Nias, Pulau dengan Pantai yang Cantik

“Umi, ada acara apa ke Nias?”

Itu pertanyaan yang diajukan beberapa teman, saat tahu saya akan melakukan perjalanan ke Nias, pilau dengan pantai yang cantik di proponsi Sumatra Utara.

Nias, lho, bukan Liwa di Lampung barat, atau Jakarta atau Boyolali, beberapa tempat yang beberapa kali sudah saya kunjungi.

Nias, pulau ketiga yang saya tapaki, setelah Sumatra dan Jawa.

Mau apa coba, ke Nias?
Kalau ke Jakarta biasanya ada acara yang akan diikuti, Boyolali tempat anak mondok, ke tempat lain biasanya mengisi kajian, seminar atau bedah buku.

Traveling? Liburan?

Wow! Itu sesuatu yang sangat mewah bagi kami, mengeluarkan biaya besar sekedar untuk refreshing. Lebih baik untuk membayar daftar anak masuk sekolah atau bulanan, eeeeh…hutang juga, he he he.

Jadi ceritanya…eeeem…kasih tau, nggak, yaaa?

Baiklah, saya beri bocoran sedikit, ya.

Ada sebuah keluarga sangat inspiratif yang kisah hidupnya ingin dan akan saya bukukan. Alhamdulillah, Allah sambungkan hasrat ini dengan beberapa orang yang punya keinginan mensyi’arkan kehidupan mereka juga, tapi tidak sempat menuliskannya. Nah, salah satunya, seseorang yang mensponsori perjalanan kami, saya dan suami. Bapak yang dermawan ini (sssst, nggak usah kepo, ya, saya belum izin untuk menyebutkan namanya) memfasilitasi kami mengumpulkan bahan untuk tulisan. Jazakallah khoiron katsiro, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlimpah, aamiin.

Nah! Sekalian eksplorasi tempat-tempat yang dilewati, walaupun tidak maksimal, yaaaa, namanya juga nyambi,…sekalian jalan. Begitupun, saya sangat bersyukur dengan perjalanan ini, sekali langkah, beberapa manfaat didapatkan.

Baik, saya akan mulai dari awal, ya.

nias, pulau dengan pantai yang cahtik

Bersiap terbang

7 Januari 2019.
Setelah sholat subuh, kami bersiap berangkat menggunakan grab. Lewat sedikit dari jam 5, grab datang dan kami segera berangkat. Butuh waktu sekitar hampir setengah jam untuk sampai di bandara Radin Intan 2 Natar, Lampung Selatan.

Alhamdulillah, semua lancar sesuai jadwal. Sebelum jam 6 kami sudah diminta ke pesawat, jadwal terbang di tiket jam 06.30.

Nah, kalau pesawat siap terbang, tak ada yang saya lakukan kecuali dzikir, tilawah, ngobrol sedikit atau ngemil. Pengalaman terbang ke Riau beberapa waktu lalu, dimana saya merasakan gangguan di pendengaran, membuat saya berjaga-jaga mencegah, setidaknya mengurangi. Nggak enak kan merasakan telinga budeg dan sakit banget? Menurut info yang saya kumpulkan, kebanyakan menyarankan mengunyah permen karet. Welehhh,  nggak terlalu suka. Saya pikir, bukan pada permen karetnya, tetapi mengunyahnya, artinya rongga mulut tidak tertutup dan diam. Enak dzikir/tilawah, tho? Mulutnya bisa buka tutup, dan bernilai ibadah.

Untuk berangkat, kami dapat tiket dari Lampung – Jakarta – Medan – Nias.

Mendarat di bandara Sukarno Hatta sesuai jadwal, kami transit sekitar 2 jam, menunggu penerbangan ke Medan, yang dijadwalkan pukul 09.50.

Sebenarnya sedikit deg-degan, mengingat lamanya waktu terbang, diperkirakan 2 jam 20 menit, tapi, bismillah, semoga pendengaran nggak terganggu.

Beberapa puluh menit setelah lepas landas, ada pemberitahuan dari petugas bahwa cuaca kurang baik, seluruh penumpang diminta kembali ke tempat duduk dan menggunakan sabuk pengaman. Walaupun disampaikan dengan intonasi tenang, tapi tetap saja membuat khawatir, karena beberapa kali penerbangan, belum pernah mendapat pemberitahuan seperti itu. Okelah, pengen tahu juga cuaca kurang baik yang dimaksud seperti apa, semoga bisa dilewati dan tidak berbahaya.

