Puting Beliung, Sebuah Pengingat

Setiap peristiwa mengandung pelajaran bagi kehidupan dan pengingat, bahwa suatu saat kehidupan kita di dunia akan berakhir.

 

22 Desember 2018, menjelang isya.

Seharian tidak sempat istirahat, pagi ngisi acara di Tabek Indah, siang jadi tuan rumah pertemuan ibu-ibu RT 04, padahal diundang Bude, besok acara keluarga di pantai. Belum ada persiapan sama sekali.

“Besok jadi ikut ke pantai, nggak?” saya tanya ke Hafa dan Harish, yangvrencananya saya ajak.

“Ramean, ya, Mi?” tanya Hafa.

“Delapan mobil, keluarga Bude dan tetangga.”

“Dih, rame amat, males ah.”

“Umi juga males, apalagi hari libur, bakal padat tuh pantai.”

“Hhhh, Harish pengen.”

“Nggak seru kali, Rish!” Hafa bersingut, menanggapi adiknya.

“Apa kita tunggu kumpul dulu sekeluarga, baru kita jalan bareng, lagian kemarin Harish sudah nginap di Metro 3 hari.” Saya coba cari solusi, supaya tidak ada yang kecewa.

“Ya sudahlah, ga jadi.” Harish mengalah.

***

Malam harinya, saat ngobrol berdua, suami menyampaikan berita dari grup wa tentang kejadian yang diduga tsunami di Kalianda, Lampung Selatan. Subhanallah. Semoga yang berencana ke pantai besok sudah mendengar berita ini. Masyaallah, untunglah sudah bicara dengan anak-anak, membatalkan ikut ke pantai.

Setelah subuh, saya mengirim pesan ke bude.

“Hati-hati, ya, fii amanillah. Ke pantai mana? Bukan daerah yang sedang berbahaya, kan?”

Sebuah pancingan, sebelum memberikan masukan.

“Nggak jadi ke pantai, Mi, dialihkan ke Lembah Hijau.”

Alhamdulillah!

***

Siang, setelah dzuhur,  gerimis turun, rintik-rintik.

“Novel yang di sini, mana, Rish?” saya ke ruang tengah, bermaksud mencarinya.

“Dibawa mbak Hafa ke atas.”

Tiba-tiba saya mendengar suara aneh mengiringi derai gerimis yang ulai menghujan.

“Suara apa itu, Fa?” Saya coba menajamkan pendengaran, mengidentifikasi suara yang entah, bingung mnyebutnya, fokus pada satu suara yang menyolok.

Hafa dan Harish menggeleng, berusaha mendengar suara yang seperti kacau,”Nggak tau,Mi?”

Saya sudah mendapatkan satu suara, untuk memastikannya, setengah berlari saya menaiki tangga ke ruang atas.

“Umi…Umi  jangan naik!” Hafa dan Harish berteriak, khawatir.

Saya lanjutkan langkah, memeriksa ruang atas. Hafa dan Harish menyusul, ketakutan.

Benar dugaan saya, suara itu bersumber dari atap baja ringan yang belum lama dipasang untuk menahan tempias di atas jendela dan beranda. Sebagian paku di salah satu sisinya terlihat lepas, sehingga terpaan angin keras itu membuatnya bersuara berisik. Selain itu, paralon besar yang menempel di dinding, bergerak-gerak seakan ada yang menggoyangkannya dari bawah dengan keras. Angin bertiup kencang, mengangkat sebagian sisi karpet di depan pintu beranda dan langsung mendorong pintu kamar dengan keras. Pakaian di jemuran mobat mabit, sebagian berjatuhan.

Sebentar…seperti ada suara takbir berdesakan dengan deru angin.

“Hafa dengar suara takbir?”

“Nggak jelas, Mi.”

Hafa lari ke bawah.

“Ayo, Mi, turun!” Harish berteriak.

“Sebentar,” saya masuk kamar, mengambil novel dan segera keluar kemudian menutup pintu. Kembali pintu terbuka, saya ingin menutupnya lagi, tapi…”Umiii, ayo turun!”

Harish ketakutan, tapi dia tidak mau turun duluan, memastikan saya juga segera turun.

Saat sampai di tangga, Hafa berteriak,”Umi! Debu vulkanik!”

Deg!

Anak krakatau meletus!?

Seketika saya gemetar, tapi berusaha segera turun, jangan sampai lemas di dalam rumah.

“Mana?” saya tidak bisa menutupi kepanikan.

“Di luar!”

Sempat bingung, luar yang mana? Pintu depan atau belakang?

“Depan!”

Duuuh! Intonasi suara Hafa dan ekspresi wajahnya bikin panik.

Segera saya ambil gamis dan jilbab yang tergantung di tempat yang mudah terjangkau dan segera membuka pintu depan. Terlihat sesuatu berwarna gelap, tipis sepanjang 2 meter, beterbangan di langit persawahan depan rumah.

“Allahu Akbar! Lailaha illallah!” terdengar suara panik terdengar dari rumah sebelah. Pak RT dan keluarganya sudah berkumpul di beranda. Tampak beliau memegang hp, sepertinya merekam kejadian barusan.

“Angin puting beliung, Mi!” Serunya, menjelaskan tanpa saya minta.

Saya bengong, tidak sempat menyaksikan kehadirannya

“Ya Allah, tolong yaa Allah…” Harish dremimil, mengulang-ulang doanya, matanya merah, satu-satu butiran bening meleleh.

Saya peluk dia, menenangkan. Saya masih gemetaran, kaki lemas.

“Umi.” Geletar lembut ketakutan tak dapat disembunyikannya.

Hafa, tak jauh beda. Matanya memerah, coba disembunyikannya embun yang mulai menitik.

