Menyelaraskan Diri antara Orang Tua – Remaja

Menyelaraskan diri antara orang tua – remaja, siapa yang lebih dulu harus melakukannya?

Tentu orang tua, yang diharapkan mampu berfikir lebih dewasa dan lebih banyak pengalaman hidup.

menyelaraskan diri antara orangtua-remaja

Sesi 2, menyelaraskan diri orangtua-remaja

Masih seputar Workshop Mengurai Permasalahan Remaja  bersama Biro Psikologi Harmoni.

Sesi kedua, Ibu Dra. Renyep Proborini, M.Ed, Psikolog, memegang kendali. Beliau memberi pengantar sekedarnya, kemudian meminta peserta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di worksheet 1.

Dengan diiringi musik lembut, peserta menjwab 3 pertanyaan secara tertulis.

  1. Peristiwa apa yang membuat anda ingat kepada Allah?

Saya tak mungkin menjawab pertanyaan ini dengan sempurna dalam sesi workshop, bakal menghabiskan waktu berapa menit atau jam, mungkin. Pertanyaannya terbuka, tidak dibatasi berapa peristiwa, akhirnya saya menjawab dengan lebih mengerucut, hanya peristiwa yang mendatangkan sejenis perasaan yang paling sering dan segera membuat saya ingat kepada Allah. Masyaallah, bahagia setiap anak mendapatkan pencapaian, prestasi, kebahagiaan, sebuah kesadaran bahwa itu semua adalah karunia Allah, membuat saya segera ingat kepada Allah.

2. Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan apa saja yang anda teringat dan membutuhkan Allah?

Seperti pertanyaan pertama, begitu banyak kegiatan yang bisa saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan kedua, tetapi saya memilih jawaban singkat yang terkait dengan tema workshop, yaitu saat menghadapi kebuntuan komunikasi, terutama dengan anak. Kenapa sangat membutuhkan Allah? Karena saya sepenuhnya sadar bahwa saya sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki hati, dan tidak ada yang bisa membolak-balikkan hati manusia tanpa izin Allah. Dialah pengendali hati.

3. Apa hubungan anda, anak anda dan Allah?

Dug!

Terasa ada yang meninju dada dengan keras! Benar-benar menohok! Saya mulai meraba, ke arah mana kelanjutan sesi ini? Tetapi saya harus menjawab pertanyaan ini, supaya tidak ada tahapan yang terlewati dari.

Bismillah! Saya seorang hamba Allah, ibu dari anak-anak yang diamanahkan Allah untuk saya rawat, asuh dan didik. Saya bertanggung jawab kepada Allah, mengembalikan amanah itu dalam kondisi seperti yang dikehendaki-Nya, sebagai hamba yang taat.

Saya merasakan bobot pundak meningkat, berat! Betapa besar tanggung jawab itu di zaman yang luar biasa seperti sekarang ini.

Setelah semua peserta selesai menuliskan jawabannya di lembar masing-masing, Bu Rini mulai mengarahkan peserta, dimana keberadaan diri dalam siklus kehidupan di alam ini. Bagaimana paradigma berpikir tentang kehidupan akan menentukan seseorang mewarnai kehidupannya.

Sebuah pernyataan yang menarik dari Ibu Rini: Semua yang ada merupakan fasilitas dari Allah. Jika semua fasilitas itu hanya untuk mengikuti kesenangan pribadi yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, maka Allah akan menggiring kita pada PENYADARAN, dimana posisi kita dalam siklus kehidupan ciptaan Allah.

Di awal sesi sudah terlihat satu-dua peserta yang baper. Sebenarnya saya juga, tapi berusaha untuk tidak segera menampakkan, masih bisa ditahan. Ah, dasar! Jaim!

Berikutnya peserta diminta menyelesaikan 10 pertanyaan di worksheet 2. semuanya tentang diri sendiri: ciri fisik, kesehatan, perasaan, isi pikiran, harapan terhadap diri, pasangan dan anak, kehidupan sosial kemasyarakatan.

Selanjutnya, latihan satu.

Peserta diminta untuk duduk dengan posisi ternyaman. Kemudian, dengan diiringi musik relaksasi, Ibu Rini memberikan komando dengan suara yang lembut:

Lemaskan seluruh tubuh anda, perlahan, dari kaki, lemaskan, tangan, leher, kepala, lemaskan…lemaskan.

