Muslimah yang Bertaqwa Sepanjang Masa

21 September 2017

Jam 04.50 saya keluar dari rumah, diantar suami ke pool Damri. Informasi dari panitia, bus terpagi dari Bandarlampung jam 05.00, biasanya Damri disiplin unuk jam pemberangkatan.

Perhitungan kami meleset, setibanya di pool, kata petugas, bis ke jurusan Way Abung batu saja berangkat.

“Ke bunderan , Bi, mungkin masih di sana,” saran saya dari boncengan motor. Di bunderan memang tempat mangkal bus, atau berhenti sebentar mengambil penumpang.

“Alhamdulillah, masih ada.”

05.13 bis berangkat menyusuri pagi yang dingin. Tilawah dengan aplikasi Al Qur’an di tab mengiringj perjalanan. Panitia memang mewanti-wanti naik Damri, supaya sampai di tempat tidak terlalu siang, sempat iatirahat, sebelum mengisi pengajian akbar interaktif kecamatan Tulang Bawang Udik, kabupaten Tubabar-Lampung.

Ini perjalanan pertama saya ke daerah ini. Belum tahu waktu tempuhnya berapa lama. Memang, sampai desa Gunung Batin, saya pernah melewati jalannya, karena beberapa kali mengunjungi daerah Rawajitu di kabupaten Tuba lewat jalan lintas timur. Dari Gunung Batin sampai lokasi, baru kali ini melewatinya, beruntung hanya sedikit bertemu jalan yang buruk atau sedang dalam,perbaikan.

Sesuai petunjuk, saya turun di Simpang PU dan menunggu jemputan di sana, karena bus tidak melewati desa yang akan saya datangi. Sedikit masalah internet mengganggu komunikasi penjemputan, Alhamdulillah, tidak sampai setengah jam, jemputan datang.

Ketua panitia dan suaminya yang menjemput. Kemudian saya dibawa ke rumahnya untuk sarapan dan sholat Dhuha. Lalu saya diajak ke rumah kontak person yang menghubungi saya yang sekaligus akan menjadi moderator di acara siang nanti.

Setelah membicarakan settingan acara, saya dikenalkan dengan ibunya, yang setelah ngobrol sejenak, tahulah saya bahwa kami seumuran.

Alhamdulillah, ini perjumpaan kami yang pertama, tapi saya merasakan kedekatan dan tak ada hambatan komunikasi.

Saya masih sempat memejamkan mata sekitar sepuluh menit, dan itu cukup menyegarkan badan setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan.

Menjelang Dzuhur saya mandi, dengan air hangat. Mungkin merepotkan tuan rumah, tapi dengan komunikasi yang baik, tak sedikitpun nampak keberatan dari beliau.

“Aku ikhlas, kok,” katanya, seperti dengan sahabat.

Saat saya mandi, beliau menggoreng tempe dan telur, untuk menambah lauk dan sayur yang sudah ada. Sebenarnya panitia sudah menyiapkan hidangan, tapi saya tak ingin mengecewakan beliau.

“Njenengan ki mirip tenan karo bulekku sing nang Banyuwangi, yo duwure, kuninge,” jelasnya. Mungkin itu salah satu faktor yang membuatnya langsung akrab. Waktu yang sangat singkat untuk bisa mempercayai saya mendengar cerita tentang keluarganya.

Setelah makan saya langsung ke lokasi, karena sudah dijemput panitia. Saya disambut istri lurah setempat dan beberapa tokoh serta pengurus pengajian.

“Ibu, silahkan makan dulu,” istri lurah meminta saya, saat masuk rumah di sebelah masjid tempat acara akan berlangsung.

“Waduh, terima kasih, Bu, barusan saya makan tempat ibunya Mbak Heni.” Yaaah, semoga panitia tidak kecewa.

“Di sini kalau pengajian akbar, masak-masak seperti hajatan, Bu, panitianya saja 50an orang” bisik Heni.

Karena tidak jadi makan, saya langsung diajak ke teras masjid, sedang di halaman telah tertata rapi tenda besar dengan panggung megah. Terlihat team qosidah yang tampil juga sudah berpengalman. Pemusiknya terdiri dari bapak-bapak dan remaja putra.

Tidak ada backdrop seperti acara-acara yang pernah saya isi sebelumnya, panggung hanya berisi peralatan musik qosidah dan sound system.

Peserta mulai berdatangan dari majelis ta’lim satu kecamatan. Tempat sudah disiapkan, kurai tertata rapi dengan nama kafilah masing-masing majelis ta’lim.

“Peserta sebanyak ini, bisakah dengan interaktif?” Saya agak meragukan.

