Nilai Parenting dari Kejadian Sederhana

14285331_705954682890947_495429222_o Kemarin, saya mencoba mengambil salah satu judul dari buku Beranda Harish. Kemudian saya minta pendapat teman-teman fb untuk mengambil nilai dari tulisan tersebut.

Ini dia:

***

Makan Ladu
 
Harish mengulurkan hula hup plastik yang sebagian sudah dibongkar.
 
“Umi, tolong lepasin.”
 
“Itu, yang lain Harish bisa?”
 
“Iya, tapi yang ini keras.”
 
Wah, pantas dia nggak bisa, memang keras, kalau tidak tahu selahnya.
 
“Umi, coba kita jadi Bima dan Krisna, ya?”
 
“Memang kenapa?”
 
“Biar hebat! Kalau Bima abis makan buah Ladu, bisa jadi hueebat,” jawab Harish dengan bahasa cedalnya.
 
Tepok jidat! Ini nih korban kotak ajaib, atau Umi yang sok sibuk?
 
Oke, tidak selamanya kita bisa memberikan situasi yang ideal, tapi setidaknya ada upaya untuk meluruskannya. Aku berusaha melepaskan hula hup itu, Alhamdulillah,berhasil.
 
“Nih, Umi nggak makan buah Ladu bisa juga melepas, dengan izin Allah.”
 
Harish nyengir, melanjutkan permainan malam menjelang tidur.
***
Berikut beberapa pendapat yang terhimpun:
“Anak seringkali menganggap nyata apa yang dilihat dan didengarnya, karena dia belum bisa membedakan yang imaji dan kenyataan. Maka peran orangtualah yang perlu pintar dan sabar memberikan penjelasan kepada sianak hingga dia mengerti.” (Ainil Huri)
“Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Sehebat atau sesakti apapun manusia itu karena tangan Allah.” (Rifqi Fuad)
“Imajinasi seorang anak itu sangat luar biasa. Bahkan mampu merangkaikan penjelasan hanya dari yang pernah ia lihat, dengar dan rasakan. Namun sayangnya tidak semua imajinasi itu tepat, sebagaimana mestinya. Di sinilah peran orang tua dalam memberikan pemahaman/tarbiyah yang urgent namun disampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dicerna sesuai kapasitas dan usia si anak.” (Mei Nur Dwianah)
“Kita tidak bisa membuat segala hal yang kita hadapi seperti yang kita inginkan, dalam hal ini memberi pengajaran terbaik bagi anak. Banyak acara-acara televisi dan permainan yang mereka simak dan contoh. Akan tetapi kita mampu membuat ‘hal’ yang kita hadapi itu sesuai dengan yang kita mau jika kita mau mencari tahu, mendampingi, dan memberikan alternatif keteladanan yang dibutuhkan. Insyaallah segala sesuatunya akan berada pada koridor-Nya.” (Nuraeni Ibrahim)
“Pesan utama yang dapat diambil ialah pentingnya peran orangtua dalam mentarbiyah anak. Ketika terjadi ‘kasus’ seperti pada cerita atau semisalnya, maka orangtua berkewajiban meluruskan pemahaman sang anak pada jalur yang benar. Tentunya dengan ucapan yang mudah dimengerti dan penuh kasih sayang.” (Desi Arisanti Syarif)
“Menanamkan nilai tauhid sejak dini. menanamkan nilai-nilai kesabaran dalam berproses mencapai sesuatu. tidak menghakimi anak atas kekeliruannya memahami sesuatu.” (Mawar Dani)

“Menanamkan sugesti yg baik kepada anak adalah hal yang penting…bahwa “La haula wala quwwata illa billah”…tiada daya dan upaya melainkan dari Allah.”(Bintang Eka Lestari)

“Memilah, tontonan apa yang sehat untuk anak-anak.” (Luthfi Luthf)

