Perjalanan Dakwah ke Mesuji – Lampung

tmpdoodle1481510840186

Ahad, 4 Desember 2016

03.00

Alarm berbunyi, saya segera bangun untuk mematikannya.  Terbaca ada sms masuk, dari suami, mengabarkan posisinya baru turun dari kapal di pelabuhan Bakauheni.

Saya segera mempersiapkan diri menunggu jemputan. Jam 04.30 suami menelpon, menanyakan kesiapan, karena barusan suami Bu Vera menanyakannya pada beliau. Baru saja hp saya letakkan, ada panggilan masuk. Ternyata Bu Ana dan rombongan sudah di dekat komplek perumahan, minta dipandu sampai rumah. Setelah memberi petunjuk, saya ke luar rumah lewat pintu sampinng, tidak membangunkan penghuni rumah, karena si sulung baru saja pulang jam 03.30 setelah beres masang pelaminan dan saya sudah berpamitan kepada adik-adiknya sebelum mereka pergi tidur.

Kami segera berangkat, 4 orang dengan supir.

Ketika terdengar adzan subuh, sopir segera mencari SPBU terdekat, untuk sholat subuh di musholanya.

Di mobil, sekembalinya dari sholat subuh, hampir serempak, kami, ibu-ibu, mengangkat hp, menelpon yang di rumah, absensi yang sudah bangun dan mengingatkan untuk membangunkan yang masih tidur.

Perjalanan dilanjutkan. Ada yang diam berdzikir, ada yang makan snack karena tadi belum sempat sarapan, sambil berbincang. Ternyata, kami semua belum ada yang pernah ke Mesuji, beberapa, termasuk saya, pernah ke Tulang Bawang, daerah sebelum Mesuji. Tapi itu bukan masalah, supir kami sudah sangat berpengalaman menjelajah Lampung dan daerah lain. Bahkan di salah satu obrolannya, beliau salah satu relawan tsunami Aceh 2005, walaupun tidak serombongan dengan suami saya.

Jam 06.30, seperti dikomando, para ibu kembali mengangkat hp. Ibu Ana menghubungi guru pendamping anaknya yang sedang study tour, ibu Vera menanyakan persiapan anak-anaknya, hari Senin ada yang akan UASEM. Saya menanyakan posisi suami, ternyata sudah sampai terminal Rajabasa, sebentar lagi sampai rumah. Begitulah, terakhir saya bertemu suami tanggal 1 Desember pagi, saat mengantarkan beliau berangkat ke Jakarta, ikut aksi 212, kemudian dilanjutkan menjemput anak yang sedang belajar di Indramayu, sepertinya baru bisa ketemu tanggal 4 Desember malam.

Jam 08.30 kami sampai lokasi dengan dipandu panitia by phone, walau sempat salah jalan dan menambah waktu 15 menit.

Tempat acara di aula sebuah rumah makan di pinggir jalan lintas sumatra, sehingga tidak sulit mencapainya. Menurut panitia, salah satu pertimbangan saat memilih tempat, agar lebih mudah dijangkau peserta maupun pembicara yang didatangkan dari Bandarlampung.

Kami disambut ramah oleh panitia yang memang sudah kenal, dan langsung dipersilakan sarapan. Tanpa basa-basi, kami langsung menyambutnya, karena memang sudah lapar. Saya sendiri sempat makan dua suap sebelum berangkat, sekedar menenangkan lambung ditambah teh hangat yang saya minum di mobil.

Kemudian kami sholat dhuha dan beristirahat di mushola, menunggu acara di mulai.

tmpdoodle1481510979060

Hampir jam 10.00 acara baru dimulai, yang bertugas memberi tausiah di acara dzikir bersama itu, Ibu Ana. Dari panitia saya mendapat informasi, peserta datang dari sekitar Simpang Pematang, tempat acara di gelar dan beberapa kecamatan terdekat. Ternyata, terdekat maksudnya, jarak sekitar 30an km dengan kondisi jalan yang tidak nyaman. Mereka datang rata-rata bermotor dengan membawa anak-anak yang masih kecil. Mesuji adalah daerah perkebunan, terutama sawit dan karet.

tmpdoodle1481511115526

Sambil menunggu giliran, saya memilih duduk berbincang dengan ibu Vera di salah satu saung lesehan, di bagian belakang rumah makan. Obrolan sekitar masalah aktivitas dakwah yang dilakukan para ibu dan tentu saja bagaimana mensiasati agar tugas dakwah itu bisa sinergi dengan perannya sebagai ibu rumah tangga. Bukan mudah!Tapi harus bisa! Itulah pilihan hidup. Kami bekerja di bidang masing-masing, saat bertemu saling bercerita dan memotivasi, kadang saling iri karena merasa tidak bisa maksimal seperti yang lainnya. Tapi kami tahu, sekecil apapun peran kami, itu sangat berarti untuk kelangsungan dakwah.

img-20161205-wa0021-1-1

Saya dapat giliran mengisi seminar sekitar jam 14.00 sd jam 15.00. Dalam kondisi peserta yang mungkin sudah lelah karena acara dari pagi, sambil momong anak, dan tentu sudah ingat harus segera pulang, mengingat jarak tempuh yang harus dilalui dan mendung menggantung, siap menumpahkan hujan ke bumi.

Sempat terpikir, alangkah sayang dan tidak efektifnya, untuk sharing 1 jam, harus menempuh perjalanan 10 jam pulang pergi! Tetapi, jika dipikir dari sudut yang lain, maka saya bersyukur sekali mendapat kesempatan kali ini. Begitu banyak karunia Allah yang saya dapatkan dari perjalanan itu, dan begitulah nilai sebuah silaturahim.

img_20161205_172456

Jam 16.30 kami berpamitan untuk kembali ke Bandarlampung.

Alhamdulillah, kami dioleh-olehi kerupuk ikan mentah, sebagai salah sqtunproduk unggilan Mesuji, dengan pesan, sebelum digoreng, dijemur dulu, supaya hasilnya mekar dan kriuk.

Tidak jauh beda dengan aktivitas keberangkatan, saya menyaksikan bagaimana para daiyah ini terus berusaha menjaga agar kepergianyya tidak berdampak negatif pada urusan lain. Bagaimana hubungan dengan suami dan anak-anak tetap aman terkendali. Bagaimana silaturahim dengan orang tua, mertua dan saudara bisa dilakukan sambil berjalan, di sela-sela aktivitas dakwah.

Luar biasa!

Mereka orang-orang yang tidak banyak bicara, tapi tak berhenti kerja.

Mereka jauh dari popularitas dan hiruk pikuk medsos!

Malu! Saya malu jika berjumpa dengan orang-orang seperti mereka.

Malu! Tapi saya sangat senang saat berjumpa dan berinteraksi dengan mereka.

tmpdoodle1481511563192

 

2 Comments

  1. Kei Desember 12, 2016
    • nenysuswati123 Desember 12, 2016

Tinggalkan Balasan ke nenysuswati123 Batalkan balasan