Optimalisasi Peran Ibu Bekerja

Ketika kita bicara tentang pria, wanita dan peran-peran yang menyertainya, sebenarnya kita sedang membahas masalah hakekat kehidupan.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
(Terjemah QS. Al Mulk: 2)

Benar, sebagai apapun kita diciptakan, pria atau wanita, itu semua adalah ketentuan Allah untuk menguji, apakah dengan modal itu kita bisa terus memperbaiki dan menambah amal.

Dalam kehidupannya, seorang wanita akan melalui fase-fase tertentu, yang mana sering terjadi hal itu datang dan dilakoni dalam waktu yang sama, yaitu:

1, Sebagai anak/ menantu.

Ketika kita membicarakan topic anak apalagi diri sendiri sebagai anak, itu berarti kita sedang membicarakan diri dari sudut pandang orang tua dan  atau mertua. Standar ukurannya tentu sesuai dengan harapan orang tua/mertua.

Point penting dalam hal ini adalah bagaimana sikap anak terhadap orang tua/mertua, yang mana akan muncul beberapa penilaian yang jika dikelompokkan menjadi memuliakan atau tidak memuliakan orang tua. Tentu subyektif jika mengikuti apa yang diikuti masing-masing orang tua, tetapi untuk mendekati standar obyektif, Allah telah memberikan rambu-rambu yang tentunya sesuai dengan naluri pada umumnya manusia.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Terjemah QS. Luqman : 14)

 

  1. Sebagai istri.

Tentu penilaian kesuksesannya ada pada sudut pandang suami. Bagaimana seorang istri bisa melakukakan ketaatan pada suami selama dalam ketaatan kepada Allah. Suami yang taat kepada Allah tentu tidak akan sewenang-wenang menuntut haknya untuk ditaati oleh istrinya. Ketaatan utama seorang istri ada pada tugasnya dalam memenuhi kebutuhan biologis, sedang untuk urusan yang lain, banyak wacana tentang batasan-batasannya. Dalam hal ini komunikasi menjadi factor penting untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan rumah tangga antara suami istri tanpa ada yang merasa tertekan atau terdzolimi, terutama terkait masalah ketaatan istri pada suami.

  1. Sebagai ibu, mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mengasuh dan mendidik anak. Sebuah peran yang sangat berpengaruh pada kualitas generasi berikutnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa wanita adalah tiang Negara, mengingat begitu pentingnya peran seorang wanita terutama ibu dalam memperkokoh Negara dengan kualitas bangsa yang merupakan hasil didikannya.
  2. Sebagai ibu rumah tangga, mengelola keuangan dan kondisi rumah tangga.

Dulu, seorang istri mendapat julukan ratu rumah tangga, mengingat perannya yang menentukan bagaimana situasi  sebuah keluarga. Itu dulu, saat dimana pada umumnya pencari nafkah sepenuhnya suami, dan istri sepenuhnya mengatur rumah tangga.

Kini, peran itu semakin kabur batasannya. Banyak para istri bekerja dan berpenghasilan, sedangkan urusan domestic didelegasikan kepada asisten rumah tangga.

  1. Sebagai pekerja. Wanita bekerja untuk mendapatkan penghasilan adalah pilihan dengan segala konskuensinya. Ketika memilih menjadi karyawan swasta atau PNS, harus mentaati aturan serta bertanggung jawab kepada atasan terhadap amanah yang diberikan. Selain itu, sebagai seorang pebisnis pun, pasti menyediakan waktu untuk urusan bisnianya, yang biasanya akan mengambil waktu yang biasanya digunakan untuk melaksanakan perannya sebagai seorang ibu di rumah.

6, Sebagai anggota masyarakat, memenuhi hak dan kewajiban sosial sebagai tetangga, anggota komunitas dan kluarga besar. Tidak mungkin rasanya, sebagai anggota masyarakat sama sekali tidak bergaul dan berurusan dengan lingkungannya. Untuk wanita yang mempunyai kemapuan dan kemampuan, biasanya akan menyediakan waktu untuk ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Untuk dapat menunaikan multi perannya, seorang wanita harus pandai membuat skala prioritas, sehingga waktu dan tenaganya efektif dan produktif.

Hal penting yang harus diperhatikan:

  1. Memastikan hukum, apakah kegiatan yang dilakukannya termasuk hal-hal yang sifatnya wajib, sunnah,  mubah, makruh atau   Hal wajib tentu harus dijadikan yang utama dibandingkan dengan hal-hal yang sunnah, mubah, makruh,haram. Begitu seterusnya, mengingat hal ini terkait dengan tanggung jawab kita sebagai makhluk kepada Allah, yang menghidupkan kita.
  2. Memastikan, kepada siapa wanita mempertanggung jawabkan peran-perannya? Apakah kepada Allah, kepada suami, orang tua/mertua, pimpinan, atau masyarakat?
  3. Siapa yang terkena dampak saat seorang wanita tidak amanah terhadap peran-perannya? Diri sendiri,  suami, anak,  keluarga besar, masyarakat sekitar, atau  umat?

Pertimbangan yang matang tentu sangat dibutuhkan untuk mengambil keputusan, agar peran sebagai ibu, sebagai peran utama yang berdampak pada banyak hal, tetap dapat dilaksanakan tanpa meninggalkan semua peran-peran lainnya. Yang jadi hal penting adalah kepiawaian dalam menejemen waktu.

2 Comments

  1. Dwi Septiani Desember 23, 2017
    • nenysuswati123 Desember 25, 2017

Add Comment