidur sampai tidur lagi berinteraksi.”

Demikianlah…walaupun sering membaca tentang parenting, permasalahan remaja, ikut seminar dan workshop sebelumnya, selalu…setiap ada tawaran seperti ini…tertarik! Belum lagi, sebagai blogger, ada dorongan hati untuk selalu berbagi ilmu yang didapat, lewat tulisan. Walaupun yang dibagi hanya sebagian. Bisa dibayangkan, kalau saya harus menceritakan detail aktivitas dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore? Yang jelas, mengalami sendiri akan lebih asyik dari sekedar membaca yang diceritakan orang lain.

Alhamdulillah, Allah memberikan rizki melalui sahabat-sahabat yang baik hati, sehingga berkesempatan mengikuti acara ini.

***

Minggu pagi, menjelang jam 7.

“Ayo, Bi!”

“Acaranya dimana?”

“Bukit Randu.”

“Lho, kirain di Gedung Meneng, katanya acaranya Biro harmoni?”

“Benerrrr, yang ngadain Biro Harmoni, tapi tempatnya nggak mesti dikantornya, kalee!”

“Yaa, Abi ada janji dengan pasien jam 7.”

Aiiih! Si Abi! Padahal saya mengalokasikan waktu satu jam untuk perjalanan.

“Terusssss?”

“Naik grabcar aja, ya…ya…ya…biar nggak kena angin, Umi kan belum sehat banget.”

Sebenarnya iya, badan masih terasa agak demam, kepala berat, hidung berair.

“Yo wes, lah. Ga pa pa, nih, Umi nggrab sendiri?”

“Untuk kondisi saat ini, insyaallah, itu yang terbaik, bismillah.”

Benar juga, baru keluar dari kompleks perumahan, rinai hujai perlahan turun, menambah ademnya pagi yang belum sempurna menampakkan sinar mentari.

***

2 menit sebelum jam 8, saya sampai di depan pintu ruang Cendana. Masih gerimis dan sang driver sangat baik hati menurunkan di depan pintu gedung yang letaknya persis di sebelah lobby hotel Bukit Randu.

Sebagian peserta sudah hadir, panitia menyambut saya dengan ramah.

mengurai permasalahan remaja

Panitia siap sesuai waktu yang dijanjikan

Setelah bertemu Bu Wulan, sahabat yang menjadi salah satu trainer, dan menyalami beberapa panitia, saya mengambil posisi di luar lingkaran tempat duduk peserta, lho…kok? Iya, saya peserta istimewa, he he he. Maksudnya supaya mudah mengambil gambar tanpa mengganggu aktivitas peserta lain.

***

Saya suka pengaturan acaranya, to the point, tanpa seremoni yang menghabiskan waktu.

Diawali pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan senam, hanya sebentar, lalu masing-masing peserta mengenalkan diri. Cukuplah untuk mencairkan suasana agar terasa akrab antara sesama peserta dan trainer yang ikut melebur.

***

mengurai permaslahan remaja

Ibu Wulan menyampaikan materi Memahami Remaja

Sesi pertama, Ibu Wulan Irodatiah R, S.Psi, Psikolog menyampaikan materi tentang Memahami Remaja.

Secara teori, bagi yang senang membaca, mungkin sudah pernah mendapatkan sebagian materi ini, tetapi tak ada salahnya saya sampaikan, sekedar untuk menyamakan persepsi, untuk memahami karakter umum yang ada pada remaja.

Terlepas dari konsep Islam yang tidak mengenal masa remaja, secara keilmuan kita melihatnya dengan kaca mata psikologi umum.

Menurut WHO, yang disebut remaja adalah orang yang berusia antara 10 sampai dengan 19 tahun.

Di masa ini, biasanya remaja akan mengalami masa transisi kritis, dimana terjadi perubahan-perubahan fisik yang menjadi faktor terbesar timbulnya kecemasan dan emosi yang tidak stabil.

Ketidak pahaman siremaja maupun orang-orang di sekitarnya tentang perubahan dan efek yang menyertainya,menjadi faktor terbesar timbulnya masalah-masalah.

Di masa remaja juga terjadi perubahan sangat pesat dalam pertumbuhan dan perkembangan, kedua setelah masa bayi. Kalau kita perhatikan tumbuh kembang bayi pada bulan-bulan awal kehidupannya, begitu pesat. Ukurannya adalah dengan membandingkan dengan ukuran saat bayi lahir. Maka di awal-awal bulan kita akan mendapatkan kelipatan yang luar biasa, kemudian semakin bertambahnya waktu, perkembangan itu perlahan melambat, hingga memasuki usia remaja awal.

