Pancuran 7 (Salui Pitu)

3 Agustus 2017

 

Setelah puas mengeksplore istana Kepaksian Pernong, kami diajak mengunjungi Salui Pitu yang dianggap potensial untuk tempat wisata.

Melalui jalan setapak di sebelah rumah yang ada di sekitar istana Pernong, kami menuju ke tempat yang menurut cerita, dulu adalah tempat mandi keluarga kerajaan.

Bagaimana kini?

Sepertinya digunakan oleh penduduk setempat untuk keperluan mandi cuci, terutama yang akan berangkat atau pulang dari sawah dan kebun yang melalui jalan itu.

Dari seorang penduduk yang kebetulan mengambil air di sana, sumber air berasal dari akar pohon bambu yang memang saya lihat banyak tumbuh di situ, kemudian dibuatkan salurannya sebanyak 7 buah. 3 untuk laki-laki, 4 untuk perempuan yang terpisah dinding. Penduduk biasa meminum langsung air itu tanpa dimasak terlebih dahulu.

Sampai di lokasi saya termangu…lanjut…tidak…lanjut…lanjut.

Mengingat tulang tua wanita usia setengah abad yang tidak berpengalaman jelajah alam, apalagi melihat jalan turunnya.

Bismillah!

Saya putuskan untuk melanjutkan, tanggung, sudah sampai sini.

Perlahan dan hati-hati sekali saya tapaki tangga turun menuju salui pitu.

Alhamdulillah, berhasil.

Setibanya di bawah, saya tengok jalan yang sudah saya lalui.

Masyaallah, bagaimana nanti kembalinya, ya? Sudah…sudah, nggak usah dipikirkan dulu, batin saya.

Ok, saya ikuti teman-teman mengeksplore lokasi salui pitu dan sekitarnya.

Hah! Menikmati pemandangan di sini, seakan terbayar lelahnya perjalanan tadi.

Udara sejuk, air yang segar, angin sepoi-sepoi, sawah menghijau, ditingkahi kemericik air dan kicauan burung.

 

Di tengah sawah ada gundukan lumayan besar, teman-teman menuju ke sana.

Saya mulai lagi berhitung tenaga…ha ha ha, begini deh, orang tua yang mengikuti gaya anak muda. Yang realistis saja, saya mengalah dalam tantangan ini. Silahkan teman-teman memuaskan diri, biarkan saya menepi, mencari pematang yang agak lebar, kering dan teduh. Cukuplah menatap dari kejuhan, dinding-dinding alam yang kokoh berdiri di ujung persawahan.

Sambil menikmati semilir angin lembut, saya buka kemnali aplikasi Al Qur’an yang ada di tan. Untunglah powernya masih ada. Wahai alam, jadilah saksi, satu dua ayat-Nya pernah terlantun di sini.

Dari kejauhan teman-teman mulai beranjak kembali… ingat tangga yang harus saya tapaki, reflek saya tengok, dan ternyata…tingginya melebihi pohon kelapa tua yang tumbuh di bawahnya.

Masyaallah. …tentu butuh energi lebih banyak dibandingkan saat menuruninya tadi.

Tak sedikitpun berpikir merepotkan yang lain, tentu saya harus bisa sampai atas dengan kekuatan sendiri.

Bismillah.

Satu…dua…tiga tapak terlampaui…satu…dua tiga kelokan terlewati…satu…dua…o oww! Di tengah pendakian, terasa begitu berat rasa di bagian paha dan betis. Berhenti sejenak…lanjut lagi…berhenti lagi…lanjut lagi… Alhamdulillah, sampai puncak, walau dengan terengah-engah…tapi…yang lainpun tak jauh beda.

Fuihhh! Luar biasa.

Alhamdulillah…saat sampai halaman rumah terdekat dengan istana, ada pedagang bubur sumsum lewat…Bang…Bang…Bang.

Jadilah kami seperti anak-anak yang sedang kehausan setelah berpetualang.

Wuih! Salui Pitu, luar biasa,

Add Comment