Pentingnya Otoritas Orang Tua

tmpdoodle1474120162076

Otoritas, kekuasaan, wewenang untuk bertindak.

Otoritas orang tua, seberapa kah pengaruhnya terhadap anak zaman sekarang?

Teringat kisah Nabi Ismail, yang begitu patuhnya pada sang ayah saat akan dikurbankan? Atau, saat diminta nenceraikan istri yang dinilai kurang baik akhlaknya?

Atau kisah Abdullah bin Abu Bakar yang taat walau sangat sedih, saat diperintah ayahnya untuk menceraikan istri yang sangat dicintainya tapi menyebabkannya lalai shalat jamaah di masjid dan berjihad.

Atau kisah ibnu Umar bin Khattab yang rela menyerahkan kelebihan harga modal dari unta yang dijualnya karena mendapat kelebihan makan dibandingkan unta masyarakat lain?

Nabi Ismail, merelakan istri, bahkan nyawa untuk taat pada ayahnya.
Abdullah bin Abu bakar, merelakan istri yang cantik dan sangat dicintainya demi taat kepada ayahnya.
Ibnu Umar rela melepas keuntungan bisnis, juga karena taat kepada ayahnya.
Mengapa mereka begitu taat dan mengakui otoritaa orang tuanya?

Saya ingat waktu kecil, tahun 70-80an.
Ingat bagaimana lisan ini tak berani menjawab saat orang tua menasihati bahkan memarahi.
Saya ingat, bagaimana hanya dengan tatapan, Bapak mampu mengusir saya dari ruang tamu saat ada pembicaraan orang dewasa.
Saya ingat, bagaimana Bapak cukup sekali meminta saya menyapu halaman, kalau tidak langsung dilakukan, beliau mengambil sapu, akan mengerjakannya, dan dengan tergopoh saya meminta sapu itu dan langsung membersihkan halaman.
Saya ingat, saat Bapak tidak memberi izin ikut kemah, saya menunduk dan berlinang airmata.
Saya ingat, betapa takut kalau sampai orang tua mengatakan tidak sopan! Aoalagi sampai dinilai kurang ajar!

Kini, apa yang kita saksikan?

Kita sering menyaksikan tontonan media, bagaimana anak berseteru dengan orang tua, bahkan sampai ke ranah hukum.
Bagaimana anak sanggup melukai bahkan membunuh orang tua karena alasan sepele jika dibanfingkan dengan perjuangan orang tua merawat mereka.
Bagaimana wibawa orang tua seakan tertelan kemajuan teknologi dan modernisasi zaman.

Mengapa bisa begitu?

Adakah yang salah?

Terlepas dari berbagai sebab dan kondisi, saya mencoba meramu upaya, bagaimana kita sebagai orang tua mampu menjaga wibawa dan menggunakan otoritas seperlunya dalam mendidik anak.

1. Jadilah orang tua yang layak disegani.

Ibrahim, nabi kekasih Allah.
Abu Bakar, sahabat Rasulullah Saw. yang sangat taat kepada Allah, begitu lembut dan mengayomi fakir miskin dan para budak, pemimpin yang tegas dan bijaksana.
Umar bin Khattab, begitu takutnya melanggar aturan Allah, menjaga diri dari mengambil hak kaum Muslimin, sangat adil dalam memimpin rakyatnya, hidup sangat sederhana.
Mereka menjadi teladan umat, mendidik anaknya dalm ketaatan kepada Allah.

2. Jadilah orang tua yang selaras antara hati, lisan dan perbuatan.

Perhatikan dialog berikut :
I
Ibu : Sholat dulu, nak!
Anak : Ibu sudah sholat?
Ibu : Belum, Ibu selesaikan massk dulu.
Anak : Aku sholatnya nanti, nunggu filmnya selesai dulu.

II
Ayah : Ayah dapat laporan dari guru, kamu ngrokok di kantin, ya?
Anak : Nggak masalah, kan, Yah? Kan anak Ayah, sama-sama ngrokok.

3. Jadilah orang tua yang menghargai anak. Libatkan mereka, terutama yang sudah baligh, dalam pertimbangan sebelum mengambil keputusan, apalagi yang berkaitan dengan diri mereka.
Anak adalah manusia yang berjiwa, yang memiliki mimpi dan obsesi untuk hidupnya. Orang tua perlu mendampingi mereka dalam mewujudkan dan meluruskan saat ada kebengkokan.

4. Tegas dan konsisten dalam melaksanakn keputusan yang telah disepakati.
Sedari kecil, biasakan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, sehingga saat melaksanakannya, anak tidak merasa sebagai pihak yang dipaksa, karena itu keputusan bersama.

5. Anak-anak yang belum baligh butuh sosok tegas di masa peralihannya. Jangan sampai anak dalam keraguan saat memahami konsep kebenaran. Latih terus pemahaman anak bahwa otoritas orang tua berkaitan dengan tanggung jawab menerima anak sebagi amanah. Jika suatu saat mereka harus taat pada orang tua, yang tidak sesuai dengan kemauannya, mereka berusaha menyesuaikan diri, bahwa itu bukan semata-mata taat pada orang tua, tapi lebih pada upaya taat kepada Allah.

Add Comment