Penyebab Writer’s Block dan Cara Mengatasinya Versi Saya

Salah satu buku karya saya

Mengatasi writer’s block?

Ho ho ho, siapa saya? Beraninya memberi tips tentang cara mengatasi writer’s block? Penulis sukses? Penulis best seller?

Bukan…#eh, belum, tetapi saya ingin menjadikan menulis sebagai sebuah aktivitas yang mewarnai kehidupan saya. Ingin terus menulis sampai tidak bisa lagi menulis atas kehendak Allah.

Belum 5 tahun saya berkecimpung di dunia literasi, tetapi cukup intens. 12 antologi dan 7 judul buku solo saya anggap sebagai bukti keseriusan di bidang ini.

Galibnya sebuah aktivitas yang rutin kita lakukan, kejenuhan sering hadir. Bagi penulis, biasanya bisa juga dalam bentuk mental block, hambatan yang muncul dari dalam diri dan membendung ide-ide yang akan ditulis. Dan ternyata, mental block ini hampir pasti pernah dialami oleh para penulis, sehebat apapun dia.

Setiap penulis mempunyai sebab yang berbeda, tapi satu dua hal, bisa jadi sama. Yang akan saya bahas, tentu versi pengalaman pribadi, mungkin bisa bermanfaat untuk teman-teman yang mulai melirik-lirik dunia literasi. Saya akan bahas sekaligus dengan cara mengatasinya.

Pertama, saat sedang sakit, kurang sehat atau kondisi tubuh sangat letih.

Dalam kondisi seperti ini, saya memilih tidak memaksakan diri untuk menulis, kecuali ada DL yang harus dipenuhi, itu pun kalau sekiranya masih kuat. Sakit atau lelah adalah alarm yang menandakan bahwa tubuh sudah sampai batas maksimal kekuatannya, saya fikir, menulis bukan kondisi darurat yang harus dilakukan. Benar, dalam kondisi seperti itu biasanya ide meloncat-loncat ingin disemburkan, karena otak terus bekerja walau kita sedang tidur sekalipun. Kalau khawatir ide itu menghilang saat mampu menulis, saya akan menuliskan inti idenya dalam beberapa patah kata di catatan tab, tetapi lebih sering saya biarkan, dengan keyakinan, ide adalah rizki, kalau memang itu bagian saya, maka di saat yang tepat, dia akan hadir lagi. Alhamdulillah, selama ini belum pernah kekurangan ide. Saat satu ide lolos, ada ide lain muncul, dan ide yang sempat lolos, suatu saat akan muncul lagi.

Salah satu aktivitas, menjadi pembicara

Kedua, sibuk.

Saya memang bukan penulis profesional, dalam arti menulis bukan sebagai sumber penghasilan pokok. Banyak aktivitas lain yang harus saya kerjakan, baik terkait dengan status saya sebagai seorang istri dan ibu, terapis, sering kali saya harus keluar daerah untuk berbagai keperluan, diantaranya sebagai pembicara di acara seminar atau kajian. Biasanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.

Dalam kondisi seperti ini, saya tidak memaksakan diri menulis dengan porsi tertentu atau jadwal yang ketat untuk menulis. Ada yang menilai saya tidak fokus! Ya, saya akui, saya tidak fokus menulis dalam bentuk tertentu, tetapi menulis merupakan bagian dari fokus saya menebarkan kemanfaatan dan amal kebaikan. Bagi saya, menulis sangat terkait erat dengan aktivitas banyak membaca, menjelaskan dan menyampaikan pesan-pesan inspiratif, termasuk kalau diberi kesempatan bicara di forum tertentu.

Ketiga, malas.

Nah, ini penyebab writer’s block yang sesungguhnya.

Bagaimana mengatasinya?

Dalam hal ini, saya lebih sering mengotak-atik mindset, karena dari sanalah sumbernya. Saya akan mereview, apa alasan dan motivasi utama menulis.

Dulu, di awal-awal, dalam sebuah komunitas menulis, ada jargon yang menjadi pembakar semangat,”Satu buku sebelum mati, bisa!” Awalnya, jargon itu begitu menggelegar, membakar semangat, dan…memang bisa. Tidak hanya satu!

Apa salah jargonnya, yang terlalu mudah dicapai? Lah, kalau salah, ya tinggal buat lagi jargon baru yang lebih menantang, berani?

Kembali kepada alasan. Banyak sekali alasan yang bisa saya tuliskan, dari yang idealis, ekonomis atau materialis.

1. Berdakwah dengan tulisan.

2. Mempunyai buku terbit sebagai warisan dan amal jariah.

3. Berpenghasilan dari menulis.

Pada kenyataannya saya mengalami stagnasi yang cukup parah dalam menghasilkan buku, dan terbukti saya bukan pejuang gigih untuk menghasilkan banyak buku dengan menghadapi segala kendala yang menghadang.

Menyerah?

Tidak sepenuhnya! Hanya saja lebih realistis membaca situasi dalam proses penerbitan buku.

Akhirnya?

Saya adalah orang yang sangat ramah dengan diri sendiri, he he. Berusaha menghadirkan kenyamanan dalam hidup di dunia untuk menghadirkan kenyamanan hidup di akhirat, insyaallah. Bukankah itu yang kita cari?

Allah begitu luas memberi kesempatan untuk menjadi manusia terbaik yang mampu kita capai, dan itu tidak hanya dengan menulis buku. Tetapi, saya tetap memilih jalur menulis, walaupun tidak harus dalam bentuk buku terbit. Mengapa? Sampai saat ini saya merasa nyaman dan bisa melakukannya.

Dalam bentuk apa?

Salah satunya, ini, yang sedang teman-teman baca.

Semoga bermanfaat dan berumur panjang, sehingga banyak yang membaca sebagai warisan kebaikan.

Berpenghasilan dengan menulis? Allah Maha Tahu cara tercantik menyampaikan rizki kepada setiap hamba-Nya.

Semoga penyebab writer’s block dan cara mengatasinya versi saya ini, sedikit mencerahkan para penulis muda yang sedang mengalaminya.

 

2 Comments

  1. Mochamad Asom Februari 1, 2018
    • nenysuswati123 Februari 1, 2018

Add Comment