Parenting; Mengajarkan Anak untuk Selalu Bersyukur

Memperluas cara pandang akan meningkatkan rasa syukur

Bagaimana mengajarkan anak untuk selalu bersyukur kepada Allah?

Salah satu capaian dalam parenting keluarga saya adalah bagaimana mengajarkan anak untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Mudah?

Sekali dua kali mengajak mereka untuk mensyukuri sesuatu, mungkin sangat mudah, tapi tentu butuh konsistensi dalam mendampingi mereka untuk SELALU bersyukur.

Selalu bersyukur artinya dalam kondisi apapun mampu bersyukur. Bukan hal mudah bukan? Untuk yang sudah dewasa saja tidak semua orang mau melakukannya, apalagi anak-anak atau remaja yang masih sangat labil dan dasar konsep berfikirnya belum jelas? Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan, karena karakter yang baik tidaklah terbangun dengan sendirinya, harus ditanamkan dengan pendidikan dan pengasuhan yang memadai.

Seseorang mampu selalu bersyukur manakala memiliki sebuah keyakinan bahwa apapun yang terjadi, adalah yang terbaik untuk dirinya. Jelas tidak mudah, manakala kita menemui kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, kok diminta untuk bersyukur. Bukankah bersyukur karena kita senang dengan kenyataan yang sesuai harapan?

Keyakinan bahwa Allah Maha Tahu jauh melebihi ketahuan kita sebagai makhluk-Nya, merupakan konsep dasar keimanan yang harus ditanamkan secara perlahan dan terus menerus kepada anak. Hal itu merupakan salah satu unsur keimanan kepada Allah, kepada salah satu sifat-Nya, Maha Tahu.

Keyakinan lainnya, bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tidak menghendaki “kesengsaraan” pada hamba-Nya yang taat.

Allah Maha Adil, bahwa setiap manusia memiliki kelebihan di satu sisi tetapi memiliki kekurangan dalam hal lain.

Untuk menanamkan hpemahaman tersebut, banyak metode yang bisa dilakukan oleh orang tua.

Pertama, orang tua bisa mengajarkan dengan metode keteladanan, sehingga anak akan selalu menyaksikan orang tuanya pandai bersyukur dengan segala apa yang Allah kehendaki. Tidak mengeluh, tidak protes atau menyalahkan takdir Allah. Hal tersebut akan dipelajari anak dalam keseharian.

“Yaaah, hujan, padahal baru mau berangkat!”

Ucapan ringan yang mungkin pernah diucapkan orang tua di hadapan anak-anaknya tanpa disadari bahwa itu merupakan contoh dari sikap tidak bersyukur bahkan protes atas kehendak Allah.

Manusiawi?

Sangat! Tetapi sesuatu yang manusiawi bukan berarti yang terbaik nilainya di hadapan Allah. Mungkin kita bisa pikirkan, dengan ucapan seperti tadi, apa manfaatnya? Apakah kemudian hujan seketika berhenti? Apakah yang ada di hati kita? Jengkel? Marah? atau senang?

Bandingkan dengan sikap berikut.

“Hujan, ya? Alhamdulillah.” Kemudian ditambah dengan berdoa, karena saat hujan merupakan salah satu waktu makbulnya doa seseorang. Nggak jadi pergi, dong? Itu lain masalah. Tinggal dicarikan solusinya, apakah pergi dengan payung, mantel atau mobil. Bisa juga menunda kepergian, mungkin ada baiknya, atau menghubungi orang yang akan ditemui. Tanpa keluhan, tanpa rasa jengkel! Kira-kira, lebih nyaman mana dibandingkan dengan sikap pertama?

Anak adalah pembelajar yang kritis. Dia belajar dari apa yang didengar, dilihat dan dirasakan. Pengalamannya juga merupakan guru yang sangat berperan dalam pembentukan karakternya.

Kedua, orang tua bisa mengajarkan dengan memberikan penjelasan atau lewat cerita. Anak diajak memikirkan tentang setiap sikap dalam menghadapi situasi tertentu, sehingga terbuka wawasannya, walaupun tidak mudah mempraktekkan apa yang dibicarakan. Jika bersikap apa, bagaimana perasaannya, apa dampaknya, dan sebagainya.

