Nominator Daqu Award 2017

Senjata Terakhir

Kesempatan langka, memang, pergi jauh hanya berdua dengan Abi.

Alhmdulillah, atas undangan Darul Qur’an untuk menghadiri wisuda tahfidz dan penganugerahan Daqu Award, hari Jum’at sore, 19 Mei 2017, kami berangkat ke Jakarta.

Awalnya, fasilitas hanya untuk saya seorang, sebagai salah satu nominator, tapi…entah apa pertimbangannya, setelah wawancara, undangan berlaku untuk dua orang…Alhamdulillah, semua rizki dari Allah dengan cara sampai yang dikehendaki-Nya.

Tidak banyak persiapan, hanya geser-geser agenda yang sudah matang direncankan, termasuk acara coaching menulis bersama Kak Ikhsan dan Mas Dwi Suwiknyo 20 dan 21 Mei 2017. Dengan berbagai pertimbangan dan kordinasi dengan panitia Daqu Award, akhirnya diusahakan tiket yang berangkat 19 Mei sore dan pulang 20 Mei malam, sehingga masih bisa mengikuti yang hari kedua.

Tak disangka, saat mau berangkat, terjadi tragedi di luar dugaan, Harish menangis tersedu-sedu, sedang mobil yang akan mengantar ke bandara siap berangkat, dengan perhitungan tepat waktu.

Panik?

Sedikit!

“Ayo, Mi, terlambat nanti, tinggalin aja, nggak apa-apa!”

“Sebentar, Bi, nambah satu menit insyaallah, nggak terlambat.” Saya berusaha membujuk Harish dan bertanya apa maunya. Matanya menatap dengan tajam.

Firasatkah? Kenapa begini?

Hissh! Bukan!

Sambil mengingat-ingat peristiwa sejenis.

O ow!

“Harish mau, Umi nggak jadi berangkat? Nggak apa-apa Umi nggak jadi berangkat.”

Saya ingat beberapa waktu lalu, saat kami mau ke undangan tetangga, malam hari, Harish juga begini, solusinya saat itu Abi berangkat duluan, saya menyusul setelah menemai Harish hingga tidur.

Tapi…masa harus seperti itu?

“Ayo, Umi!” Sekali lagi Abi mengingatkan.

Saya peluk Harish, kemudian mencium kepalanya, lalu pergi, membiarkannya menangis.

Hmm, senjata terakhir yang tidak juga berhasil mengubah keadaan.

Memang, kemarin sempat mendengar obrolannya dengan Abi, yang secara tersirat ingin ikut.

“Harish nggak bisa ikut, karena sudah besar, harus bayar pesawat sendiri.”

Maaf, ya, Rish, semoga lain kali ada rizki kita bisa pergi sama-sama.

***

Memuliakan Tamu

Bagaimana rasanya saat menjadi tamu, benar-benar dimuliakan? Saat itulah kita merasakan refleksi keimanan dari tuan rumah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

Sebagai salah satu nominator Daqu Award yang diundang pada acara Wisuda Tahfidz Nasional dan Penganugerahan Daqu Award tahun 2017, tanggal 20 Mei di Balai Sudirman, saya merasakan itu.

Setelah semua prosedur penentuan nominator, tanggal 18 Mei, panitia segera mengirimkan tiket pesawat keberangkatan dan kepulangan.

Keesokan harinya, siang hari sebelum keberangkatan, seseorang menghubungi, menyampaikan bahwa yang bersangkutan diamanahi untuk menjemput kami di bandara Soeta.

Saat akan terbang, saya menghubunginya, memberitahukan jam terbang yang sesuai jadwal, supaya bisa diperkirakan, jam berapa kami sampai.

Sesampai di Soeta, seorang pemuda seusia 20an, langsung mengenali saya dan menyambut kami dengan santunnya. Kami didampingi ke tempat parkir mobil jemputan. Ternyata penjemput kami,  Jawad Muyassar, serang hafidz bersanad yang sedang mengambil program  qiro’ah Asyaro, masyaallah. Serasa dijemput Hatif, anak kedua kami yang seumuran dan sedang mengambil program yang sama di Turki.

“Berapa lama perjalanan?” tanya Abi.

“Kalau tidak macet, setengah jam, Pak,” jelasnya.

He he, bukan Jakarta kalau nggak ketemu macet. 2 jam lebih dari Soeta ke hotel Harris di bilangan Tebet.

Di hotel kami disambut penanggung jawab penerima tamu mominator award, lalu disodori kunci kamar.

“Ruang makan buka sampai jam sepuluh, silakan Bapak Ibu, mau langsung makan atau ke kamar dulu. Ini kuncinya, di lantai 5.”

“Untuk berdua?” tanya Abi.

“Suami istri, kan?”beliau balik bertanya, heran mungkin.

Saya tinju lembut lengan Abi atas pertanyaannya yang konyol. Sengaja, mungkin, untuk memancing keakraban, dan benar, kami tertawa-tawa.

Kami putuskan makan dulu, karena sudah hampir jam 9 malam.

Saat memasuki kamar hotel, Abi senyum-senyum penuh arti. Huuuu!???

