Sakit di Perjalanan, Bagaimana Mengatasinya?

Suami mencintai dan menyayangi istri, itu wajar, apalagi di usia pernikahan lebih dari 26 tahun. Tetapi bentuk ekspresi kasih sayangnya mungkin berbeda dari setiap pasangan.

Tulisan ini berlanjut pada postingan berikutnya.

Hmm, baiklah. Kisah ini akan saya mulai dari awal kegiatan yang telah direncanakan beberapa minggu sebelumnya.

***

8 Desember 2017

Pukul 13.00 saya pergi dengan grabcar menuju lokasi lomba blog. Awalnya saya kurang berminat mengikuti, karena mengukur kemampuan diri yang minim pengalaman, sedang teman-teman peserta terlihat lebih mumpuni dan sering terbukti sebagai pemenang. Tetapi komentar seorang teman komunitas, bahwa ikut lomba bukan sekedar cari menang, mengubah keputusan. Yups! Saya terlalu lemah untuk menolak kesempatan belajar dan belajar.

Sesuai kesepakatan, seorang teman menanti di suatu tempat untuk pergi bersama ke lokasi.

Dari jam 14.00 kami mengikuti seremoni launching sebuah program yang diprakarsai sebuah kedai kopi bertaraf…perkiraan saya internasional, melihat dari ragam menu yang disediakan. Setelah acara launching, dengan hidangan minuman kemasan gelas bagi yang mau mengambilnya sendiri di meja yang terletak di pinggir tenda tempat launching, kami diberi kesempatan untuk mencari tambahan bahan tulisan dan foto di lingkungan kedai.

Jam 14.20 peserta lomba dipersilakan ke lantai dua untuk menulis di blog masing-masing sesuai tema yang ditentukan. Kami bebas memilih tempat di beberapa ruangan yang tersedia, ruangan ber ac, dingin tentunya. Namanya ruangan digunakan bersama-sama, tak mungkinlah saya mengatur suhu sesuai kebutuhan badan kurus kering ini, pasti yang lain akan kegerahan.

Di atas sebuah rak tersedia minuman kemasan gelas dan setoples besar es lemon. Saya hanya berani minum air bening, sebagai upaya jaga badan, mengingat beberapa agenda yang sudah saya sanggupi beberapa hari ke depan.

Sayang, saya sama sekali tidak membawa perbekalan. Kami tidak menyangka mendapat pengalaman seperti itu, mengingat event-event sebelumnya mendapat fasilitas memadai, sekedar hidangan selama kegiatan berlangsung, kadang ada biaya transportasi bahkan fee yang lumayan. Terutama untuk review produk sebagai promosi di blog kami yang masa tayangnya selama blog masih berada di internet.

Sebelum pulang, sambil menunggu yang lain, saya ditawari seorang teman mencicipi makanan yang dipesannya, sejenis pisang goreng keju. Ukurannya sekitar 5x5x5cm. Lumayan, satu potong mengisi perut

***

Di tengah perjalanan, kami minta tolong driver grabcar mampir sebentar ke pojok ATM kemudian mampir ke minimarket sekedar membeli roti dan minuman, untuk mengganjal perut sebelum sampai rumah.

Hal ini saya anggap ikut andil dalam apa yang saya alami. Lima jam hanya terisi 1 gelas air mineral, mengingat pola makan saya yang mampu makan sedikit tetapi harus sering, tentu ini jadi bahan masalah.

Total 6 jam saya keluar rumah beraktivitas tanpa istirahat.

***

9 Desember 2017.

Pagi hari, teman  yang mengundang saya , yang janjian bareng ke Lampung Barat menelpon, mengabari sudah siap terbang dari Bandung. Saya akan dijemput travel yangvsudah dipesan dan bertemu rombongan di bandara Raden Intan II.

Nah!

Bukannya rencana awal berangkat siang?

