Menjadi Ibu Cerdas, Bijak dan Bahagia, Mungkinkah?

Saat menjadi seorang ibu, kecantikan wanita bukan lagi hal utama, karena dalam menjalani perannya, lebih dibutuhkan kecerdasan kebijakan dan hati yang bahagia

Menjadi ibu cerdas, bijak dan bahagia, mungkinkah?

Saya ingin sekali menjawab: mungkin dan sangat bisa! Akan tetapi, semua kembali kepada individu yang bersangkutan, terutama masalah bahagia, karena bahagia bersifat sangat personal, menyangkut rasa.

Cerdas

cerdas/cer·das/ a 1 sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran: sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi orang yang — lagi baik budi; 2 sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat): biarpun kecil badannya, tidak kurang — nya; (KBBI Online)

pintar/pin·tar/ a 1 pandai; cakap: ia termasuk anak yang — di kelasnya; 2 cerdik; banyak akal: rupanya pencuri itu lebih — daripada polisi;3 mahir (melakukan atau mengerjakan sesuatu): mereka sudah — membuat baju sendiri (KBBI Online)

“Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya.” Orang itu bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Berdasarkan pengertian di atas, izinkan saya menggarisbawahi, cerdas dalam tulisan ini sebagai sebuah kondisi dimana seseorang mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dengan kemampuan berpikirnya dan memilih solusi yang berorientasi pada persiapan kehidupan setelah mati.

Kehidupan merupakan kumpulan masalah yang silih berganti kita hadapi, ada yang berat ada juga yang ringan, walaupun tidak ada kesepakatan kriteria, masalah yang seperti apa yang termasuk berat dan yang bagaimana juga yang tergolong ringan.

Berat ringannya masalah, tergantung pada anggapan yang menghadapinya. Sebuah masalah dianggap super berat oleh A, misalnya, ternyata bagi B itu masalah biasa saja, bahkan menurut C, itu bukan masalah, karena dalam pandangannya masalah itu begitu ringannya.

Orang cerdas akan memilih solusi yang paling menguntungkan untuk keselamatan hidup akhiratnya, karena biasanya, langkah yang berorientasi pada kehidupan akhirat, juga memberikan kebaikan pada kehidupan dunianya.

 

Bijak

bijak/bi·jak/ a 1 selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir: bukan beta — berperi; engkau memang –; 2 Mk pandai bercakap-cakap; petah lidah (KBBI Online)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (bijaksana) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Terjemah QS. An-Nahl:125)

Bijak, merujuk pada seseorang yang apabila mengambil keputusan penuh pertimbangan dan adil, berdasarkan tuntunan Allah Yang Maha Bijaksana.

Adil menurut manusia bersifat nisbi, relatif, sedang keadilan yang berdasarkan tuntunan Allah, tentu lebih universal, karena Allah Maha Tahu ukuran dan kondisi manusia sebagai makhluk ciptaannya.

Ciri dari keputusan bijak adalah sesedikit mungkin menimbulkan korban atau kerugian, serta memperbanyak pihak yang diuntungkan.

 

Bahagia

bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan): — dunia akhirat; hidup penuh –; 2 a beruntung; berbahagia: saya betul-betul merasa — karena dapat berada kembali di tengah-tengah keluarga (KBBI Online)

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.“ (QS Asy-Syura : 20)

Bahagia adalah rasa positif, seperti senang, gembira, tenang, nyaman, dan sejenisnya. Allah mengaitkan rasa bahagia dengan keuntungan, karena pada dasarnya manusia selalu ingin beruntung dan menghindari kerugian.

Banyak orang mensyaratkan sesuatu untuk bisa berbahagia, misalnya, bahagia saat semua anggota keluarga sehat. Atau saat mendapatkan rizki yang berlimpah, atau harapan dan cita-citanya tercapai, sehingga berbagai upaya dan kerja keras, bahkan dengan biaya mahal, dilakukan untuk mencari atau menggapai bahagia.

Haruskah seperti itu?

Mari kita renungkan, untuk menemukan hakekat bahagia.

Kunci dari bahagia adalah persyaratan yang kita tentukan sendiri.

Kalau dengan mensyukuri apa yang ada, menerima dengan ridho kondisi yang ada, maka kita akan merasakan ketenangan dan bahagia.

Kadang kita terlalu terbawa arus. Sebenarnya, saat cape kita hanya butuh istirahat dan tidur nyenyak. Puncak kenikmatan tidur ada pada nyenyaknya, bukan pada mahalnya tempat tidur.

Saat kita lapar, hanya butuh makan yang mengenyangkan dan bergizi, dan itu tidak harus mahal. Hanya saja kita tergiur oleh jenis makanan yang bervariasi juga tempat makan yang mewah dan mahal.

 

Dengan memahami tujuan hidup, kita akan lebih bijak dan bahagia dalam menjalaninya

Menjadi ibu cerdas, bijak dan bahagia, mungkinkah?

Sangat mungkin, asal tahu bagaimana cara mencapainya.

Pertama, kita harus paham untuk apa kita hidup di dunia ini. Benar, kita tidak memintanya, semata-mata menerima begitu saja saat kita diberi kehidupan, bahkan kita tidak mempunyai wewenang sepenuhnya terhadap kehidupan yang kita jalani. Dengan memahami tujuan dihidupkannya kita, maka ada upaya untuk mencapainya. Dari mana tahu apa tujuan dihidupkannya kita di dunia? Tentu informasi itu dari yang memberi kehidupan.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat:56)

Namanya mengabdi, artinya seharusnya kita patuh pada Allah, yang telah menghidupkan kita.

Kedua, kecerdasan yang kita miliki seharusnya terus digunakan dan diasah untuk terus memikirkan, mana-mana yang bisa digolongkan pada bentuk pengabdian, mana-mana yang tidak. Ini sebagai sebuah alarm, saat kita menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup.

Ketiga, terus menambah wawasan dan tadabur agar semakin bijak memandang suatu permasalahan sehingga mampu memilih solusi yang menguntungkan banyak pihak dan meminimalisir kerugian atau hal-hal yang tidak bermanfaat.

Keempat, terus berlatih menata hati menghadapi kenyataan yang jauh dari harapan. Yang perlu selalu diingat, bahwasanya tak akan ada hal yang terjadi tanpa izin Allah. Dari setiap takdir, hendaknya kita mampu mengambil pelajaran yang bisa kita gunakan untuk menghadapi permasalahan berikutnya. Disesalipun tak akan berguna, lebih baik diikhlaskan dan berusaha lebih baik lagi.

Kelima, memahami hal-hal yang menjadi penghalang bahagia dan berusaha menetralisirnya, yaitu rasa sedih, kecewa, marah, khawatir, takut berlebihan, terlalu banyak angan-angan. Selain menghalangi bahagia, perasaan negatif itu juga potensial mendatangkan penyakit.

Jadi, sangat mungkin, kan kita menjadi ibu yang cerdas, bijak dan bahagia?

Add Comment