Negeri di atas Awan

Burung diberi sayap untuk terbang di angkasa dan bertahan hidup di udara.

Ikan dibekali sirip dan insang untuk hidup di perairan.

Hewan darat dibekali kaki untuk menapak dan perangkat lain untuk hidup di bumi.

Manusia di beri akal untuk hidup dan menguasai darat, air dan udara.

Demikianlah! Kesempatan kita bepergian bisa dilakukan melalui darat, sungai/laut atau udara, tergantung kondisi, jarak tempuh dan tempat tujuan.

Alhamdulillah, saya berkesempatan bepergian melalui udara di usia hampir 52 tahun.

Mungkin ada yang mentertawakan. . .kasihan. . .bagi saya, tidak masalah, apalagi tersinggung. Justru bersyukur, karena masih lebih banyak orang yang seumur hidupnya tidak pernah naik pesawat udara dibandingkan yang pernah.

Nggak percaya?

Buat survey sendiri, ya! Ha ha ha.

Belajar dari pengalaman langsung, tentu berbeda dengan hanya dari membaca atau cerita pengalaman orang lain. Tentu ada hal-hal subyektif yang orang lain mungkin tidak mengalaminya, atau tidak diperhatikannya.

Biasanya, pengalaman pertama itu mendebarkan! Tapi pengalaman terbang pertama saya, tanpa debaran yang berarti, rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan yang membuat berdebar! Pergi didampingi suami yang sudah sering naik pesawat, jadi segala urusan di bandara tinggal mengekor di belakangnya.

Takut ketinggian? Sepertinya tidak, mungkin pengaruh waktu kecil sering memanjat pohon tinggi bahkan ikut memasang genteng saat Bapak membuat rumah sendiri. ???

Takut terjadi apa-apa saat di udara?

Lah! Kejadian mah, di darat juga sering, dan lagi sepanjang hidup kita memang harus siap menghadapi kejadian-kejadian tak terduga sebelumnya, kuncinya, usaha persiapan maksimal dan tawakkal kepada Allah.

Penerbangan pertama, kedua dan ketiga antara Lampung-Jakarta.

Saya menikmati hal baru, seperti bagaimana sensasinya lepas landas, saat di atas awan, di mana seluruh penjuru yang nampak hanya langit biru, awan putih dengan berbagai formasi, mendung kelabu, semburat mentari dan teriknya saat penerbangan di siang hari, juga kegelapan saat penerbangan malam, sedikit getaran saat pesawat menabrak awan tebal.

Di penerbangan keempat, saya merasakan pengalaman baru.

Penerbangan dari Jakarta ke Pekanbaru dengan pesawat Lion, yang di jadwal tiket akan ditempuh selama 1 jam 55 menit.

Ada perbedaan ketinggian yang saya rasakan.

Kali ini saya sempat tertidur, entah berapa menit atau detik, setelah tilawah setengah juz.

Selain itu, saya juga merasakan gangguan di telinga. Awalnya telinga terasa  tertutup, bergantian dengan waktu sebentar. Lama kelamaan, terasa tertutup semua tanpa jeda, suara mesin pesawat yang berisik semakin halus. Suara penumpang anak-anak yang duduk di belakang saya, yang tak berhenti bicara dan memainkan kursi  terdengar menjauh. Saya coba bicara dengan suami, hanya mampu melihat gerakan bibirnya, tanpa suara. Semakin lama, telinga semakin sakit, seperti ada yang menusuk-nusuk bagian dalam. Sakit yang belum pernah saya rasakan.

Penerbangan terasa begitu lama, rasanya hampir tidak tahan dengan sakit di telinga, tapi apa daya saya? Berteriak? Apa gunanya? Minta tolong pada pramugari? Sepertinya bukan solusi. Saya merasakan sakit ini, sehingga tak terasa air mata meleleh. Hanya satu solusinya, berdzikir dan bermohon kepada Allah.

Sayup-sayup terdengar pengumuman, sebentar lagi akan mendarat. Walaupun kecil, tapi suara itu terdengar, tapi sakit masih saya rasakan, sambil terus berdoa untuk segera sampai, semoga penderitaan ini segera berlalu.

Terasa pesawat menukik, siap mendarat. Tiba-tiba saya merasakan pesawat menabrak sesuatu dan badan terasa melambung tinggi. Saya tidak tahu apa yang terjadi, karena sakit di telinga justru semakin jadi. Rasanya tidak karuan, telinga sangat sakit, ditambah mual akibat lambungan yang baru saja terjadi. Kenapa begitu lama proses pendaratannya?

Saat benar-benar mendarat, sakit telinga banyak  berkurang, suara sudah banyak terdengar. Saya perhatikan wajah para penumpang yang menyisakan ketegangan, dengan beberapa komentar yang saya belum paham.

Saat di mobil baru saya menyadari apa yang terjadi.

Dari cerita suami, saya baru tahu bahwa pesawat tadi gagal mendarat, sudah menyentuh landasan, tapi langsung terbang lagi. Mungkin ada sekitar 10 sd 15 menit di udara, baru kemudian bisa mendarat. Saat kejadian, penumpang berteriak dan menjerit panik. Beberapa barang berterbangan.

Masyaallah! Saya dijaga dari merasakan kejadian itu. Tak ada debaran jantung ketakutan, seperti yang dialami penumpang lain. Saya diberi rasa lain untuk mengalihkan itu.

Sesampainya di bandara, sambil menunggu barang dari bagasi, saya mencari tahu tentang sakit telinga dan hubungannya dengan ketinggian terbang dan bagaimana solusi mengatasinya. Saya harus mempersiapkan diri, karena esok harinya harus menempuh perjalanan yang sama untuk pulang.

Alhamdulillah, dengan info yang saya dapat di internet dan masukan dari teman-teman yang sudah banyak pengalaman terbang, saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Pertama, saya tidak akan tidur di pesawat, walaupun kondisi sangat lelah dan ngantuk.

Kedua, saya akan terus tilawah atau berdzikir dengan bersuara, untuk menggantikan aktivitas mengunyah permen karet yang disarankan, karena saya sedang berpuasa.

Benar! Penerbangan dari Pekanbaru ke Jakarta saya praktekkan!

Hasilnya?

Telinga tetap terasa tertutup, tapi tidak merasakan sakit.

Yang lebih menguntungkan, saat berangkat saya hanya tilawah setengah juz, sedang saat pulang, hampir dua juz. Benar! Al Qur’an adalah As Syifa, obat.

Negeri di atas awan. Betapa kebesaran Allah begitu terasa.

Allah menciptakan langit berlapis-lapis, walau entah, yang saya lewati merupakan langit lapis ke berapa.

Allahu akbar!

 

Add Comment