Pulau Tegal, Siapa yang Punya?

18 Oktober 2017

Jam 7 pagi saya sudah sampai di depan kantor Tribun, tempat yang disepakati dengan Yoga Pratama, cowok ganteng yang super sibuk dengan segudang kegiatan yang terkait dengan literasi. Di sana sudah menanti 2 penulis buku anak yang sangat produktif, Izzah Annisa dan Fitri Restiana. Ya, kami akan ikut rombongan Perpustakaan Daerah Lampung mengunjungi pulau Tegal.

Alhamdulillah, jadwal kunjungan diundurkan, yang semula akan berangkat sehari sebelumnya. Mungkin, kalau tidak diundur, saya batal berangkat, karena masih tergolek di tempat tidur, kelelahan dan migren, setelah sebelumnya mengisi seminar kemuslimahan di kampus Universitas Tirtayasa di Serang dilanjutkan Jumpa Penulis di Jakarta keesokan harinya.

Ha ha, faktor U memang tidak bisa dipungkiri, walaupun pola hidup juga mempengaruhi.

Seperempat jam menunggu, Yoga datang bersama Bu Nela, pegawai perpusda dan Aditya, putranya yang bertugas sebagai driver.

“Maaf, mobil seadanya,” kata Bu Nela.

“Rasanya, ini mobil ternyaman yang pernah saya naiki, empuk!” saya menimpali disambut tawa teman-teman.

“Beneran!”saya meyakinkan.

“Iya, Miiii, percaya.”

Kami menuju perpusda untuk berpamitan kepada pimpinan dan bergabung dengan Pak Ade Utami dari DPRD propinsi, yang membawa mobil sendiri. Yoga bergabung dengan Pak Ade, memimpin rombongan.

 

Untuk sampai ke pulau tegal, kami harus menyeberang dengan kapal mesin dari pantai Sari Ringgung. Sampai di dermaga, bertemu dengan rombongan SP3T, Komunitas Baca dan Lazdai.

Dengan dua kapal kami menyeberang laut selama kurang lebih seperempat jam. Ombak tenang, anginsepoi-sepoi mengiringi penyeberangan pagi itu.

Ditingkahi obrolan ringan, teriakan dan canda sepanjang perjalanan, sampailah di pantai pulau Tegal. Sampai di darat kami disambut salam peserta belajar pulau tegal yang berusia TK hingga SMP.

Teman-teman Sukarelawan Peduli Pulau Tegal (SP3T), sebagai tuan rumah menyambut kami dengan memberikan beberapa penjelasan tentang pulau Tegal, sampai kemudian datang beberapa orang yang berasal dari dinas pendidikan Pesawaran, perpusda Pesawaran, seketraris camat dan koramil setempat.

Kami segera menuju ruang belajar untuk melakukan seremoni  dengan beberapa tampilan anak-anak dan sambutan-sambutan dari beberapa unsur yang hadir.

 

Merinding saat menyaksikan penampilan anak-anak saat menyanyikan lagu-lagu wajib, wajah polos mereka dengan pakaian seragam seadanya memperbesar harap, semoga mereka terhindar dari hiruk pikuk medsos dan internet yang selama ini menjadi tertuduh beberapa kerusakan yang terjadi di generasi muda. Di pulau ini sulit menemukan jaringan internet.

Acara berisi sambutan-sambutan oleh beberapa unsur, menyampaikan peran yang selama ini mereka mainkan dalam upaya mencerdaskan anak-anak pulau Tegal, diakhiri dengan penyerahan bantuan buku dari perpusda, donatur dan para penulis.

Setelah selesai, rombongan di bawa ke taman baca untuk diskusi membahas permasalahan di pulau Tegal, Izzah mendapat tugas mendongeng didampingi Fitri Restiana, saya?…Jadi fotografer amatiran dan bebas menclok ke dua forum tersebut, juga jalan-jalan menikmati pantai.

“Saatnya pasal 12,” kata ketua SP3T.

“Hah! Apa pasal 12?” Fitri Restiana tampak bingung, saya senyum-senyum, karena paham yang dimaksud ibu ketua.

 

Sementara, kami turun dari rumah panggung taman baca untuk pengambilan gambar  dokumentasi, sementara penduduk setempat menyiapkan hidangan makan siang.

Sempat ngobrol dengan salah satu relawan, bahwa mereka mendapat jadwal 2 hari sekali/ orang untuk membimbing belajar anak-anak pulau Tegal.

Untuk biaya operasional, ada donator utama, yaitu Lazdai, salah satu lembaga ZIS di Lampung dan beberapa donator pribadi.

SP3T tidak ingin anak-anak pulau Tegal suram masa depannya kalau tidak ada yang membantu pendidikanya, karena untuk sekolah di luar pulau, terlalu berat biayanya, sedang dari pihak orang tua, lebih senang kalau anak-anaknya membantu mereka bekerja, membuat kapal atau menjadi tukang perahu.

Dalam obrolan itu terdengar kabar bahwa pulau Tegal milik pribadi.

What?

Bagaimana bisa?

Pada siapa membelinya?

Kemana uang pembeliannya?

Bagaimana dengan ribuan pulau lain yang ada di wilayah persiran Indonedia?

Sayang, tak ada yang memberi penjelasan secara gambling, bahkan terkesan bisik-bisik. Dan keingitahuan saya tentang masalah inipun tidak terlalu menggebu, mengingat saya tidak paham tentang hukum ketatanegaraan ataupun masalah perdata.

Setelah makan, kami sholat. Alhamdulillah, air di sini bagus, juga musholanya cukup lebar dan sejuk. Adem rasanya, hening, tak ada suara berisik.

Hmmm, alangkah idealnya untuk menghafal Al Qur’an. Jauh sekali situasinya dengan rumah tahfidz yang saya kelola, yang berada di tengah pemukiman penduduk dan jalan yang tak pernah sepi dari kendaraan. Belum lagi suara anak-anak yang senang bermain di halaman masjid yang berada di depan rumah tahfidz. Semoga, dari pulau yang hening ini akan muncul para hafidz qur’an, aamiin.

Kami harus meninggalkan pulau, Pak Ade ada agenda lain.

Sepertinya ada yang kecewa karena belum puas bermain air, ehem!

Sssst! Bukan saya, bahkan kaus kakipun tak tersentuh air laut! Bisa? Ya, bisa!

Saat paling sulit menghindari air laut, ketika turun dari perahu, tapi saya bisa melewatinya tanpa menyentuhnya.

Bagaimana caranya?

Mudah…melompat dari perahu saat air laut kembali ke laut! Sepatu sandal saya menjejak pasir pantai, tanpa membasahi kaus kaki.

Perjalanan yang menyenangkan!

 

Add Comment