Mari perhatikan remaja putri di saat masuk usia remaja, diawali dengan tanda-tanda perubahan fisik: datang bulan, perkembangan pesat di bagian tubuh tertentu,yang itu tentu mempengaruhi kepercayaan dirinya karena akan berubah tampilan.

Juga perhatikan remaja putra: perubahan suara yang tiba-tiba, pertumbuhan badan yang biasanya melesat, tumbuh kumis, jerawat, yang tentu saja mempengaruhi penampilannya.

Perubahan-perubahan itu tentu mempengaruhi jiwanya, kepercayaan diri dan kesiapan mentalnya, yang itu semua sangat dipengaruhi oleh  pola asuh yang diterimanya selama ini.

Ada satu saat penting yang tidak boleh diabaikan oleh muslim terkait dengan masa remaja ini, yaitu masa baligh, dimana anak perempuan ditandai dengan datangnya haid pertama dan anak laki-laki saat mimpi basah pertama. Itu sebagai tanda bahwa yang bersangkutan sudah melewati masa kakak-kanak, dimana saatnya masuk masa bertanggung jawab terhadap semua laku perbuatannya. Wajib melaksakanan dan menjalankan syariat Allah.

Orang tua berkewajiban menyiapkan sebelum sampai waktunya, sehingga tidak terjadi dimana anak sudah baligh tapi meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim, seperti sholat lima waktu, puasa di  bulan Ramadhan dan lain-lain.

Apa saja tahapan penting perkembangan di usia remaja yang harus diperhatikan?

Di usia remaja, kematangan fisik dan seksual terjadi. Apa yang diperoleh sebagai asupan di masa-masa sebelumnya tentu akan sangat berpengaruh dalam bagian ini. Gizi yang baik akan menopang perkembangan fungsi organ dan hormonal secara baik. Kematangan seks umumnya dipengaruhi oleh perubahan hormon-hormon testosteron dan estrogen. Perkembangan seksual secara fisik, dibarengi dengan perkembangan psikoseksual yang lebih rumiit.

Selain itu, ada juga perkembangan emosi yang sering menjadi penyebab munculnya masalah-masalah pelik di usia remaja.

Ciri umum emosi dan sosial remaja:

Labil, masa transisi dari anak-anak yang aman di bawah perlindungan orang tua menuju masa keterikatan dan perlindunganitu harus berkurang karena rasa malu. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan anak-anak yang harus nurut diatur-atur orang tua.

Memiliki ketertarikan seksualitas. Sangat wajar jika remaja mulai tertarik dengan lawan jenis. Persiapan dimasa-masa sebelumnya yang dilakukan oleh orang tua dan pendidik, sangat menentukan bagaimana mereka menyalurkan naluri alamiahnya ini. Nilai-nilai yang ditanamkan akan nampak dalam pilihan sikap mereka dalam pergaulan dengan lawan jenis.

Peran pertemanan yang sangat besar. Masa-masa sangat rawan,dimana ketidak pahaman remaja atau orang tua seakan memaksa siremaja harus memilih orang tua atau temannya.

Sikap negativistik, selalu mencurigai orang lain terutama orang tua sebagai pihak yang akan menghalangi berbagai keinginan remajanya.

Ingin dianggap mampu dan dewasa. Ini hal positif yang jika diapresiasi dengan proporsional akan menuntun remja menuju manusia dewasa dengan selamat.

Mulai muncul rasa tanggung jawab akan masa depan. Remaja butuh dukungan dan bimbingan dengan cara yang tidak menggurui atau arogan. Mereka butuh sahabat untuk meniti masa depannya.

Pergerakan menuju kemandirian sosial/ekonomi. Harus dibantu, diapresiasi dan dibimbing.

Perkembangan identitas, lingkungan dan bimbingan yang baik akan membantu remaja mengembangkan identitas dirinya sesuai dengan tugas perkembangannya.

Peningkatan ketrampilan untuk menjalin hubungan yang dewasa dan memainkan peran dewasa.

Begitu banyak tantangan dan tekanan di masa remaja yang kadang kala membuat orang tua sangat kewalahan. Cara paling ampuh untuk menanganinya adalah dengan knowledge/pengetahuan.