Akhirnya, saya tergopoh-gopoh packing untuk kebutuhan dua hari. Ini pun ada perubahan, rencana hanya mengisi tabligh akbar dari jam 09.00 sd 12.00, tetapi dengan pertimbangan efektivitas, siangnya saya diminta mengisi kajian di majelis dzikir.

Jam 09.00 travel menjemput, beberapa menit driver travel menunggu.  Saat berpamitan, Abi bilang bahwa nanti malam akan berangkat ke Jakarta, ada jadwal dadakan. Sambil menyodorkan sebungkus jadah/gemblong untuk diperjalanan, karena tadi pagi baru sempat makan sebungkus ukuran sekitar 3x3x7cm. Bahkan belum sempat membuat teh atau kopi sebagai temannya. Abi sempat membelikan anggur dan sebotol minuman mineral untuk bekal, yang pada kenyataannya utuh sampai Lampung Barat.

Jam 09.30 kami bertolak dari bandara. Sepanjang jalan tidak habisnya ngobrol, maklumlah, jarang ada kesempatan seperti ini. Teman lama, adik tingkat dan senang dengan aktivitas sejenis. Ngobrol sepanjang jalan tanpa minum atau ngemil. Beginilah kalau perjalanan tanpa  membawa anak kecil, sering meremehkan kebutuhan sendiri, tidak mementingkan bekal. Padahal saya ingat pesan kakak ipar, seorang perawat, intinya, selama perjalanan tidak boleh sampai merasa lapar!

Di Bandarjaya, kami mampir ke supermarket, seorang teman mencari oleh-oleh untuk anaknya. Sambil menemani, saya mencari peniti dan asesoris jilbab, yang ternyata saya lupa memasukkannya ke dalam tas, maklumlah, barang kecil. Sedangkan selama perjalanan, saya menggunakan jilbab instan. Di toko bakery saya membeli sari kacang hijau kemasan kotak dan sebotol pocari sweet. Mondar-mandir di supermarket sering tanpa hitungan, sepertinya hanya satu ruangan, tapi kalau dihitung mungkin berapa ratus meter dan cukup melelahkan.

Di daerah Kota Bumi kami berhenti, makan siang sekalian sholat di rumah makan padang. Porsi makan saya yang sedikit, makin sedikit dengan pilihan menu yang terhidang, ditambah suasana perjalanan, juga mempengaruhi.

Perjalanan dilanjutkan, ngobrol diteruskan, sampai di tugu patung Sukarno, di daerah Sumber Jaya,  mobil berhenti, sebelum mengantarkan salah satu penumpang yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Benar, sejak saya tergabung di komunitas Tapis Blogger, seperti tertular kebiasaan teman-teman blogger treveler yang pandai mengabadikan tempat-tempat yang disinggahinya. Beberapa menit saya gunakan untuk berfoto di bawah patung dan prasasti yang ditulis Bung Karno. Angin dan udara khas Lampung Barat sangat terasa, walau tidak begitu menggigit karena siang hari.

Di mobil, driver sempat berkomentar, seperti kembali ke zaman baheula, awal mula terjadinya penyembahan berhala adalah penghargaan kepada tokoh tertentu dengan visualisasi bentuk patung.

Nah! Drivernya kritis dan belajar dari sejarah masa lalu. Sebuah pemikiran yang perlu diapresiasi, mengingat bahwasanya kehidupan adalah pengulangan sejarah yang terus bergulir. Itu sebabnya, kita diperintahkan Allah untuk belajar dari sejarah, dari umat-umat terdahulu supaya tidak mengulang kesalahan yang sama untuk meraih kejayaan dalam kehidupan.

Sebelum jam 5 sore, kami sampai di Liwa, ibu kota Lampung Barat. Setelah ngobrol dengan tuan rumah, yang suaminya juga teman kuliah, saya mandi dengan air hangat. Jauh hari sebelum ke sini, saya sudah berpesan khusus untuk urusan mandi. Di rumah saja selalu menggunakan air hangat, apalagi di Liwa yang sangat-sangat dingin.

