Seberapa Penting Membuat Resolusi Pribadi?

Resolusi pribadi merupakan hal yang kita tentukan untuk dilaksananakan. Ada unsur tuntutan pada diri sendiri untuk menyikapinya dengan benar.

Mungkin, sebagian kita merasa enggan membuat resolusi setiap tahun, karena yang lalu-lalu selalu gagal.

Benarkah?

Atau hanya merasa gagal?

Kalau kita hanya membuat satu resolusi, wajar kalau merasa gagal saat hal itu belum terwujud. Padahal, hidup kita tidak hanya satu aspek, kan? Sangat banyak hal yang bisa kita buatkan resolusi dalam hidup ini. Dan lagi, tidak selamanya resolusi itu sesuatu yang baru, bisa saja merupakan kelanjutan atau pendalaman/pendawaman resolusi sebelumnya.

Mengapa kita tidak membuat minimal satu resolusi untuk satu aspek dalam kehidupan kita?

Misalnya: Kesehatan, pengembangan diri, pengembangan karir, keluarga, sosial, ibadah, dll.

Biasanya kita membuat resolusi yang menggelegar dengan semangat menggebu-gebu. Semangat membara di awal, berbeda dengan upaya pencapaiannya, semakin banyak langkah yang ditempuh, semangat semakin berkurang, apalagi menemui banyak kendala.

Selama ini saya membuat resolusi, tapi sering lupa, dimana menyimpan catatan itu. Tak ada salahnya memanfaatkan blog nano-nano ini untuk menyimpannya.

Resolusi dibuat berdasarkan evaluasi kehidupan sebelumnya dan capaian yang akan digapai dalam tahap berikutnya dalam kerangka visi misi. Saya tidak akan membuat terlalu banyak resolusi, sambil menjaga aktivitas yang sebelumnya sudah diresolusikan dan kini didawamkan.

 

  1. Kesehatan.

Saya sangat sadar, kekurangan dan kelemahan dalam menjaga kesehatan yang berakibat pada munculnya beberapa keluhan di usia jelang 55 tahun ini. Untuk itu saya merencanakan untuk:

resolusi 2020, jalan kaki, kesehatan

Memperbanyak jalan kaki, sebagai upaya menjaga kesehatan

1.1. Merutinkan jalan kaki sebagai olahraga yang paling ramah untuk usia saya dan termasuk yang sangat jarang berolah raga. Akan dilakukan secara bertahap, baik itu jumlah langkah maupun frekwensi pelaksanaannya.

Tadi pagi saya sudah menghitung, jumlah langkah rumah – warung tempat belanja sayur. Kalau mengambil rute terdekat, sekitar 400 langkah.  Yang agak jauh, 725 langkah. Dan sepertinya, saya tidak setiap hari pergi ke warung. Sepertinya harus ada semacam upaya keras cenderung paksaan, tetap berjalan walau tidak belanja.

Berapa langkah yang direkomendasikan untuk tetap sehat? Tidak ada yang baku, walaupun ada yang merekomendasikan sekitar 7000 sd 10 000 sehari, berdasarkan penelitiannya.

Saya nggak akan muluk-muluk, karena sangat memahami kondisi dan karakter diri sendiri. Bisa merutinkan 500 – 1000 langkah setiap hari, sudah sangat bersyukur. Target saya sebatas merutinkan.

resolusi 2020, makanan sehat

Memperbaiki pola makan

1.2. Mengatur asupan makanan lebih baik.

Selama ini, keluhan yang sering muncul, berdasarkan konsultasi dokter dan keilmuan terapi yang saya pelajari, sumber masalahnya adalah kurangnya asupan makanan. Kalau orang lain kebanyakan diet menurunkan berat badan, maka seharusnya saya diet menaikkan berat badan, walaupun berat badan hanya sedikit dibawah BB Ideal. Bukan masalah gemuk atau kurus, tetapi kecukupan energi untuk beraktivitas.

Mungkin orang melihat, kegiatan saya tidak memerlukan banyak energi, karena hanya sedikit melibatkan aktivitas fisik. Cenderung kegiatan berpikir. Saya cuplikkan sebuah artikel yang berkaitan dengan hal ini.

Berpikir Membakar Kalori

Menurut Ferris Jabr dari Scientificamerican.com, otak membutuhkan 20% dari total kalori yang tubuh keluarkan dalam satu hari. Jika Anda membutuhkan 1.500 kalori, maka otak menghabiskan 300 kalori perhari. Otak membutuhkan kalori tersebut untuk mengakomodir semua kebutuhan gerak tubuh. Dalam satu jam, otak akan membakar 12.5 kalori dalam keadaan bukan berpikir keras. Saat Anda berpikir keras, tentu lebih banyak lagi kalori yang otak butuhkan saat bekerja.

