Saat Harus Memilih, Bis atau Mobil Travel?

Untuk yang jarang bepergian, seperti saya, memilih kendaraan saat akan meninggalkan rumah dengan jarak yang cukup jauh, tentu perlu pertimbangan matang.

Menentukan pilihan, tentu dengan berbagai pertimbangan, seperti jarak tempuh, waktu yang dibutuhkan untuk sampai lokasi, kondisi dan situasi jalan, dll.

Tidak semua tempat, efektif kita tempuh dengan pesawat, walaupun dana mencukupi, misalnya.

Baiklah, mungkin lebih bisa diambil pertimbangnnya, dengan mengikuti perjalanan saya, dua hari lalu.

Tanggal 2 Oktober 2016, saya berkesempatan mengikuti acara workshop bersama Asma Nadia dan kawan-kawan. Bukan workshop murah, karena biaya resminya 1 juta rupiah untuk 2 x pertemuan efektif selama 16 jam. Belum lagi biaya perjalanan Bandarlampung-Jakarta, yang tidak sedikit, secara ukuran kantong pribadi. Alhamdulillah, melalui beberapa sponsor, Allah memberikan rizki untuk mengikuti acara ini.

Setelah mencari informasi tentang perjalanan sampai lokasi, akhirnya saya putuskan memilih bis Damri untuk keberangkatan perjalanan kali ini. Untuk pulang, masih dipertimbangkan beberapa alternatif.

Mengapa saya pilih Damri?

Pertimbangan pertama adalah ketepatan waktu. Saya harus tiba di lokasi, Jakarta Design Centre, di kawasan Slipi, sebelum jam 9 pagi. Sangat rugi, jika perjalanan yang cukup berat, terlambat sampai di tempat.

Kenapa Damri? Bukan bis lain?

Saya belum pernah ke lokasi, jadi belum paham rute perjalanannya. Jadi pilih Damri, karena jelas pool terakhirnya, yaitu di stasiun Gambir. Nah, dari sana saya bisa melanjutkan perjalanan dengan grabcar. Sedang bis lain, saya tidak paham, harus turun di mana. Untuk tiket biasa, 155.000. Kalau ingin memilih tempat duduk, sebaiknya beli tiket sehari sebelumnya, bisa di pool Damri Rajabasa atau di pool stasiun Tanjung Karang.

Kenapa grabcar?

Ada semacam jaminan keamanan dengan grabcar. Kejelasan berapa tarifnya, sehingga kita tidak terkaget-kaget jika disodori besarnya nominal taksi biasa yang menggunakan argometer. Mudah memesannya, karena saat saya tiba di Gambir, jam 6 pagi, lewat beberapa menit, masih sempat membersihkan diri di kamar mandi mushola, sarapan sambil istirahat. Sekitar jam 7, saya telpon anak yang di Bandarlampung, agar pesan grabcar. Saya diminta ke halte bis terdekat, sampai sana, telpon lagi. Setelah bertanya pada tukang parkir di stasiun Gambir, saya berjalan kaki ke luar lokasi stasiun, menuju halte. Tidak jauh, tapi lumayan berat membawa ransel pakaian. Sampai di hlte saya nelpon anak lagi, kemudian diinstruksikan menunggu. Sebentar kemudian, sopir grabcar menelpon, memastikn dimana posisi saya. Hanya beberapa menit, sebuah mobil sejenis avanza berhenti tak jauh dari halte, sopirnya melampaikan tangan. Segera saya hampiri, kemudian sopir menanyakan nama saya, setelah jelas ini grabcar yang dipesan, saya masuk.

“Saya pikir mobilnya ada tulisan grabcar,” curhat saya pada sopir, yang berlogat sunda.

“Kalau mobil, nggak ada , Bu. Nah, kalau yang motor, ada juga seragamnya,” jelasnya.

“Semacam taksi gelap, begitu?”

“Mungkin ada yang menyebutnya begitu, sebenarnya, kan mobil pribadi,” jelas sopir.

Alhamdulillah, sebelum jam 8 saya sampai di JDC, lokasi workshop akan diselenggarakan. Sudah ada beberapa peserta yang saya kenal lewat fb, terutama yang dari luar kota. Ha ha, SKSD, tapi beneran kok, serasa dekat, akrab, walaupun baru sekali ini bertemu. Mungkin karena sama-sama suka menulis, ada semacam ikatan hati untuk mudah dekat.

Acara dijadwalkan selesai jam 5 sore, maka saya berani membuat janji dengan seorang teman untuk dijemput tepat jam 5. Tapi, rupanya ada perpanjangan waktu, entah sampai berapa menit. Dengan pertimbangan harus sampai lokasi, di Cilincing saat maghrib, maka saya memutuskan untuk pamit pulang sebelum acara selesai.

Alhamdulillah, sesuai dengan perhitungan, saatnya maghrib sampai di lokasi. Setelah memastikan, jam berapa acara selesai, saya minta tolong teman tersebut mencarikan travel online, agar bisa langsung pulang.

Kenapa travel?

Biasanya travel bisa menjemput di tempat dan antar sampai tempat. Sayangnya, karena lokasi di kawasan padat penduduk dan jauh dari jalan raya, pihak travel minta supaya teman mengantarkan ke lokasi yang mudah dijangkau. Its oke, daripada mengantarkan ke Gambir, belum tentu juga kebagian tiket, akhirnya saya diantar ke tempat yang disepakati. Dimana? Ah! Saya lupa, dan kurang memperhatikan.

Abaikan masalah fasilitas! Bagaimana tempat duduknya, ac, dsb. Karena setiap travel berbeda. Yang penting bisa pulang sesuai perhitungan. Cape, tapi lebih enak di rumah, daripada memperpanjang waktu dengan menginap, khawatir merepotkan.

Berapa tiketnya?

Ha ha ha, jangan dibandingkan dengan Damri, ya. 280.000.

Keuntungan travel, antar sampai tempat.

Nggak enaknya? Harus sabar menunggu giliran, karena mengantar penumpang lain.

Itu catatan pertama dari perjalanan saya dalam rangka menambah ilmu, menjalin silaturahim, meningkatkan motivasi, mencari inspirasi. Tunggu lainnya, ya.

Sayang, tidak didukung gambar yang oke, karena harus hemat batere tab.

tmpdoodle1475563754075

6 Comments

  1. fitri restiana Oktober 4, 2016
    • nenysuswati123 Oktober 4, 2016
    • Jenibelle November 16, 2016
      • nenysuswati123 November 16, 2016
      • nenysuswati123 Desember 6, 2016
      • nenysuswati123 Desember 6, 2016

Add Comment