Peran Puasa dalam Membangun Karakter Anak (bag 1)

peran puasa dalam membangun karakter anak

Kulwap yang diselenggarakan Yayasan Tunas Lampung

Dua hari sebelum kulwap, saya sempatkan bertanya kepada santri di pondok kami. Usia mereka kisaran 12 – 16 tahun.

Pertanyaan pertama: apa yang mereka suka dari bulan Ramadhan?

Ini jawaban yang saya kumpulkan, urutan berdasarkan banyaknya.

  1. Ngabuburit
  2. Berbuka puasa
  3. Sahur
  4. Tarawih
  5. Kebersamaan dengan keluarga

Ada satu yang usia SMA menjawab yang di suka dari Ramadan adalah suasana Qurannya.

Ada lagi mahasiswi dia menjawab yang disuka dari Ramadan itu ngantuknya berkah, suasana fastabiqul khairat dan serunya mencari lailatul qadar.

Ada tambahan dari anak saya yang SD, putra, usia 10 tahun.  Apa yang paling suka dari Ramadan jawabannya ikut Abi itikaf di masjid.

Mengapa saya mengawali kajian ini dengan menanyakan kesan mereka terhadap Ramadan. Apakah ada kaitannya dengan pembentukan karakter yang berkait dengan puasa?

Secara langsung saya tidak tahu hubungannya, tetapi setidaknya dari apa yang terkesan di benak mereka, itu ada unsur pengaruh dari apa yang orang tua ajarkan kepada mereka.

Jadi mungkin ini bagian dari apa hal yang perlu kita cermati, kita evaluasi, selama ini sebagai orang tua nilai-nilai apa yang sudah kita tanamkan kepada mereka. Sehingga pesan yang tertanam seperti jawaban-jawaban yang tadi sudah mereka sampaikan.

peran puasa dalam membangun karakter anak

Peran puasa dalam membangun karakter anak.

Kita akan mencoba mempelajari bagaimana kaitan antara salah satu syariat Allah, yaitu perintah untuk berpuasa itu terhadap karakter anak.

Karakter yang terbentuk ketika anak-anak ini akan sangat berpengaruh kepada karakter ketika mereka dewasa.

Apa yang dimaksud dengan karakter?

Karakter adalah watak atau sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. (Wikipedia)

Terlepas dari pengertian karakter dari sumber yang lain seperti misalnya dari ilmu psikologi, ilmu  bahasa atau dari pengertian akhlak dan sebagainya, sementara kita gunakan ini dulu, semoga tidak terlalu jauh bedanya dengan definisi atau batasan sumber lain.

Dalil perintah puasa Ramadhan, Al-Qur’an Surat Al-Baqoroh ayat 183-185:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

يَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/691-surat-al-baqarah-ayat-185.html

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Kemudian untuk diskusi kali ini, selain membaca Al-Quran terjemah, saya sudah membuka tafsir dari 3 ayat tersebut dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Misbah dan tafsir Fi zhilalil Quran.

3 ayat ini yang akan kita bahas berkaitan dengan dengan tema yang kita pilih hari ini. Insya Allah kita semua sudah paham bahwasanya di ayat 183 berpuasa Itu diwajibkan untuk orang-orang beriman dengan tujuan bertaqwa.

Mohon maaf sebelumnya, saya bukan ahli dalam mengkaji ayat, tetapi setidaknya kita bisa belajar mandiri dari referensi yang mudah didapat, terutama untuk hal-hal yang memang keseharian kita harus memahami itu.

Bukan untuk membahas layaknya ahli tafsir, justru dengan membaca tafsir kita sangat terbantu dari pemikiran para ahlinya.

Jadi nanti jika ada salah-salah nya itu semata-mata dari kebodohan saya, tetapi kalau itu memang sesuatu yang benar menurut Allah itu adalah karunia.

Kemudian saya memberanikan diri membahasnya, terkait dengan pengalaman-pengalaman mendidik 6 orang anak, yang saat ini yang pertama sudah menikah sudah menikah dan dikaruniai 3 anak, dan yang bungsu berumur 10 tahun. Dari situ saya bisa memperhatikan apa yang tertanam, dari hal-hal yang selama ini kami sebagai orang tua bimbingkan kepada mereka. Jadi lebih kepada  bercerita pengalaman kemudian kita kaitkan dengan sedikit pemahaman dari dari agama.

Kita lanjutkan pada: Peran Puasa dalam Membangun Karakter Anak 2

Add Comment