Sekolah Tunas Mekar Indonesia

“Sekolahnya Kak Seto, ya?”

“Itu, kan sekolah mahal!”

“Sssst, di sana katanya terjadi kristenisasi, ya?”

“Yeee,bukannya malah islamisasi?”

***

Itu isu yang pernah terdengar di masyarakat dan Miss Mamik, selaku kepala sekolah TK Tunas Mekar Indonesia(TMI), mengakui adanya kabar tersebut.

Hal terbaik yang seharusnya dilakukan saat mendengar isu adalah melakukan klarifikasi pada sumbernya langsung.

***

Rabu, 11 Oktober 2017, saya dan teman-teman Tapis Blogger diundang oleh sekolah TMI untuk melihat langsung lokasi dan bincang-bincang dengan Miss Mamik.

Saat datang, kami disambut Miss Mamik dan diajak ke kantin sehat yang letaknya bersebelahan dengan kolam renang dan lapangan olah raga.

Sambil menunggu teman-teman Tapis Blogger lengkap, saya mengamati fasilitas sekolah yang tampak dari kantin sehat tersebut.

Di kolam renang sedang ada pemotretan, rupanya. Seorang fotografer dan seorang pengatur gaya sedang sibuk mengarahkan anak-anak untuk mendapatkan hasil gambar yang bagus.

Di lapangan  olah raga terdapat anak-anak usia SMP sedang berlatih.

Di komplek Sekolah TMI yang beralamat di jalan Rahman Hakim no 36 Way Halim, Bandarlampung ini memang berkumpul tingkat SD (Elementary School/ES), SMP(Junior High School/ JHS) dan SMA(Senior High School), sehingga bisa menggunakan fasilitas outdoor secara bergantian. Sedang untuk tingkat TK(Early Childhood Center/ ECC), lokasinya ada di Jl. KH Ahmad Dahlan no 4,  Pahoman, Bandarlampung.

Banyak yang dibicarakan pada pertemuan pagi hingga siang itu, tapi saya tertarik membahas tentang isu di atas.

Bagaimana penjelasan Miss Mamik?

***

“Perlu diluruskan tentang kepemilikan, Sekolah TMI bukan milik Kas Seto. Ada 15 orang yang memiliki saham di PT(Perseroan Terbatas) ini. Memang kami pernah menggunakan kurikulum Kak Seto untuk TK, di awal-awal berdirinya, sekitar lima tahun, setelahnya tidak ada lagi hubungan dengan beliau, kurikulum atau yayasannya. Kami menggunakan kurikulum diknas dengan system tematik.”

Jadi jelas, tidak ada hubungan Sekolah Tunas Mekar Indonesia dengan Kak Seto ataupun yayasannya.

***

Sekolah mahal?

Mahal atau murah, kan relatif?

Tergantung dibandingkan dengan siapa dan fasilitas yang disediakan.

Untuk sekolah sejenis, biaya masuk Sekolah TMI masih bersaing, hanya saja mungkin karena system pembayaran dan perinciannya, terkesan lebih mahal dari yang lainnya.

Di sini, tidak dikenal daftar ulang pertahun. Biaya pendaftaran hanya sekali, yaitu saat masuk, sedang tahun-tahun berikutnya tidak ada.

Nah! Ada keterbukaan dan kebebasan memilih untuk orang tua yang kemungkinan berpindah-pindah domisili.

Contoh, untuk mendaftar SD, jika direncanakan sampai lulus, yaitu 6 tahun, biaya pendaftaran sebesar 23 juta. Jika rencana hanya 5 tahun, atau masuk kelas dua karena pindahan, maka pendaftaran 21.500 ribu rupiah, dst.

Bandingkan dengan sekolah sejenis dengan uang pendaftaran 10 juta, tapi setiap tahun ada biaya daftar ulang 3 juta, misalnya.

Brosur berikut mungkin bisa menjadi gambaran masalah biaya.

 

***

Kristenisasi/Islamisasi?

Sekolah TMI memfasilitasi semua agama yang diakui di Indonesia.

Semua murid mendapatkan pelajaran agama 4 jam pelajaran dalam seminggu, 2 jam untuk pendidikan agama, 2 jam untuk pendalaman kitab sucinya masing-masing, dengan guru sesuai agama masing-masing.

Setiap murid juga difasilitasi merayakan hari besar agamanya masing-masing. Mereka diberi pengertian tentang toleransi beragama.

Namanya anak, rasa ingin tahunya begitu besar, itu yang sering terjadi, mereka ingin mengikuti apa yang dilakukan temannya yang beragama lain. Di sinilah peran guru untuk memberi pengertian, bahwa setiap agama mempunyai cara masing-masing dalam beribadah.

Adakalanya orang tua yang non muslim melaporkan bahwa anaknya sangat fasih mengucapkan assalamu’alaikum saat akan masuk rumah. Saat yang lain ada yang menceritakan anaknya yang muslim bercerita tentang aktivitas agama lain.

Itu sebabnya, orangtua harus benar-benar memahami masalah ini sehingga tidak terkaget-kaget dalam perjalanannya.

Sebelum memutuskan memilih Sekolah TMI untuk pendidikan anak-anaknya, orang tua diberi kesempatan untuk melakukan trial kepada anaknya, mengikuti 3 x pertemuan belajar sebelum mendaftar, sebagai upaya penjajakan. Selain itu, pihak sekolah juga rutin mengadakan open house setiap tahun untuk sosialisai.

Dalam penerimaan murid baru, Sekolah TMI tidak mengadakan tes seleksi. Yang diterima adalaha yang mendaftar lebih dulu.

***

Di Negara merdeka seperti Indonesia, orang tua diberi kebebasan memilih lembaga pendidikan untuk anak-anaknya. Begitu banyak pilihan model sekolah formal dengan segala keunggulan dan fasilitasnya serta variasi kurikulum yang digunakan. Bahkan, andai orang tua tidak memilih sekolah formal, pun, misalnya home schooling, negara juga memfasilitasi penyetaraannya dengan system ujian paket.

Pendidikan merupakan kewajiban utama orang tua yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengam lembaga pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Add Comment