Pengawasan orang tua terhadap anak. Terutama dalam Tekhnologi Informatika dan Komunikasi. Di situ terlibat media massa (media untuk publik) entah itu televisi atau internet. Ini berkaitan dangan Ghazwul Fikri. Kita orang tua sebagai first filter (filter pertama). Media itu tajam, bahkan lebih tajam daripada peluru. Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun bagaimana dengan opini yang dibenamkan oleh media (film, berita, dll) –bahkan bisa menembus jutaan kepala. Terutama anak-anak kita.”(Ko Jeena)

“Anak mentransfer apa yang dilihat dan didengarnya menjadi sesuatu yang sama dengan itu. Seperti anak saya, Salsabila. Dia sering menjadikan tokoh film frozen, Elsa dan anna adalah tokoh fantasi yang bisa melakukan hal-hal fantasi bisa terjadi di dunia nyata. Semacam membuat semua yang ada disekitar menjadi es, dan bisa membuat rumah dari es. Padahal itu hanyalah film. dan saya sebagai orangtua selalu meluruskan hal itu, bahwa itu hanyalah ciptaan pikiran kita, bukan Tuhan. Dan Allah adalah Tuhan yang menciptakan semuanya. Hanya Allah yang menciptakan kita, pikiran kita dan yang menciptakan film kartun tersebut. hehe ( meski awalnya susah untuk menjelaskan tentang itu pada anak usia empat tahun) namun tetap harus dijelaskan pelan-pelan. Jadi pesan utama di cerita Harish itu adalah : menjelaskan kepada anak, bahwa Allah punya kuasa atas sesuatu dan pengertian Tauhid kepada anak balita dengan baik.”(Rosi Ochiemuh)

“Memfilter ide apa pun dari luar Islam, dengan penjelasan yang memuaskan akal, menentramkan hati, serta sesuai fitrah. Dan sempurnanya lagi ketika ada praktik yang ia lihat secara nyata.”(Uswatun Chasanah Cojou)

“Dari cuplikan ini mungkin kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sesuatu yang keras tidak selalu harus di selesaikan dengan kekerasan, namun harus mencari selah untuk mendapat penyelesaian (jalan keluar).Sedangkan dalam cuplikan berikutnya, menunjukan sikap manusia yang mana selalu ada selah lalai dan tidak sempurna meski telah berusaha untuk menciptakan situasi sebaik mungkin dan menunjukan bahwa segala usaha pastilah bisa asalkan atas ijin dari Allah. Kesimpulannya : manusia tidaklah sempurna dan kunci keberhasilan ialah ikhtiar, sabar dan syukur.”(Ayub Kumala)

” Temani anak saat nonton tv. Film Krisna berlabel ‘BO ( bimbingan orangtua), agar anak tidak tersesat pada apa yang dilihat dan didengarnya.”(Yuzzi)

“Pengingat bagi orang tua, di lingkungan keluarga yang ideal untuk perkembangan anak khususnya soal akidah, sesekali bisa ‘kecolongan’. menjadi orang tua harus siap dengan hal yang tak terduga dan menjelaskan atau meluruskan dengan cara yang mudah dipahami anak.”(Muhsinin Ahmad)

“Mematahkan imanjinasi dengan cara-cara yang santun. Tetap menerangkan apa adanya.”(Soehanggono)

Intinya, pahamkan anak tentang tauhid. Bahwa, semua yang terjadi sebab ijin Allah. Dan memahamkan anak bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tergantung kreatif si ibu mengambil moment.”(Firdaus Ilo)

***

Bahagianya sebagai penulis, jika pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh pembacanya.

Buku ini terdiri dari 6 bab yang memuat kejadian sehari-hari seorang ibu dan anaknya yang berusia di bawah 7 tahun. Kejadian-kejadian itu dikumpulkan dalam setiap bab berdasarkan nilai parenting yang ingin ditanamkan, yaitu:

  1. Mengenalkan Allah
  2. Mengajarkan Al Qur’an
  3. Membiasakan Ibadah
  4. Membiasakan Akhlak
  5. Mengasah Kecerdasan
  6. Membekali Ketrampilan

Minat?

Untuk pemesanan, hubungi fb Neny Suswati atau WA 081379147511

 

 

 

2 Comments

  1. eka lestari ummi sakha September 9, 2016
    • nenysuswati123 September 9, 2016

Add Comment