Kembali terulang, saat makan, hanya sedikit nasi dan lauk yang sanggup saya telan ditambah segelas teh hangat. Saat sedang  makan, saya ditawari untuk menyaksikan acara nyambai, salah satu tarian adat yang sedang dilombakan. Awalnya saya tertarik dan menyanggupi, sebagai bahan tulisan di blog, tetapi setelah sholat maghrib, saya berubah pikiran. Membayangkan efek keluar malam berkendaraan motor, di daerah super dingin? Brrrrr! Dan ini bukan tujuan utama perjalanan? Akhirnya saya putuskan untuk membatalkan.

Saya tidur lebih awal dibandingkan saat di rumah, bangun sebelum jam tiga dini hari dan tidak ada kesempatan tidur sampai sore hari. Sebelum subuh saya siapkan materi untuk acara siang hari, karena memang belum sempat disiapkan dari rumah.

***

Jam 08.30 panitia menjemput dan membaw saya ke lokasi.

Menjelang saya ke depan menyampaikan materi, menantu mengabarkan via wa, kalau Harish, bungsu saya demam dan diare. Setelah memberi arahan secukupnya, saya menunaikan amanah sampai jam setengah duabelas.

Baca isi kajiannya di sini.

Setelah sholat dzuhur, saya merasakan suhu tubuh meningkat perlahan. Saya abaikan sambil bermohon kepada Allah diberi kekuatan untuk menuntaskan amanah.

Sepertinya, di sini hidangan istimewanya resto padang. Makan siang, kembali bertemu dengan menu yang sangt terkenal di Indonesia. Dalam kondisi demam, selera makan menghilang, bertemu hidangan padat bumbu, mantabs!

Jam 14.00 acara dimulai, kalau tidak salah sekitar 40an menit saya bicara di depan, selain waktu lainnya saya gunakan untuk mengikuti seluruh rangkaian majelis zikir. Entah, seperti apa performen saya, tetapi saya bahagia melihat antusiasme peserta mendengarkan uraian yang saya sampaikan.

Setelah beres sholat ashar, seperti rencana awal, saya diantar ke lokasi Kebun Raya Liwa yang baru di resmikan, walaupun belum selesai pembangunannya. Begitupun cukup memadai untuk sekedar cuci mata.

Masyaallah! Tempat yang sangat indah, tetapi…Allahu akbar! Anginnya.

Saat turun dari mobil, saya sempat ragu untuk meneruskan langkah. Kuatkah badan yang memang sudah merasakan demam sejak siang tadi? Tanggung amat kalau mau dibatalkan? Sudah di depan mata? Kalau ditunda, kapan lagi bisa sampai sini?

Sekali lagi, lalai berakibat fatal.

Jaket justru saya tinggal di tempat menginap.

Mau apalagi? Sudah sampai lokasi, hal pertama yang menyambut adalah terpaan angin sore yang seakan tak ada jeda.

Kondisi demam, tidak biasa di daerah dingin, tanpa jaket, terterpa angin besar, kondisi perut tidak cukup terisi.

Bismillah! Sebentar saja, hanya mengambil beberapa gambar dari atas, tidak akan turun melihat taman-taman di bawah.

“Mbak, berlindung di dinding,” kata teman saya mengingatkan, saat angin bertiup menerpa badan saya yang tipis. Seolah tak ada jeda tiupannya. Bahkan untuk diambil gambarpun saya kerepotan mengatasi baju dan jilbab yang berkibar-kibar.

Panitia sudah memberikan yang terbaik, tetapi kondisi saya sedang tidak menerima kebaikan itu. Andainyapun ditawari, apa yang saya inginkan, pasti saya hanya mampu menggeleng, karena memang tak ada keinginan apa-apa untuk dimakan. Bahkan sore harinya, sampai berangkat pulang ke Bandarlampung, tak secuilpun saya makan snack yang disediakan panitia.