***

Sebelum jam 6 pagi, Jawad menelpon, menyampaikan agenda berikutnya. Jam 6 kami turun untuk sarapan, kemudian membereskan barang, sekalian chek out, khawatir tidak sempat kembali ke hotel, karena jadwal terbang malam itu langsung pulang, besok ada agenda di Lampung yang tidak bisa ditinggalkan.

Sebelum jam 8 kami diantar oleh salah seorang pemandu yang menggantikan Jawad, ke Balai Sudirman, menggunakan taksi.

Di lokasi wisuda kami disambut panitia yang kemudian mengantarkan ke deretan kursi untuk para nominator Daqu Award. Ha ha, dengan pede saya ambil posisi deretan terdepan di bagian wanita, supaya bisa leluasa mengabadikan momen di panggung.

Benar-benar hari yang mengharukan, berada di lingkungan orang-orang yang berjuang memuliakan Al Qur’an. Saya tidak menemukan cacat sedikitpun dari setiap rangkaian acara. Sebagai orang yang sering terlibat di acara-acara sejenis, yang tentu cakupannya lebih kecil, saya melihat penyelenggaraan acara ini sangat profesional.

Acara berkelas internasional ini sangat membanggakan, beekumpul dengan orang-orang berkualitas, sangat membahagiakan.

Yang paling mengesankan bagi saya, bagaimana acara prosesi wisuda para hafidz, tidak sepwrti biasanya. Tak ada antrian wisudawan yang berbaris ke panggung untuk diwisuda, tetapi justru sebaliknya. Ustadz Yusuf Mansur mendatangi tempat duduk  para hafidzoh dan satu persatu dikalungi medali, sedang Ustadz Anwar Sani mewisuda para hafidz, juga di tempat duduknya. Hanya, pada saat dikalungi, yang bersangkutan berdiri. Sebuah pemuliaan bagi para penjaga Al Qur’an!

Saya merasakan benar-benar dimuliakan, selama kunjungan, sampai terakhir, jamuan makan di lokasi acara wisuda, sebelum berangkat ke Soeta.

Dengn beberapa pertimbangan, kami minta Jawad tidak perlu mengantarkan sampai Soeta, cukup di halaman Balai Sudirman. Lebih baik waktunya digunakan untuk membantu panitia membereskan yang lainnya.

Jazakumullah untuk keluarga Darul Qur’an, barokallahulakum.

Semoga Allah senantiasa memberkahi dan memuliakan orang-orang yang memuliakan Al Qur:’an.

Aamiin.

***

Luas Pandang

Kedatangan Tim Daqu Award untuk konfirmasi kesediaan untuk dijadikan salah satu nominator, menimbulkan tanya.

“Tahu tentang saya, dari siapa?”

“Dari mana beliau mendapatkan info?”

Jawabannya?

“Internet!”

Jawaban ini segera menyadarkan atas situasi yang sedang saya hadapi.

Kesadaran pertama, bahwa ini sebuah keberuntungan saya masuk dunia maya! Kalau tidak, bisa jadi kesempatan ini tidak saya dapatkan, karena selama ini tidak ada hubungan dengan panitia atau Darul Qur’an, bagaimana informasi akan sampai?

Kesadaran kedua, bahwa keberuntungan ini karena keterbatasan luas pandang panitia, walaupun pencarian tidak hanya lewat dunia maya tetapi yakin bahwa semua ini adalah kehendak Allah.

Kesadaran ketiga, bahwa masih sangat banyak yang lebih layak dijadikan nominator dengan segala kelebihannya, hanya tidak terpantau panitia dan sekali lagi, Allah menjaga mereka dari hal ini.

Apakah ini merupakan kekurangan dari penyelenggara penganugerahan award? Atau pengakuan dan pemberian award ini tidak valid?

Sama sekali tidak!

Penyelenggara berhak menentukan kriteria untuk setiap katageri award dan telah berusaha melakukan dengan seadil-adilnya dengan membentuk tim juri untuk menilai setiap nominator.

Apakah saya harus menolak karena tidak layak?

Tidak juga! Allah berhak membagikan rizki dan kesempatan kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya. Saya tidak mengambil hak orang lain.

Alhamdulillah, bukan saya yang terpilih untuk mendapatkan award itu.

Kok senang?

Bisa dibayangkan kalau saya yang dipilih? Artinya, sekualitas sayalah yang terbaik! Wow! sangat menyedihkan! Sedang saya tahu, di luar sana sangat banyak orang-orang yang jauh lebih baik kiprahnya dalam memperjuangkan Al Qur’an, terkhusus kategori keluarga penghafal Al Qur’an.

Bahagia sekali berkumpul dengan orang-orang hebat, para pejuang Al Qur’an, walaupun belum berkesempatan menjalin silaturahim dan belajar dari beliau-beliau. Ini bentuk rizki yang benar-benar kami syukuri, semoga Allah akan menambahkannya suatu saat nanti, aamiin.

Sayang, begitu padatnya acara, sehingga tak ada kesempatan berfoto dengan orang-orang tenar yang begitu banyaknya, bahkan sepertinya, saya kebanyakan bengong. . .mau melakukan apa.?

Alhamdulillah, di akhir acara, berkesempatan berfoto dengan keluarga Bapak Muhammad Adam Sukiman dari Sumatra Utara sebagai penerima award dengan kategori keluarga penghafal Al Qur’an.

Add Comment