“Jangan masuk rumah dulu,” saran pak RT.

Saya perhatikan langit, masih tersisa sampah-sampah kecil yang meliuk-liuk turun ke bumi dengan angin yang perlahan melambat. Sepertinya kejadian puncaknya saat saya di atas, sampai Hafa berteriak tadi. Mungkin ini yang dilihat Hafa dari jendela dan dikiranya abu vulkanik. Tadi saat baru keluar, sayapun tidak berfikir bahwa itu sampah yang terbawa angin, tapi debu vulkanik seperti dugaan Hafa, ternyata puting beliung dengan bawaannya. Yaaa, sebenarnya kami belum pernah melihat langsung seperti apa debu vulkanik itu.

Setelah agak tenang, walau masih gemetar, saya ingat tadi belum sempat pakai kaos kaki.

“Fa ambil kaos kaki, tab, kacamata dan hp!”

Secepat kilat Hafa masuk dan segera kembali dengan apa yang saya minta.

Segera saya tulis pesan singkat di grup keluarga.

Abu vulkanik! Doakan, Umi gemeteran. (13.20)

“Apa lagi, Mi?” Mungkin Hafa belum terfikir, apa yang harus dipentingkan dalam kondisi seperti ini.

“Bawa tas Umi dan Qur’an, Harish juga ambil Qur’an!”

Keduanya melesat secepat kijang dan segera kembali. Harish memeluk qur’an kecil, Hafa menggendong ransel kecil dan memeluk laptop.

Setelah kondisi lebih tenang, saya masuk rumah, duduk di ruang tamu. Hafa dan Harish menyusul.

“Pak RT sudah masuk?”

“Sudah masuk semua,” jawabnya, menyusul duduk. Mengeluarkan qur’annya dari dalam tas.

Saya coba hubungi suami, sedang dialihkan.

“Batere tinggal dikit, ces dulu, Fa.”

Saya coba kirim pesan via wa, nunggu signal lewat. Memang sudah tiga hari ini jaringan kurang ramah, baik wifi maupun data seluler.

Di depan rumah puting beliung, Umi nggak sempat lihat, Cuma dengar suaranya dari dalam rumah. (13.27)

Alhamdulillah, langsung direspon.

Alhamdulillah, Allah sudah kirimkan hujan, la haula wala quwwata illa billah.

Abi dimana? Belum selesai acaranya?

Belum, sampai sore di IIBF.

Ya sudahlah, yang penting kondisi rumah sudah terpantau seluruh anggota keluarga.

Hmm, lalu apa?

Saya perhatikan ekspresi wajah Hafa dan Harish, kecemasannya belum hilang sempurna.

“Dalam kondisi seperti ini, hanya Allah tempat meminta pertolongan. Abi nggak ada, andaipun ada, belum tentu bisa menolong. Banyak cerita tentang pertolongan Allah kepada orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Andaipun Allah berkehendak lain, yang penting kita selalu dalam kondisi berinteraksi dengan Al Qur’an dan berdzikir.”

Hafa segera mengeluarkan qur’an dari tas dan membukanya, membaca tanpa suara. Harish mengikuti apa yang Hafa lakukan. Saya tahu, mereka sedang tidak fokus, agak sulit mendapatkan ketenangan dengan tilawah dalam kondisi seperti ini. Setidaknya, mereka menangkap pesan saya dan meresponnya dengan tindakan.

Saya segera membuka aplikasi Al Qu’an di tablet. Hmm, surat apa yang paling pas?

Yess! Al Mukminun, salah satu surat favorit ketika saya butuh ketenangan.

Suara syech Mishary Al-Afsy menggema di ruang tamu, adem, menenangkan.b

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

(yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya,

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,

Surat Al-Mu’minun, Ayat (1-3)…

Baru selesai dua halaman (27 ayat), Harish tertidur di kursi memeluk qur’annya.

puting beliung, sebagaimpengingat

Harish tertidur mendengarbtilawah yang menenangkan hati

Saya merasa lebih tenang.

Masyaallah, tak ada sedikitpun prediksi akan datangnya puting beliung, walaupun kecil, karena yang sedang dikhawatirkan adalah meletusnya anak gunung krakatau yang berdampak gempa dan atau tsunami.

Allah mengingatkan dengan mengirimkan bayi puting beliung, hanya bayinya. Bukan seperti yang pernah terjafi di tempat lain, yang lernah saya tonton di youtube atau film, yang memakan banyak korban.

Angin…makhluk Allah yang tidak nampak, tetapi kehadirannya dapat kita rasakan. Kekuatannya menggetarkan dan ketika berkumpul mampu memporak-porandakan apapun yang Allah kehendaki.

Tiada daya manusia ketika Allah menunjukkan salah satu keperkasaan makhluk ciptaan-Nya.

Tak ada level kehebatan manusia yang layak disombongkan!

Merunduklah wahai diri, kepada Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Catatan: video diambil oleh Pak RT dan dan kiriman seorang teman di wa

13 Comments

  1. Emmy Herlina Januari 3, 2019
    • nenysuswati123 Januari 7, 2019
  2. Naqiyyah Syam Januari 3, 2019
    • nenysuswati123 Januari 7, 2019
  3. Dwi Septiani Januari 3, 2019
    • nenysuswati123 Januari 7, 2019
  4. Izza Januari 3, 2019
  5. Izza Januari 3, 2019
    • nenysuswati123 Januari 7, 2019
  6. Rita Januari 11, 2019
    • nenysuswati123 Januari 11, 2019
  7. Rika Widiastuti Altair Januari 13, 2019
    • nenysuswati123 Januari 14, 2019

Tinggalkan Balasan ke Rita Batalkan balasan