Saya hanya mencukupkan diri mengambil gambar di atas dan cepat-cepat. Saat pulang, masih ditawari mampir di patung yang berdekatan dengan taman. Yaaaah, namanya sekalian, tanggung, walaupun sudah terbayang kemungkinan kelanjutannya, tapi setidaknya setimpal dengan yang didapatkan.

Setelah dari KRL, saya di ajak ke patung Sekura yang tempatnya tidak terlalu jauh dari KRL. Patung yang sangat besar, di bagian kakinya terdapat prasasti Rekor Dunia, kategori arak-arakan terbanyak menggunakan sekura.

Dari kaki patung, keindahan Liwa begitu mempesona dengan taman dan kolam di bawahnya, gunung dan bukit berselimut kabut yang mengitari. Sejenak saya melupakan dingin dan demam, setelah menaiki tangga yang cukup menguras energi.

Pulangnya, mampir ke warung tenda dekat tugu Ara, dimana saat kunjungan sebelumnya saya jatuh cinta dengan bandrek yang dihidangkan. Sayang, belum sempurna direbus! Batal mendapatkan penghangat yang sedap.

Sesampai di rumah saya segera ke kamar mandi. Tidak berani mandi, juga tidak sempat merebus air. Hanya berwudhu persiapan sholat maghrib. Tetapi masyaallah, bahkan saya ketakutan dengan kondisi badan sendiri. Menggigil tak terkendali. Rahang bergerak tak terkendali, saya berusaha secepatnya keluar, khawatir kram karena kedinginan. Sampai kamar, bukannya segera berkemas, justru masuk ke dalam selimut tebal dan berjaket, menghangatkan badan. Bahkan saya tidak tahu kalau sudah dijemput rombongan untuk pulang ke Bandarlampung. Sebelum berangkat, saya diminta minum teh hangat yang sudah disediakan, sekaligus minum tolak angin, lumayan, kedinginan berkurang.

Menjelang maghrib, kami berangkat. Di awal perjalanan, saya masih berkicau, ngobrol asyik dengan rombongan yang masih berusia muda. Semakin lama demam meningkat, bahkan terasa oleh teman yang duduk di sebelah. Perut mulai terasa tidak nyaman.

Saya minta tolong teman yang duduk di sebelah untuk memijat dengan keras titik akupunktur yang biasanya sangat membantu mengatasi mabuk perjalanan, terutama mual. Sakit, memang, tapi sangat bermanfaat. Lumayan, agak lebih nyaman, tapi saya harus menjaga jangan sampai mual itu bertambah parah.

Alangkah banyaknya bekal yang dibawakan oleh panitia, tapi tak seteguk atau secuilpun snack sanggup saya makan. Saya hanya berusaha untuk bisa tidur, mencegah mual yang sangat saya takuti. Benar! Saya takut muntah, karena akan mengingatkan saat hamil muda yang begitu berat saya alami dan berulang pada 7 kehamilan.

Ketika masuk waktu maghrib, diam-diam saya sholat, mengambil rukhshoh safar. Khawatir kalau menunggu di perhentian, badan sudah tidak kuat lagi.

Teman-teman masih ngobrol, saya minta izin untuk tidur. Salah satu kebiasaan dalam perjalanan, saya sangat sulit untuk tidur, kecuali tertidur sebentar. Tapi kali ini saya berusaha untuk rilex, andaipun tidak bisa lelap, setidaknya bisa beristirahat. Saya hampir tidak mengubah posisi duduk, khawatir akan berpengaruh ke perut. Tidak, saya tidak punya penyakit magh seperti dugaan teman-teman, karena selama ini gangguan mual disebabkan factor luar, terutama angin dan cuaca dingin. Sedangkan untuk makanan, semua jenis makanan dan minuman tidak mengganggu lambung saya, asal pandai dalam mengatur kapan masuknya.

