Snorkeling yang Gagal

DCIM100GOPROG0430551.

Selasa, 13 Desember 2016

Seumur hidup anak-anak belum  pernah melihat Umi nyemplung ke air saat pergi ke pantai.

Kemarin sore Hilmy mengajak ke Pahawang, sekalian dengan rombongan yang dibawanya. Alhamdulillah, mengawali liburan semester, sebelum masing-masing anak melaksanakan program liburan masing-masing.

tmpdoodle1481695141249

Umi membawa baju ganti, sekedar persiapan untuk pulang kalau baju yang dipakai basah, kan mau menyeberang, setidaknya ada sedikit percikan air yang akan mampir ke baju. Sampai di lokasi pun belum memutuskan, apakah mau nyemplung ke air atau tidak.

Dibilang takut, nggak juga, cuma bisa dibayangkan, orang yang tidak bisa berenang, bahkan belajar pun belum pernah, akan nyemplung ke laut. Apa kira-kira yang terjadi?

Ketika sampai di spot pertama lokasi snorkeling, hampir semua turun dari kapal dengan menggunakan kaki katak, pelampung dan kacamata snorkeling. Tinggal Umi dan Harish, sedang Abi bersiap menyusul yang lainnya.

“Sebentar, Bi! Umi mau nyemplung!” dengan yakin Umi mencegah Abi turun.

DCIM100GOPROG3710933.

“Hah!?” Husna dan Hafa yang sudah turun, spontan menengok, tidak yakin dengan yang didengarnya.

Ha ha ha, wajar saja, selama ini mereka membujuk Umi sekedar mencelupkan kaki di pantai, belum pernah berhasil.

Umi segera memasang kaki katak, sedang pelampung sudah dipakai sejak naik kapal.

DCIM100GOPROG2570797.

“Pakai kacamata,Mi!” teriak Husna.

“Nggak, ah! Ribet.”

Sama sekali Umi nggak deg-degan.

Teorinya, kan, pakai pelampung membuat kita tetap mengambang. Dengan menggunakan kaki katak, membantu kita mendorong tubuh ke atas. Dan lagi, Abi dan Hilmy jago renang, kalau kenapa-kenapa pasti di tolong.

tmpdoodle1481695288515

Bismillah!

Dengan dipegangi Abi, Umi mulai menapakkan kaki di tangga pertama. Aman!

Lanjut tangga kedua, hahay… tangga yang hanya diikat tali bergeser, kaki terlepas dari injakan.

Wow! Umi ketawa-ketawa dalam kepanikan.

“Hilmy…Hilmy,pegangin!” Umi teriak-teriak, tapi sambil ketawa-ketawa. Nggak tahu, ketawa kenapa. Lucu-lucu saja. Padahal tadi sudah tanya Hilmy, kedalamannya sekitar 3 meter.

“Lepasin aja pegangannya, Mi!” teriak Abi.

“Nggak mauuuu, Abi, tariiiik!”

“Lepasin aja!”

“Ini kakinya digimanaiiiiin!?”

“Digerakin, Umiii!” Husna teriak sambil ketawa-ketawa.

tmpdoodle1481695394805

Lah! kaki digerakkan, bukannya ke atas, malah posisi Umi miring, kepala hampir kelelep. Untung pegangan pinggir kapal nggak dilepas. Paha dan kaki terasa pegal, leher belakang tegang. Ingat kram! Jangan sampai terjadi!

“Hilmy, angkat badan Umi. Abiii, tarik!” Umi teriak-teriak, tapi tetap nggak bisa menahan ketawa.

“Angkat gimana?” teriak Hilmy.

“Dorong dari bawah!”

Huuuuu! Dasar Umi, biasa pegang komando di rumah. Dalam kondisi seperti itu pun masih memberi petunjuk dan pengarahan!

Akhirnya….dengan susah payah, Umi berhasil kembali ke kapal.

DCIM100GOPROG0310539.

Malu?

Harusnya malu! Ditonton dan ditertawakan hampir 30an orang yang ada di rombongan. Sepertinya juga masih ada rombongan lain di sekitar situ.

Tapi Umi nggak malu! Untuk apa malu?

Umi lahir dan menghabiskan masa kecil di Metro, jauh dari sungai dan pantai. Paling-paling sekali-sekali main ke sawah, yang di sana saluran irigasi untuk mengairi sawah. Itu juga hanya main air, sekali-sekali mandi. Waktu itu tidak ada kolam renang. Ke pantai kalau ada study tour. Jadi kapan belajar renangnya?

Tiba-tiba di usia 51 tahun nyemplung ke laut, yang tanpa latihan atau pengarahan sebelumnya. Tidak takut saja itu sudah bagus.

Beda dengan Abi, yang rumahnya di samping saluran irigasi besar, layaknya sungai, bahkan bisa lebih dalam dari sungai alami.

Atau anak-anak, yang sejak TK sudah dikenalkan dengan pelajaran renang di sekolah.

Oke, di spot satu gagal. Lihat nanti di spot berikutnya.

Kesempatan kedua.

Di spot kedua lautnya lebih jernih dan ada bagian yang dangkal. Kebetulan kapal diparkir di atas karang di kedalaman setinggi dada orang dewasa. Umi penasaran, mau coba lagi. Kali ini nggak pakai pelampung dan kaki katak yang bikin ribet.

Perlahan Umi turun, dipegangi Abi dari atas kapal dan disambut Hilmy dari bawah.

Dibantu Hilmy, kaki Umi berhasil menjejak karang dangkal yang cukup lebar.

Begitupun agak dipaksa Umi melepaskan pegangan pinggir kapal dan hanya sebentar, sementara Hilmy memeluk pinggang.

“Sudahhhh, cukup!”

“Bentar banget,Mi?”

“Nggak pa pa,Biii, tolong tarik.”

“Nanti, Mi, bentar lagi.”

“Sudahhhhh!”

“Umi nggak pengen lihat bawah air?”

“Nggak, nanti Umi lihat videonya aja.”

Ha ha ha, payah, nih, Umi.

Gagal lageeee!

Dan Harish pun belum berhasil mengumpulkan keberanian turun, hanya sampai tangga kapal.

“Nanti kita berenang di pantai aja, ya Rish?”

tmpdoodle1481695512608

 

 

8 Comments

  1. Izzah Annisa Desember 14, 2016
    • nenysuswati123 Desember 14, 2016
  2. Kei Desember 14, 2016
    • nenysuswati123 Desember 16, 2016
  3. Fajrin Herris Desember 14, 2016
    • nenysuswati123 Desember 14, 2016
  4. Wahid Biyobe Desember 16, 2016
    • nenysuswati123 Desember 16, 2016

Tinggalkan Balasan ke Kei Batalkan balasan