Rumah Politik Ikut Upaya Menumbuhkan Kesadaran Politik

Rumah Politik

Diskusi bersama anak-anak muda, membahas tentang perpolitikan Lampung

15 April 2018, Home’s Cafe, Bandarlampung.

Sebenarnya, sejak Subuh badan terasa kelelahan luar biasa. Mengingat selama seminggu mengikuti banyak agenda yang cukup menguras tenaga. Alarm tubuh sudah memperingatkan untuk segera istirahat. Ada agenda pagi sampai siang, tetapi karena alarm sudah begitu jelas, kepala menunjukkan tanda-tanda awal migrain, saya minta izin untuk tidak mengikuti agenda tersebut.

Segera saya relaksasi, melepaskan beban pikiran yang menggelayut. Merebahkan badan, memenuhi kebutuhan makan walau tanpa selera, minum suplemen dan pasrah tapi tetap berharap, siang bisa menghadiri undangan diskusi politik di Home’s Café.

Alhamdulillah, harapan saya dikabulkan-Nya, mengingat undangan hanya untuk 2 orang mewakili Tapis Blogger. Saya menuju lokasi mengendarai motor sendiri, janjian ketemu Novi, sekretaris Tapis Blogger. Sampai di lokasi, setela memarkir motor, saya buka wa, ternyata ada pesan Novi, batal datang karena kondisi badannya kurang sehat.

Ok, artinya saya sendirian mewakili Tapis Blogger. Saya memasuki kafe, agak gamang, karena baru pertama kali masuk ke kafe ini dan lagi, sendirian, tetapi kegamangan itu segera sirna saat saya disambut ramah oleh panitia untuk regristasi. Kemudian diantarkan ke tempat duduk yang sudah disediakan dengan formasi perkelompok di satu meja. Saya sapukan pandangan ke seluruh panitia dan peserta. Nah! Kembali terulang, saya nyemplung di acara orang-orang muda. Dari sambutan panitia saya jadi tahu, sasaran acara usia 17 sampai dengan 37 tahun. Saya? Ahhh, baru 35 tahun (baca dari kanan, ya) he he he.

“Jarang, lho, perempuan seusia Ibu yang peduli dengan forum diskusi seperti ini,” kata Dewi Astuty, panitia yang menjadi fasilitator diskusi di kelompok kami.

Mungkin benar juga pendapat Dewi, perempuan seumuran saya lebih senang momong cucu di rumah. Tapi menurut saya, tidak juga, tergantung lingkungan dan komunitas yang dipilihnya dalam bergaul. Saya memang lebih banyak kesempatan mengikuti acara-acara seperti ini, setelah duapuluh tahun lebih fokus pada urusan keluarga. Setelah anak-anak mandiri, saatnya berkiprah sesuai dengan apa yang saya sukai, tentu saja aktivitas yang bermanfaat.

Dalam sambutannya, Shintya, sang founder, menyampaikan latar belakang didirikannya Rumah Politik:

    1. Politik merupakan hal yang amat penting untuk dipahami, sistem politik yang baik membawa negeri ini menyejahterakan bangsanya, namun belum banyak orang yang memiliki kesadaran untuk memahami politik. Hal ini dapat dilihat dari survey yang telah dilakukan Rumah Politik di propinsi lampung. Dari 100 orang pemuda yang disurvey, hanya 37 orang yang menganggap isu politik menarik, sedangkan 41 orang menganggap tidak menarik, dan 22 orang tidak menjawab, bahkan di anataranya tidak canggung menunjukkan sikap antipati terhadap politik.
    2. Sejalan denngan pendidikan politik, dari 100 orang pemuda Lampung, hanya 6 orang dari 100 responden yang mengerti terkait pendidikan politik beserta manfaatnya.
    3. Angka golput di propinsi Lampung cukup tinggi, contoh, pada pilkada 2015, di mana jumlah pemilih hanya sebesar 67,5% dari jumlah total usia pemilih propinsi Lampung.
    4. Maraknya berita hoax, serta penyalahgunaan makna politik oleh oknum-oknum tertentu yang dikhawatirkan dapat memecah belah persatuan dan kesatuan.

Peserta diskusi yang diundang berasal dari responden survey pilihan, OSIS MSA/SMK/sederajat, BEM Universitas Negeri dan Swasta dan utusan komunitas.

Saya suka dengan agenda ini, setidaknya membuktikan bahwa sebagian pemuda kita masih peduli terhadap nasib bangsa dan ikut memikirkan perpolitikan yang menjadi penentu kepemimpinan negara.

Apa tujuan Rumah Politik?

    1. Menumbuhkan kesadaran pentingnya peran politik dalam menyejahterakan bangsa.
    2. Mendorong pendidikan politik di Lampung.
    3. Mengurangi angka golput di Lampung
    4. Mengadakan gerakan anti hoax dan politik adu domba.

Apa saja program Rumah Politik?

    1. Campaign via IG @rumah.politik
    2. Diskusi rutin
    3. Ujian politik
    4. Satu hari menjadi

Fiuh! Semangat banget Shintya menyampaikan gagasan-gagasannya. Karena ini baru langkah awal, kita tunggu saja kiprah selanjutnya, yang jelas tidak semudah mengumpulkan pemuda untuk ngobrol santai di café sambil nyanyi-nyanyi.

Acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok, dengan metode menjawab pertanyaan-pertanyaan  yang dibacakan panitia dan setiap peserta menjawab, kemudian jawaban dituliskan di kertas berperekat, lalu ditempelkan di kertas besar. Setelah semua pertanyaan dijawab, ada sedikit diskusi yang dipimpin fasilitator untuk membahas jawaban-jawaban individu tadi dan dibuat jawaban berdasarkan kesepakatan, yang nantinya akan diprsentasikan di depan.

Menjelang waktu Ashar, diskusi kelompok dipaksa selesai sesuai waktu yang ditentukan, kemudian kami menunjuk salah satu peserta sebagai juru bicara.

Sayang, jam 16.00 saya ada agenda lain, terpaksa saya pamit duluan dan tidak mengikuti acara hingga selesai. Saya berharap, langkah Rumah Politik tidak berhenti sampai di sini, sebagai bagian dari upaya penyadaran politik di kalangan muda, sebab merekalah yang nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan para pemimpin.

3 Comments

  1. Lilih muflihah April 30, 2018
    • nenysuswati123 Mei 1, 2018
  2. Majalah Lampung Mei 13, 2018

Add Comment