Resensi Buku Him An Epic Roman

Resensi buku Him An Epic Roman

Karya Dimas Joko

Terbitan LovRin Publishing, cet. April 2020

Viii + 545 halaman

resensi buku him an epic roman

Buku Him an Epic Roman

Saya membeli buku ini karena “kenal” dengan penulisnya, Dimas Joko. Walau sebatas berteman di fb, belum pernah jumpa, tapi saya tertarik dan menyukai setiap karyanya yang di posting di fb. Baik di linimasa pribadinya atau di dinding Komunitas Bisa Menulis, grup fb yang mempertemukan kami.

Sudah lama saya menunggu bukunya dan berniat memiliki, jika suatu saat terbit.

Tanggal 3 Juni saya memergoki di linimasa Mas DJ , begitu saya memanggilnya, menawarkan PO buku karyanya. Saya segera memesan, sekaligus dengan kembarannya. Ya, buku ini kembar, beda penulis.

Ups! Saat siap transfer, ternyata saldo di rekening nggak cukup, wk wk wk. Akhirnya minta tolong anak, untuk transfer dari rekeningnya. Wajar, memang zaman pandemi ini banyak rekening melangsing dan dengar-dengar, penjualan buku merosot tajam. Namun, selama ini saya belanja buku juga bukan karena ada uang sisa, tapi memang masuk kebutuhan yang diupayakan untuk dipenuhi.

Alhamdulillah, tanggal 22 Juni pesanan saya terima. Dan layaknya remaja yang menanti-nantikan novel penulis idolanya, saya segera membabat habis dua novel kembar tersebut. Hari ini, 24 Juni sudah saya selesaikan, bergantian dengan anak gadis yang sedang belajar dari rumah. Kadang-kadang saya malu, sudah punya 3 cucu masih senang baca novel. Walaupun tidak ada alasan juga untuk malu, toh yang dibaca novel-novel pilihan dan berkualitas.

Banyak karya Mas DJ yang diposting di fb. Hampir semua ceritanya seru dan bikin greget. Termasuk isi buku ini, sebagian sudah ditumpahkan di beberapa postingan di KBM. Fokus ceritanya berlatar fitnah akhir zaman, yang diawali datangnya kabut Dukhon dan disusul hadirnya Imam Mahdi.

resensi buku him an epic roman

cover belakang Him an Epic Roman

Cerita diawali datangnya Dukhon saat Salim, seorang penulis, ada di sekitar sebuah mal di Yogyakarta. Penggambaran kejadian yang mendirikan bulu roma dan sangat menegangkan.  Adegan film Armagedon yang pernah saya tonton beberapa tahun lalu, seakan hadir di depan mata.

Saat Salim sadar dari pingsannya, insting relawannya segera bekerja. Memetakan apa yang harus segera dilakukan dengan memperhitungkan segala kemungkinan yang akan ditemui. Walaupun hanya dengan meraba, layaknya orang buta.

Singkat cerita, di sekitarnya hanya ditemukan dua orang yang masih bernyawa selain dirinya, yaitu bapak pemilik mal yang dermawan dan seorang muslimah bercadar.

Mereka bertahan dalam kegelapan selama 40 hari di dalam mal, mengandalkan persediaan makanan, minuman dan kebutuhan hidup lain, yang sudah diikhlaskan oleh pemiliknya untuk dimanfaatkan.

Dari sinilah awal petualangan Salim menjalani takdirnya ( dalam buku Him) dan Putri (dalam buku Her) yang terpisah, terlunta-lunta hingga …

resensi buku him an epic roman

Dua buku kembar, satu tema, beda penulis.

Pembaca dibawa pada kehidupan tanpa teknologi, seperti abad-abad sebelumnya. Gambaran masa perang dan penjajahan dihadirkan dengan detail, terutama bagi yang sering atau pernah menonton film berlatar belakang peperangan atau kehidupan di abad-abad kejayaan sebuah dinasti.

Misi perjalanan Salim dan rombongan ke Makkah, menunaikan amanat pemilik mal yang sering bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Dalam rangka baiat dan mendukung perjuangan Imam Mahdi yang diramalkan segera muncul, mengingatkan saya pada film Kera Sakti yang mendampingi gurunya mencari kitab suci. Banyak kejadian-kejadian misterius dan di luar nalar, menghiasi perjuangannya. Nama-nama tokoh dalam kisah para nabi dan para sahabat hadir sebagai sosok-sosok yang ditemui.

Dari sisi karya kepenulisan, saya sangat mengapresiasi kerja keras penulis dalam menghadirkan suguhan yang luar biasa ini.

Dalam buku ini saya melihat bagaimana penulis meramu antara mimpi-mimpi yang sering menghiasi tidurnya, perenungan, obsesi, pengalaman sebagai relawan bencana alam, kajian agamanya, terutama pengalamannya sebagai penerjemah biografi Muhammad sang Nabi karya Karen Amstrong, juga pergaulannya dalam dunia dakwah dengan para dai dari berbagai komunitas dan jamaah.

Saya acungi jempol atas keberaniannya mengambil POV Salim, yang sangat mendambakan bisa berjumpa dengan soaok Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu kehadirannya sebagai khalifah yang akan menyelamatkan dunia. Juga menghadirkan sosok Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam.

Wajar kalau di Pengantarnya, penulis sangat menekankan bahwa kisah ini fiktif, karena temanya menyangkut ramalan nubuwah dan terkait dengan akidah. Ada kekhawatiran munculnya reaksi dari pembaca atau masyarakat yang bersifat kontroversial. Hal ini memang sedikit sensitive.

Sebelum ini, saya kurang tertarik untuk mendalami kajian tentang kiamat dan fitnah akhir zaman. Bukan tidak takut akan hadirnya, justru sangat jerih saat mendengarkan penjelasannya. Setidaknya, membaca novel ini, membuat saya lebih memikirkannya dari beberapa sudut pandang, yang intinya  mengevaluasi diri, sejauh mana sudah melaksanakan tugas hidup sebagai manusia dan hamba-Nya.

Satu hal yang membuat malu, bagaimana penulis menggambarkan bagaimana cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah Saw. Hal ini juga mengulik sisi terdalam sanubari, sejauh mana dan sebesar apa rasa cinta saya kepada junjungan yang menuntun jalan kepada jalan keselamatan? Bagaimana ekspresi yang seharusnya dalam mengungkapkan cinta kepada beliau?

Wes, pokoke jempol.

Add Comment