Resapi apa yang sedang anda rasakan sekarang…jika dada anda terasa sesak, berikan rasa kasih sayang bagi diri anda…

Ups! Stop! No…no…no, saya nggak mau terlarut…ini hipnosis…ya ya ya, saya pernah ikut pelatihan hipno terapi. Ha ha ha, curang! Saya nggak mau terlarut, mau nonton aja.

Saya terus memperhatikan arahan Bu Rini, tanpa melaksanakan, justru memperhatikan peserta lain.

“Anda sekarang merasakan tenang…pikirkan tentang diri anda, tubuh anda, kesehatan, perasaan, kehidupan sosial dan harapan anda.”

“Sekarang…buka mata anda…apa yang anda rasakan? Sampaikan pada pasangan duduk anda.”

Ya, seperti yang pernah saya rasakan dulu saat ikut pelatihan hipnoterapi, terlihat sebagian peserta mengusap air mata. Saya paham apa yang sedang bergejolak dalam perasaan mereka, terutama yang sedang menghadapi banyak permasalahan hidup.

Apa yang ingin dicapai dari worksheet 2 dan latihan satu ini?

Memahami diri!

Apa pentingnya?

Pemahaman tentang diri menunjukkan kemampuan untuk mendeteksi berbagai perubahan pikiran, perasaan dan akan menuntun pada pemahaman, apa yang menyebabkan perubahan perilaku kita.

Pemahaman diri merupakan dasar kualitas hubungannya dengan orang lain, terutama orang-orang terdekat.

Jawaban pertanyaan worksheet 1 dan 2 akan menggiring kita dalam mempersepsikan diri.

Berikutnya, peserta diminta mengerjakan worksheet 3 yang berisi pertanyaan seperti worksheet 2, tetapi obyeknya anak anda. Jawaban pertanyaan ini akan menggiring peserta pada pemahamannya tentang anaknya.

Selanjutnya, latihan 2.

Kali ini saya ikut, karena berkaitan dengan worksheet 3.

Ibu Rini memimpin dengan menyampaikan tindakan yang harus dilakukan peserta.

Pejamkan mata…bayangkan anak anda yang selama ini banyak menyita pikiran…bayangkan wajahnya…perilakunya…sikapnya…apakah yang dia pikirkan tentang anda…bagaimana interaksi anda tentang dia?

Nyerah, deh…nyerah…nyerah…saya nggak mampu lagi menahan guliran embun di sudut mata.

Saat mengisi worksheet 3 dan latihan 2, saya memilih Hafa, anak kelima yang saat ini berusia 13 tahun. Saya pilih dia bukan karena paling banyak menyita pikiran, tetapi dia yang saat ini paling dekat dan dalam pengasuhan langsung, sedang kakak-kakaknya relatif sudah stabil melewati gejolak usia remajanya dan secara fisik jauh, sedang belajar di tempat lain.  Hafa yang lembut, peka…sudahkah saya memahaminya dengan baik? Selaraskah harapan saya terhadapnya dengan apa yang diimpikannya? Hu hu hu, sampai menuliskan inipun, saya masih kembeng-kembeng. Ya Allah, jagalah dia.

Apa tujuan dari latihan ini?

Memahami anak, peserta digiring untuk mengevaluasi persepsinya selama ini terhadap anak.

Adakah perbedaan persepsi antara orang tua-remaja?

Perbedaan persepsi, perbedaan keinginan antara orang tua dengan remajanya, akan banyak menimbulkan permasalahan jika tidak dijembatani dengan baik.

Bagaimanakah cara menjembataninya?

Hmm…tunggu postingan berikutnya tentang komunikasi efektif, ya.

Oh ya, untuk orang tua yang sudah butuh dibantu dalam hal komunikasi dengan remajanya untuk segera mengatasi berbagai permasalahan yang sudah timbul, saya anjurkan untuk tidak segan berkomunikasi dengan Biro Psikologi Harmoni. Mungkin ada hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang tua, apalagi yang selama ini sebatas mengandalkan naluri dalam mendidik anak.

8 Comments

  1. Emmy Herlina September 30, 2018
    • nenysuswati123 Oktober 14, 2018
  2. Desy LA September 30, 2018
    • nenysuswati123 Oktober 14, 2018
  3. Naqiyyah Syam September 30, 2018
    • nenysuswati123 Oktober 14, 2018
  4. Novriyanti Oktober 2, 2018
    • nenysuswati123 Oktober 14, 2018

Add Comment