Problematika yang sering muncul:

  1. Konflik dengan orang tua disebabkan adanya perbedaan generasi; hal ini meliputi perbedaan harapan, keinginan, nilai, dll. Generasi baby boomer tentu berbeda harapan, keinginan serta nilai yang mendasari sikaphidupnya dengan anak-anak milenial yang mempunyai ciri semua serba instan. Tetapi perbedaan ini bukan tidak bisa dijembatani. Komunikasi yang efektif didasari pemahaman tentang tumbuh kembang remaja, tentu bisa menemukan solusi terbaik.
  2. Masalah sekolah; prestasi rendah,bolos, bulliying, tidak disiplin, dll.
  3. Masalah pergaulan; pacaran, pergaulan bebas.
  4. Korban, kecanduan dan penyimpangan(pelecehan seksual, game online, pornografi, alkohol,lgbt, dll.
  5. Stress, depresi, ingin bunuh diri.

Bagaimana berbagai permasalahan di atas bisa dikelola dengan baik?

Jawabannya ada pada sesi berikutnya, tetapi ada sedikit cerita pengalaman pribadi yang mungkin bisa jadi gambaran.

Saya ingat dengan beberapa pengalaman dengan anak-anak saya, terkait bagaimana mengatasi perbedaan generasi.

Anak pertama, kelahiran tahun 1995, yang mengenalkan saya dengan dunia medsos. Di tahun 2012, saya baru berkesempatan memiliki komputer sendiri, dan sedikit-sedikit dikenalkan dengan dunia internet. Dia membuatkan saya alamat email, akun G+, akun facebook, tweeter, bahkan blog dan belakangan akun IG. Kadang saya tertawa, dimana ibu-ibu lain dihalangi anak-anaknya untuk kenal dunia medsos karena khawatir terperosok dan lalai, sedang saya dimanjakan dengan fasilitas lengkap untuk masuk dunia maya.

Anak kedua, pernah enggan bermedsos dan beranggapan bahwa medsos lebih banyak mudhorotnya. Saya sampaikan baik buruknya medsos tergantung pemakainya, ibarat pisau, tergantung pada penggunanya.

Anak ketiga pernah memblockir akun fb saya, mungkin karena saya sering mengomentari upload gambarnya. Hmm, artinya saya akan kehilangan kontrol dan tidak dapat mengawasinya. Ketika ada kesempatan dia menginginkan sesuatu, maka saya ajukan syarat untuk membuka blockirannya.

Yaa, sekali lagi, kuncinya ada pada komunikasi.

Waaaah, itu baru tentang sesi satu dari workshop ini. Hmm, lebih seru lagi pada sesi berikutnya, bagaimana menyelaraskan diri antara orangtua-remaja.

mengurai permasalahan remaja

Foto bersama; trainer,panitia dan peserta

Oh, ya, tentang Biro Psikologi Harmoni sendiri, bagi keluarga kami sangat akrab. Walaupun tidak semua, tapi anak pertama kami adalah salah satu klien yang pernah mendapat sentuhan dari psikolog yang menggawanginya, yang menjadi trainer pada workshop ini.

Selain melayani konsultasi, yang biayanya sama sekali tidak mahal jika dibandingkan dengan bantuan yang didapatkan orang tua dan anaknya, juga menyediakan beberapa perangkat tes psikologi yang dibutuhkan oleh orang tua saat mengarahkan anak-anaknya dengan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. Biasanya terkait potensi, bakat serta kecenderungan anak. Workshop ini merupakan salah satu bentuk pengabdian Harmoni kepada masyarakat yang sekaligus menjadi sarana mengurai permasalahan bersama yang banyak di hadapi di masyarakat.

Lebih detail, bisa menghubungi kontak person di fliyer di atas, ok.

12 Comments

  1. Akang Putra September 21, 2018
    • nenysuswati123 September 22, 2018
  2. leantoro September 22, 2018
    • nenysuswati123 September 22, 2018
  3. Emmy Herlina September 23, 2018
    • nenysuswati123 September 28, 2018
  4. Naqiyyah Syam September 24, 2018
    • nenysuswati123 September 28, 2018
  5. Desy LA September 27, 2018
    • nenysuswati123 September 28, 2018
  6. Betty Permana Oktober 8, 2018
    • nenysuswati123 Oktober 18, 2018

Add Comment