Piala = Prestasi?

Gadis muda itu memandang kumpulan piala, piagam dan medali yang terpajang di lemari kaca.

“Piala segitu banyak, punya Hany cuma satu,” gumamnya.

“Mau berapa banyak? Yok, ke toko piala, kita pesan dengan keterangan sesuai selera!” saya jawab dengan tenang.

Kecewa dengan diri sendiri? Menganggap diri tidak berprestasi dibanding saudara yang lainnya?

Entahlah!

Tapi kita coba obyektif dalam menilai prestasi dan hubungannya dengan piala.

Seseorang mendapatkan piala setelah dinyatakan menang dalam sebuah kompetisi, di bidang tertentu, artinya dia terbaik dari sejumlah peserta lomba. . .sejumlah. . .tidak semua yang punya kemampuan, berkesempatan mengikuti kompetisi.

Bagaimana dengan yang tidak mengikuti kompetisi? Apakah prestasinya pasti lebih buruk dari pemenang di kompetisi tersebut?

Bagaimana bidang lain yang tidak diselenggarakan kompetisinya? Apakah tidak ada yang berprestasi di sana?

Bidang apakah yang sering dikompetisikan? Apakah itu bidang yang sangat urgen dalam kehidupan?

Apakah usia 9 tahun berpisah dengan orang tua untuk belajar, bukan prestasi?

Apakah konsistensinya selama 5 tahun menghafal Al Qur’an, bukan prestasi?

Apakah selesainya menyetorkan hafalan 30 juz, bukan prestaso?

Apakah keberaniannya mengambil keputusan memilih jalur pendidikan yang tidak umum, khusus menghafal Al qur’an, bukan prestasi?

Apakah keberaniannya merantau, hidup tidak di pondok, selama 8 bulan, sendiri dari daerahnya, bukan prestasi?

Apakah di usia 16 tahun sudah mengajar di kelas, bukan prestasi?

Apakah di usianya yang ke 17 memegang halaqoh menerima setoran para penghafal Al Qur’an, bukan prestasi?

Apakah jadi andalan orang tua teman-temannya untuk menemani anak-anaknya dalam perjalanan, bukan prestasi?

Apakah mampu beradaptasi dan bergaul dengan berbagai kalangan, bukan prestasi?

Apakah menjadi contoh adik-adiknya, bukan prestasi?

Apakah menjadi kebanggaan orang tua dan kakak-kakaknya bukan prestasi?

Apakah di usia 17 sudah berpenghasilan dan begitu ringan berbagi kepada adik-adiknya, bukan prestasi?

Apakah mendahulukan kepentingan Umi, melayani dan menyayangi, bukan prestasi?

Di mata Umi, itu semua prestasi yang luar biasa!

Terus rajut prestasi-prestasi itu untuk menggapai prestasi tertinggi, yaitu ridho Allah dengan surga tertinggi sebagai penghargaan.

 

One Response

  1. Lilih Muflihah Juni 14, 2017

Add Comment