Ketiga, orang tua bisa memberikan pengalaman langsung atau melihat langsung kondisi orang lain yang berbeda dengan diri dan keluarganya, sehingga anak diajak untuk berempati pada kondisi orang lain. Harapannya, dia akan melihat, betapa banyak karunia Allah yang sudah diterimanya dalam beberapa hal, yang itu tidak didapatkan orang lain, dan sebaliknya.

Dalam upaya itulah, kemarin, di akhir liburannya, kami mengajak anak-anak bersilaturahim kepada dua keluarga tunanetra.

Mengajak anak berfikir dan menyadariberbagai kafunia yang ada padanya, dengan memperlihatkan hal yang berbeda pada kehidupanmorang lain

Yang pertama keluarga Bapak Yatimin, seorang tuna netra 100% dengan istrinya dengan kemampuan melihat sekitar 20%. Keduanya mempunyai latar belakang kasus penyebab kebutaan yang mirip. Pak Yatimin, ketika berusia sekitar 10 tahun pernah mengalami demam tinggi, kemudian di bawa ke tenaga medis yang bertugas di kampungnya. Tindakan saat itu memberikan obat dengan injeksi, setelah beberapa lama yang bersangkutan mengalami kebutaan. Mereka dipertemukan sebagai suami istri saat di asrama dinas sosial. Pak Yatimin berprofesi sebagai tukang pijat. Mereka memiliki tiga orang anak. Yang pertama tamat sekolah lanjutan tingkat atas, kemudian bekerja dan menikah. Anak kedua sekolah di Sekolah Kejuruan, sedang sibungsu masih kelas 2 SD.

Sebuah kehidupan yang mungkin tak terbayngkan sebelumnya dalam benak, akan menambah wawasan dan mengajaknya berfikir tentang karunia yang ada padanya

Rumahnya dekat masjid. Sekilas menimbulkan rasa iba, karena rumahnya terbuat dari geribik bambu, Alhamdulillah milik sendiri, bahkan tanah pekarangannya cukup luas.

Kepada anak-anak kami tekankan pada apa di balik yang mereka lihat. Sekilas, kehidupan kami seperti lebih baik secara materi, tapi,benarkah? Jangan menilai seseorang hanya sekilas dari penampilan. Bisa jadi mereka lebih kaya dibandingkan dengan orang yang berpenampilan keren, tetapi rumahnya masih nyewa atau mungkin banyak hutang. Kenyataannya, mereka bersabar dengan kondisi rumah yang mungkin dipandang sebelah mata oleh orang lain, tetapi mereka tidak dibebani harus menyiapkan uang sewa setiap bulan. Mereka tetap mengutamakan pendidikan anak-anaknya.

Berbagai kendala akan bisa teratasi dengan semangat juang yang tinggi, karena Allah telah mengukur seberapa kuat manusia menghadapi kesulitan

Keluarga tunanetra kedua yang kami kunjungi adalah Supron Ridisno, S.Pd.I. M.Pd.I dan istrinya yang tidak tunanetra. Pria ini tunanetra tersebab musibah, dimana saat kecil, ketika bermain, mata kirinya terkena bola volley. Lama kelamaan mata kananpun ikut bermasalah, dan berakhir kebutaan.

Dari gelarnya, kita tahu beliau seorang yang telah selesai menempuh pendidikan S2. Kini menjadi PNS dan mengajar di sekolah tunanetra. Tinggal di sebuah komplek perumahan dan memiliki mobil yang digunakan oleh anaknya untuk angkutan online. Istrinya pun seorang sarjana. Keduanya kuliah setelah berkeluarga. Semangat belajar dan perjuangan serta kemandiriannya sangat patut dicontoh.

Sekilas pandang, kondisi materi mereka lebih baik, apalagi anak-anak selama ini beranggapan bahwa orang yang memiliki mobil adalah orang kaya. Kami menekankan kesabaran dan kegigihan untuk hidup lebih baik.

Dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak, melihat begitu banyaknya fakta yang menunjukkan kasih sayang dan keadilan Allah, diharapkan akan membuka kesadaran mereka tentang kelayakan kita untuk selalu bersyukur atas segala kondisi yang Allah berikan.