“Insyaallah bisa, sudah dikondisikan. Panitia menyiapkan hadiah untuk beberapa kriteria, seperti ketertiban seragam, duduk dan tekun mengikuti acara. Setiap majelis ta’lim diberi kesempatan menyampaikan 1 pertanyaan.” Ketia panitia memberi penjelasan.

 

“Ada berapa majelis ta’lim?” Saya penasaran, melihat peserta terus bertambah. Ada yang berjalan kaki, sebagian naik mobil pick up.

“21 majelis ta’lim. Sekitar 500an orang.”

Wow! Saya harus siap menjawab 21 pertanyaan! Butuh waktu berapa lama?

Jam 13.30 acara dimulai, kemudian tilawah, sholawatan dan sambutan-sambutan, juga pemberian santunan untuk manula tidak mampu.

Nyaris jam 14.15 saya diajak ke panggung oleh moderator.

Ha ha ha, sepertinya ini panggung tertinggi yang pernah saya naiki sebagai pembicara. Seperti naik ke panggung konser musik.

“Ibu Neny akan memberikan pemaparan sekitar lima belas menit dengan tema, Menjadi Muslimah yang Bertaqwa Sepanjang Masa, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Silakan disimak uraian dari narasumbernyang luar biasa ini.” Moderator memberikanmpengantar sebelum saya memegang mike.

Duh! Rsanya gimana, gitu. Luar biasa apanya? Yang luar biasa, kan anak-anak saya, yang bersedia menjafi pasukan penghafal qur’an? Alhamdulillah, Allah memilih anak-anak yang lahir dari rahim saya. Semoga mereka dijaga Allah untuk selalu istiqomah, aamiin.

Sebenarnya tema yang diminta panitia sangat luas, tapi saya membahas hal-hal yang sifatnya aplikatif, karena mereka lebih membutuhkan itu.

Memandang wajah ibu-ibu yang antusias mendengarkan saya bicara itu sangat membahagiakan. Semoga  ada kebaikan yang mereka ambil dari silaturahim ini.

Ternyata, 15 menit adalah waktu yang sangat pendek, saat kita ingin banyak menyampaikan pesan-pesan yang sekiranya berguna. Tapi saya harus menahan diri, mendengar pertanyaan kemudian menjawabnya satu persatu.

Di sesi satu, saat menjawab pertanyaan pertama, saya masih menggunakan kebiasaan menjawab dengan penjelasan panjang lebar, tapi saat akan menjawab pertanyaan kedua, ketua panitia yang stand by di depan panggung mengingatkan saya untuk menjawab dengan singkat, padat dan jelas, mengingat masih banyak pertanyaan, sedang waktu terbatas.

Ok, saatnya menggunakan gaya cerdas cermat! Semoga tidak mengecewakan penanya.

Akhirnya saya meninggalkan panggung setelah menjawab 21 pertanyaan dan membagikan hadiah yang saya bawa untuk kenang-kenangan, bahwa saya pernah menjejakkan kaki di desa Kartaraharja-Tulang Bawang Udik-Tubabar, semoga bernilai wakaf.

Setelah turun, saya langsung diajak makan. Sekali lagi saya mungkin mengecewakan!

“Mohon maaf ibu, saya harus segera berangkat, khawatir tidak dapat bis ke Bandarlampung.” Dengan berat hati, saya mengucapkan itu. Astaghfirullah!

“Ibu nggak nginap?”

“Tidak, Bu, besok pagi ada acara yang harus saya hadiri.”

“Apa nanti nggak lapar di perjalanan?”

“Kalau tidak keberatan, boleh dibungkuskan kuenuntuk di bis.”

“Oh, iya, Bu.” Dengan sigap mereka membungkus bekal untuk saya bawa. Hah! Ternyata tidak hanya kue! Seekor ikan gurame bakar dan ayam goreng. Ya Allah, semoga tahan sampai rumah.

Setelah sholat Ashar, saya diantar ke Gunung Batin, karena di simpang PU sudah tidak ada bis. Lumayan lama menunggu bis dari arah Tulang Bawang. Alhamdulillah, dapat bis yang relatif nyaman, walaupun ada air yang menetes dari ac.

Ada beberapa pesan dari suami masuk, tapi sayabtidak bisa membalas, karena pulsa habis tersedot kuota internet di hp, sedang operator simcard tab tidak ada jaringan. Baru di daerah Natar, sinyal normal dan bisa menghubungi orang rumah untuk penjemputan.

Menjelang jam delapan malam tiba di rumah dengan kondisi badan cape tapi hati bahagia karena sudah menunaikan amanah yang diberikan. Waktunya istirahat untuk persiapan acara seharian esok harinya.

Add Comment