Selamat Tinggal Lampung Barat

3 Agustus 2017

Sekitar jam sebelas kami meninggalkan rombongan, menuju Islamic Centre di kawasan Sekuting Terpadu untuk sholat sebelum melanjutkan agenda berikutnya. Terima kasih teman-teman, yang begitu ramah menerima dan mendampingi kami. Benarlah kata seorang teman, petualangan itu membuat seseorang lebih open mind, open heart dan open hand. Saya merasakan itu walau baru kenal beberapa jam dan bergaul di moment perjalanan ini.

Setengah dua belas kami sampai, sambil istirahat menunggu waktu sholat dhuhur.

Masjid yang megah, dengan pintu geser yang unik dan lukisan dinding yang menarik.

Hmm, saya tidak bisa berkemontar menyaksikan…di ruang sholat wanita sudah banyak gadis-gadis yang sepertinya akan tampil menari, sedang bersolek di sana.

Saya cek internet, dengan harapan, di tengah kota ada jaringan…sayang, sepertinya operator yang saya gunakan tidak ada di sini. Sempurna sudah…3 hari tanpa jaringan internet.

Bagi penggiat sosmed, tanpa jaringan internet bisa membuatnya mati gaya, tapi saya piker…dulu juga tanpa internet kita baik-baik saja. Manfaat kesempatan ini untuk menikmati dunia nyata.

Setelah sholat kita lanjutkan mencari tempat makan siang.

“Kondisi cape begini, nggak pas deh kalau makan nasi,” saya berkomentar.

“Ngebakso kita, ya?” Kak Ikhsan menawarkan alternatife

Ok, ngebakso kita.

Pilihan jatuh di warung  bakso yang tidak terlalu jauh dari tugu Ara, karena memang agenda berikutnya meliput festival Sekala Brak, yaitu pawai, walaupun sedapatnya, mengingat hari ini harus kembali ke Bandarlampung. Lagi pula sudah berjanji akan mampir ke rumah seorang teman di desa Sukarami, Balik Bukit.

Hmm, ternyata, dari waktu yang kami tentukan untuk segera berlalu, pawai itu belum mulai, hanya saja kami sudah bertemu dengan rombongan Sekura yang akan ikut pawai. Ups! ternyata fotonya tidak dengan kamera saya.

Dengan kondisi yang memang sudah lelah, kami cukupkan mengambil beberapa gambar dan segera melanjutkan perjalanan ke Sukarami.

Ternyata, suguhan keindahan alam untuk kami belum tuntas…perjalanan menuju Sukarami sungguh diliputi pesona keindahan yang luar biasa. Tak puas mata ini melumatnya.

Silaturahim, ketemu teman yang sudah lama tak jumpa, sepertinya menjadi suguhan terakhir sebelum kami benar-benar meninggalkan negeri berselimut kabut kali ini.

Semoga, suatu saat nanti Allah mentakdirkan kami kembali untuk sebuah kebaikan.

2 Comments

  1. fitri restiana August 28, 2017
    • nenysuswati123 August 28, 2017

Add Comment