Sekilas, tunanetra merupakan fakta yang membuat menderita, hidup dalam kegelapan selamanya. Kita yang normal, jika di malam hari mati lampu, masih berharap agar segera menyala lagi, tetapi tunanetra tidak. Mereka harus menerima kegelapan itu. Tergantung yang bersangkutan, mau mengeluh dan merasakan sakit hati karena kenyataan itu, atau ridho menerima dan menjalankannya dengan ikhlas dan penuh kesyukuran. Ada teman tunanetra melihatnya dari sudut pandang positif, dimana dengan kebutaannya, dia terhindar dari salah satu dosa yang bisa jadi akan dilakukannya terus menerus bila bisa melihat, yaitu memandang sesuatu yang bukan haknya. Jika orang yang bisa melihat berjuang menahan pandangannya terhadap lawan jenis, maka tunanetra sudah terbebas dari masalah satu ini.

Sedangkan kita, yang mendapat karunia bisa melihat, tentu bisa menikmati warna warni dan keindahan dunia, walaupun di satu sisi peluang dosa lebih besar. Akan tetapi,dengan mampu melihat, seharusnya banyak hal yang bisa kita lakukan lebih banyak dari tunanetra dengan bantuan pandangan kita.

Orang tua mengajak anak untuk selalu melatih rasa dan fikiran untuk selalu diolah mengarah pada upaya bagaimana caranya agar mampu bersyukur dengan kondisi apapun yang Allah kehendaki.

Dalam Al Qur’an di surat Ibrahim ayat 7, Allah berfirman yang artinya

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Apa keuntungan menjadi manusia yang selalu bersyukur?

Keuntungan adalah hal yang dikejar manusia, baik keuntungan materi maupun kepuasan batin. Demikian halnya dengan selalu bersyukur kepada Allah. Hati manusia yang selalu bersyukur kepada Allah akan merasakan ketenangan, tidak takut kekurangan karena yakin Allah menjamin kebutuhannya sebagai ciptaan-Nya. Hal itu diperkuat dengan ayat di atas, bahwa sebuah nikmat yang disyukuri akan ditambahkan oleh-Nya. Memang bentuk tambahan nikmat itu tidak selalu dalam bentuk sama, tetapi segala kebaikan yang kita rasakan adalah bentuk tambahan nikmat. Allah tidak pernah ingkar janji, kitanya yang harus peka dengan segala bentuk kenikmatan dan harus bersabar saat belum menemukan, karena masih tertutup harapan sebagai wujud nikmat yang dinantikan.

Untuk selalu bersyukur, maka ukuran kecukupan dan kepuasaan bukanlah apa yang kita rencanakan, inginkan dan impikan, tetapi apa yang diinginkan Allah sebagai ketentuan-Nya. Jadi, syukur itu bukan karena apa yang kita harapkan dikabulkan, tetapi apa yang Allah kehendaki kita terima dengan lapang dada.

Keyakinan bahwa Allah Maha Tahu hal yang belum kita ketahui, terutama hal yang masih ghaib bagi kita, semisal apa yang akan terjadi hari esok, bagaimana masa depan kita, sangat perpengaruh pada upaya kita untuk selalu bersyukur atas segala yang Allah berikan.

Apakah orang yang pandai bersyukur tidak ada lagi godaannya untuk mengeluh dan tidak bersyukur?

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa syetan tidak akan pernah membiarkan manusia untuk meningkat kebaikan dan ibadahnya pada Allah. Mereka akan selalu menggoda dari semua sisi kehidupan. Hanya orang-orang yang ikhlas, hanya menghadap ridho Allah yang akan selamat dari gangguannya.

Sudah selayaknya kita terus meningkatkan rasa syukur hingga Allah menggelari kita dengan sebuatan hamba yang selalu bersyukur, Abdan Syakuro.

Parenting, bagaimana mengajarkan anak untuk selalu bersyukur harus dilakukan dalam setiap kesempatan dan orang tua dituntut kreatif sehingga tidak monoton dan membosankan, sehingga anak merasa perlu menjauh dari orang tua karena selalu diceramahi, misalnya. Sekali lagi, mendidik dengan keteladanan dan praktek langsung, sering lebih efektif dibanding dengan metode yang hanya menceramahi apalagi terkesan memarahi.

Satu hal lagi, keberhasilan orang tua dalam mendidik, sangat dipengaruhi oleh kedekatannya kepada Allah, mengingat manusia adalah makhluk yang berjiwa, berhati yang masing-masing memiliki keinginan dalam hidupnya masing-masing. Segala kendala dan kesulitan dalam mendidik, hendaknya dikonsultasikan pada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Add Comment