Saya tidak tahu tepatnya, tetapi di sekitaran Kotabumi, perjalanan dihentikan untuk makan. Ditawari beberapa jenis makanan, tapi saya hanya minta nasi dan tempe, menu yang ramah untuk kondisi perut seperti ini, juga bandrek. Ketika teman mengantarkan nasi, dikatakan bahwa tidak ada tempe, adanya sate. Saya terima mangku itu, saya letakkan di pangkuan dan ternyata saya tertidur. Saat teman datang menagmbil mangkuk, sesuappun belum saya makan. Akhirnya saya ditunggu untuk makan, sayang…hanya satu suap kecil nasi tanpa lauk yang sanggup saya telan, itupun dengan perjuangan dan didorong seteguk air. Sedangkan bandrek, utuh sampai rumah.

“Ya , Allah Mi, panas banget?”  padahal saya merasa menggigil kedinginan.

“Ada minyak kayu putih?”

“Ada, Mi.”

“Bisa minta tolong borehin di punggung?”

Alhamdulillah, saya memakai rok dan atasan kaos lengan panjang dan dilapisi jaket, sehingga tanpa membuka baju, bisa memboreh punggung, bahkan dipijat dengan cukup keras, dengan merogoh dari bawah kaos. Kemudian saya tambahkan dengan memborehkan di perut.

“Setelah ini kita mampir di DPD untuk sholat, semoga ada kopi herbal, biasanya menolong dalam kondisi seperti ini,” kata ketua rombongan, saat mobil akan melaju lagi.

Kembali saya memejamkan mata, berusaha untuk tidur lagi, sampai terbangun saat ada seseorang menyodorkan secangkir kopi herbal dengan aroma khas. Saya sudah tidak memperhatikan lagi, apakah salah satu rombongan ataukah tuan rumah. Saya habiskan kopi hangat mendekati panas itu, dengan menyeruputnya sedikit-sedikit. Lumayan, menghangatkan perut, sambil terus berdoa, semoga tidak muntah.

Sepertinya perjalanan memang diperpanjang, karena harus mengantarkan seorang anggota rombongan wanita  yang tinggalnya di daerah Metro. Sebenarnya saya ragu, apakah mengharapkan cepat sampai atau ingin berlama-lama, mengingat kemungkinan besar suami masih dalam perjalanan dari Jakarta. Rumah kosong, anak-anak berkumpul di pondok tahfidz yang diasuh menantu.

Setelah menurunkan satu penumpang, saya menghubungi anak sulung, memastikan posisi adiknya, apakah masih di pondok atau sudah di rumah, menanti saya.

Alhamdulillah, dapat kabar, ternyata suami sudah di rumah, sampai jam 22.00 tadi. Betapa lega perasaan saya mendapatkan kabar itu. Berarti sampai di rumah ada yang menyambut dan mengurus saya yang tanpa daya.

Sekitar 5 km sebelum rumah, saya sudah menghubungi suami, dengan harapan tidak perlu membangunkan sampai saya sampai rumah.

Herannya, sampai rumah, pintu dalam kondisi tertutup, dan tidak segera terbuka. Sampai saya selesai membereskan barang bawaan, siap turun, pintu tetap tertutup, sampai saya minta tolong driver untuk membunyikan klakson.

“Abi lagi di toilet, dari tadi diare, entah sudah berapa kali.”

 

Allah!

Saya dengan kondisi seperti ini, Harish tak jauh beda, suami pun dalam kondisi seharusnya istirahat.

Saya tidak lama-lama berfikir, segera ke toilet, dan…sama seperti suami!

Tak sanggup berganti baju, langsung nyungsep di tempat tidur. Suami segera mengambil alat andalannya, minyak urut dan krem penghangat. Seluruh tubuh dipijatnya, kemudian menghangatkan bandrek yang saya bawa, saya masih menggigil.

“Minum parasetamol!” kata suami, segera mencarinya di tempat obat.

Kalau suami sudah memerintahkan minum parasetamol, itu berarti kondisi sudah luar biasa, suhu tubuh sangat tinggi. Setelah minum obat dan bandrek, suami seperti belum puas, saya dibekam kering. Alhamdulillah, agak lebih nyaman dan bisa tidur.

Add Comment