Saya perhatikan di luar jendela, tapi belum menemukan hal yang disebut kurang baik, hanya terlihat awan. Hujan, kilat, badai, tidak terlihat. Memang terasa getaran pesawat yang agak berbeda. Itu juga hanya sebentar. Saya baru memahami saat penerbangan pulang, ternyata cuaca yang dimaksud kurang baik, saat terlihat pesawat melewati awan seperti kabut asap berwarna agak gelap. Entah, apa yang di luar pesawat.

Jam 12.30 kami mendarat di bandara internasional Kualanamu, Medan.

Di lihat sepintas, mirip tatanan bandara Sukarno Hata, hanya lebih kecil. Mendengar dari pengeras suara, bandara ini sangat sibuk. Jadwal penerbangan  padat, maklumlah, kelas internasional.

nias, pulau dengan pantai yang cantik

Transit di bandara Kualanamu, Medan

Ada waktu sekitar 2 jam transit di sini. Cukup untuk sholat, makan dan istirahat, sebelum melanjutkan ke Gunung Sitoli, Nias.

Sekitar jam tiga sore, pesawat membawa kami ke Nias, pulau yang terkenal karena gempa dahsyat tahun 2005.

Nias, pulau dengan pantainyang cantik

Pesawat yang membawa kami ke pulau Nias

“Pesawat kecil, getarannya lebih kuat,” komentar suami, sebelum naik pesawat. Membuat saya sedikit gamang menaikinya, tapi…bismillah.

Penerbangan Medan ke Gunung Sitoli sekitar satu jam.

Masyaallah, menjelang mendarat pemandangan pantainya terlihat cantik luar biasa.

nias,mpulau dengan pantai yang cantik

Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias

Binaka, bandar udara yang ada di kota Gunung Sitoli, kabupaten Nias, Sumatra Utara. Pesawat yang sempat membuat saya gamang, mendarat dengan cantik, Alhamdulillah.

Seseorang berjubah dan bersorban putih melambai dari luar ruang kedatangan, saat kami menunggu giliran mengambil ransel pakaian. Kedatangan kami ke sini dalam rangka undangan beliau untuk bersilaturahim, memperdalam bahan tulisan.

Dengan mobil sewaan, kami menuju rumahnya yang berada di desa Olora, sebuah nama yang saya sangat sulit menghafalkannya.

Jalan menuju Olora hampir tidak jauh dari pantai, bahkan ada yang mepet. Siapa yang tak suka memandang pantai? Saya sangat sangat suka, walaupun kalau ke pantai, kaos kakipun tidak basah karena enggan mendekat air. Jangan tanya bisa berenang atau tidak, ya? Pasti sudah tau jawabannya.

Hampir satu jam kami dalam perjalanan yang tidak begitu terasa lama karena langsung ngobrol akrab. Memang, beberapa kali kami pernah bertemu sebelumnya di Lampung, sehingga kunjungan ini sebagai penyempurna dari bahan yang saya kumpulkan.

Nias, Pulau dengan Pantai yang Cantik

Mampir di pasar membeli durian

Kami sempat mampir di pasar, membeli durian yang jadi andalan pulau Nias. Walaupun sudah lewat musim, Alhamdulillah, masih ada rizki untuk kami, menikmati lezatnya durian Nias.

Mata ini terpana saat melihat rumah yang menjadi tujuan. Bukan hanya kondisi rumahnya, tetapi juga lingkungannya, melebihi yang saya bayangkan sebelumnya, berdasarkan cerita beliau.

Nias, Pulau dengan Pantai yang Cantik

Pantai di desa Olora, Gunung Sitoli, Nias

Hampir tak berkedip menyaksikan keindahan sore di pantai itu, sampai tuan rumah mempersilakan kami masuk.

Setelah kangen-kangenan dengan istrinya, kami segera menyerbu durian yang tadi dibeli. Benar-benar mantap rasanya, sampai puas di lidah dan perut.

Nias, pulau dengan Pantai yang Cantik

Durian Nias yang mantab rasanya

Bersambung ke Mengunjungi Keluarg Hasan Basri, Hafidz Cilik dari Pulau Nias

14 Comments

  1. Rita Januari 11, 2019
    • nenysuswati123 Januari 14, 2019
  2. Akang Putra Januari 21, 2019
    • nenysuswati123 Februari 1, 2019
  3. Tika Dwi Lestari Januari 22, 2019
    • nenysuswati123 Februari 1, 2019
  4. Desy Listhiana Januari 23, 2019
    • nenysuswati123 Februari 1, 2019
  5. Naqiyyah Syam Januari 24, 2019
    • nenysuswati123 Februari 1, 2019
  6. Slamet Sumardi Januari 24, 2019
    • nenysuswati123 Februari 1, 2019
  7. Septia Januari 24, 2019
    • nenysuswati123 Februari 1, 2019

Tinggalkan Balasan ke Naqiyyah Syam Batalkan balasan