Seminar Kemuslimahan 2017 UNTIRTA

13 Oktober 2017

Jam 20.00 travel datang menjemput, ha ha ha, hampir 2 jam saya diajak keliling kota Bandarlampung menjemput penumpang lain.

Oke, nggak masalah, semoga saja sampai Cilegon sesuai perencanaan.

14 Oktober 2017

Alhamdulillah, jam lima pagi sampai di tempat transit, kostan salah satu panitia seminar, walupun sempat terlewati. Maklumlah, belum mengenali lokasi, supir travel pun tidak begitu paham detail alamat.

Setelah sholat Subuh, saya sempatkan istirahat sejenak, walaupun tidak harus tidur, mengingat seharian bakalan nggak ada istirahat.

Jam 8 pagi, panitia menjemput dan langsung menuju lokasi acara, di kampus Untirta, Cilegon.

Acara pembukaan sedang berlangsung, saya ditempatkan di bangku barisan paling depan.

Seorang wanita cantik, tinggi, langsing, berkacamata menyambut saya dengan ramah plus cipika cipika, pasti ini Nadhira Arini. Cantik, ramah, cerdas, barokallah.

Sebelumnya sempat mencari tahu tentangnya di google, ternyata putri motivator kondang Jamil Azzaini.

Setelah dibacakan curiculum vitae, kami diundang ke atas panggung.

Nadhira mendapat giliran pertama, memaparkan tentang muslimah sebagai seorang anak, menghadapi tanda-tanda akhir zaman.

Sayang, penyakit rutin di acara wanita menampakksn wujudnya, gangguan sound system.

Nadhira bicara dengan duduk manis di sofa panggung, sambil berulang kali Β memperbaiki posisi mike dan mengucapkan,”Halo, kedengeran, nggak?”

Pengalamannya sebagai tenaga sosial di Jerman dan Palestina, merupakan sisi menarik dari pemaparannya.

Petugas sound system terdengar sibuk di balik panggung, berusaha memperbaiki alat.

Saat giliran saya, kondisi sound system belum stabil. Saya izin pada moderator untuk bicara di depan panggung, lebih dekat pada peserta.

“Supaya teriakan saya terdengar kalau soundnya mati.”

Sepertinya masih bisa terdengar di ruangan dengan peserta lebih dari 200 orang ini. Saya pikir, sedikit kendala dalam sebuah acara yang sudah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dengan ngomel-ngomel dan mengungkit-ungkit, lebih baik bagaimana cara mengatasinya supaya acara tetap bisa berlangsung.

Saya menyampaikan materi tentang muslimah sebagai pendidik generasi. Mengingatkan tentang tugas pokok sebagsi seorang istri dan ibu. Bagaimana mempersiapkan diri dan tantangan apa yang harus dihadapi.

Sudah pasti menyinggung bagaimana membangun keluarga qur’ani dan hafiz. Seperti biasa, bagian ini yang membuat penasaran dan antusiasme peserta untuk bertanya.

Jam 11.30, kami turun panggung, acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghrgaan dari panitia kepada pembicara.

Berikutnya sesi hiburan dan bagi-bagi doorprice.

O ow! Begitu deh kalau acara anak muda apalagi pembicaranya seorang artis (nunjuk Nadhira Arini😁😁), sesi fotonya banyak dan lama. Duh! Serasa jadi artis juga.

Tadi sempat ngobrol, kemana setelah acara. Saya jujur memaparkan rencana perjalanan berikutnya, menuju ka Jakarta Selatan, ke rumah kost Winda, salah seorang peserta acara Jumpa Penulis, yang baru kenal secara online beberapa hari sebelumnya. Ternyata searah dengan tempat tinggal Nadhira yang akan diantarkan panitia, Alhmdulillah, sekalian.

Sebenarnya ada beberapa teman yang menawari tempat menginap, tapi yang terdekat dengan Taman Ismail Marzuki, ya tempat Winda.

Alhamdulillah, begitu banyak kemudahan-kemudahan yang Allah berikan, terima kasih kepada semua sahabat yang ikut mendokan. Diteruskan ya, mendoakannya.😊

Bukan Jakarta kalau nggak ketemu macet.

Sampai di lokasi sekitar jam 4 sore.

Ah, menyenangkan sekali banyak saudara, banyak teman. Kemanapun pergi, ada tempat siap menerima dan meringankn berbagaknurusan dk perjalanan.

Alhamdulillah, menyiapkan energi untuk esok hari.

2 Comments

  1. Izzah Annisa Oktober 16, 2017
    • nenysuswati123 Oktober 23, 2017

Add Comment