Otak Butuh

‘Makan’ Selain oksigen yang cukup, glukosa merupakan menu santapan yang paling dibutuhkan oleh otak. Menurut David Rock, penulis “Your Brain at Work”, otak membutuhkan sumber metabolisme—terutama glukosa—ketika berpikir (BACA: Terjawab, Ternyata Ini Yang Membuat Anda Susah Fokus Saat Bekerja). Saat kadar glukosa menurun akibat berpikir terlalu keras, maka otak mengirimkan sinyal lapar. Anda pun merasa membutuhkan asupan makanan lebih banyak, meskipun sebenarnya yang diinginkan tubuh hanyalah kandungan glukosa.

Artikel ini telah tayang di Glitzmedia.co dengan judul “Sering Merasa Lapar Usai Berpikir Keras? Ternyata, Ini Alasannya”, https://glitzmedia.co/post/wellness/health-body/sering-merasa-lapar-usai-berpikir-keras-ternyata-ini-alasannya.
Penulis : Ayu Utami

Seorang dokter, memberikan saran kepada saya untuk menambah porsi makan. Walaupun tidak pernah melihat saya makan, beliau ternyata yakin kalau saya kurang porsi. Saya sempat kecut, jika ungkapan itu dianggap sebagai bukti saya kurang gizi/makan. Bukan tidak ada yang dimakan, tetapi karena kurang memperhatikan kebutuhan diri. Serig lalai saat sedang asyik tenggelam dalam aktivitas, tanggung kalau harus ditinggal makan. Memang saya lebih senang ngemil, karena bisa disambi membaca atau menulis. Idealnya, makanan yang perlu ditambah jumlahnya, dari jenis protein, vitamin dan mineral, terutama kalsium.

resolusi 2020, membqcq, kesehatan

Menu membaca perlu dikelola agar lebih efektif

2. Pengembangan diri

Ternyata, di tahun 2019 saya membeli sangat banyak buku. Dan bertambahlah jam membaca buku, terutama setelah mengikuti kursus baca kilat. Ternyata kemampuan baca saya semakin membaik dari sisi kuantitas. Terhitung 3 bulan terakhir saya sudah membaca 20 buku non fiksi dengan metode baca kilat dan 8 novel tebal dengan cara baca konvensional.

Bagaimana dengan tahun 2020?

Satu hari satu jenis buku, tanpa harus menyelesaikan satu buku, sesuai dengan bobotnya.

  1. Tafsir
  2. Hadits
  3. Wawasan Islam
  4. Pengembangan diri
  5. Pengembangan santri/pondok
  6. Profesi
  7. Fiksi

Apa tidak terlalu berat?

Berat kalau dianggap sebagai beban atau tuntutan, tapi ringan kalau dinikmati sebagai hobi, tinggal dikelola jenis bukunya. Membaca adalah hobi yang dijadikan kebutuhan. Mungkin terasa berat di awal-awal memenuhi jadwal, karena terbiasa moody.

resolusi 2020, kesehatan, membuat resolusi

satu-satunya buku terbit tahun 2019

3. Pengembangan Profesi.

Hmm, saya agak gimana gitu kalau bicara profesi. Kok tidak ada yang bisa saya sebutkan dengan penuh percaya diri. Atau memang saya termasuk tipe rendah diri? Astaghfirullah, tanpa bermaksud tidak bersyukur atas karunia Allah.

Saya pilih profesi sebagai penulis, yang mana di tahun ini saya niatkan untuk ditingkatkan. Tahun 2019 hanya satu judul buku yang terealisir dari dua yang saya targetkan. Buku Hafidz Rumahan.

Untuk buku satunya, saya masih mengalami kendala sehingga memutuskan untuk menunda menerbitkannya.

Di tahun 2020, semoga bisa melahirkan dua judul buku. Jujur, sampai saat ini belum memutuskan, buku apa yang akan diprioritaskan untuk diterbitkan. Sepertinya tidak jauh-jauh dari tema parenting dan Al Qur’an.

Selain itu saya akan menambah porsi posting di blog. Menyedihkan, tulisan ini merupakan postingan ke 10 di tahun 2019, artinya rata-rata tidak sampai sekali perbulan melahirkan tulisan. Pengennya sih, minimal satu postingan setiap pekan, tapi disesuaikan dengan kondisi, mengingat tahun ini juga ada agenda keluarga yang jadi prioritas, yaitu pengembangan pondok pesantren.

resolusi 2020, parenting qur'ani

Mengisi acara parenting di acara Kemah Sahabat Al Qur’an

Apakah bidang lain tidak dibuat resolusinya?

Hmm, apa ya? Kalau yang lain tergantung kesempatan dan peluang, seperti mengikuti seminar atau mengisi seminar.

Ibadah?

Hmm, lebih kepada peningkatan kualitasnya. Memperbaiki niat dalam setiap aktivitas agar bernilai ibadah.

Add Comment