Susu Segar HomeTown

Harish pulang sekolah agak sore, karena hari ini jadwal ekskul berenang. Dengan wajah yang tampak lelah, dia masuk rumah dan menyalami Umi.

“Ada yang kiriman dari teman Umi,” katanya menyerahkan tas hitam yang tadi ditentengnya.

“Katanya susu,” dia melanjutkan laporannya.

“Alhamdulillah, coba dichek kemasannya!” kata Umi, menyerahkan sebotol susu HOMETOWN.

Harish menerima botol itu dan membaca tulisan di kemasannya satu per satu.

”┬áKomposisi ada, kode produksi ada, tanggal kadaluarsa ada, BPPOM ada, seftifikat halal MUI ada, lengkap, Mi.”

“Kalau begitu, aman, boleh dibuka terus diminum,” kata Umi.

“Harish ambil gelas dulu, tolong Umi yang buka tutupnya, ya, keras.” Harish menyerahkan botol itu kepada Umi, dia ke dapur mengambil gelas.

“Gelasnya satu atau dua, Mi?” terdengar suara Harish dari dapur.

“Satu aja, untuk Harish.”

“Umi nggak mau minum susu?”

“Umi nyicip dulu, kalau amis banget, Umi nggak suka,” jelas Umi.

Umi bukan penyuka susu, kalau minum susu, dibuat variasi untuk menutup aroma amisnya, misalnya dicampur kopi atau jus alpokat.

“Belum bisa, Mi?” tanya Harish, melihat Umi belum berhasil membuka tutup dalamnya.

“Segelnya kuat banget, sepertinya perlu bantuan ujung pisau untuk membukanya. Kemasannya bagus, botolnya tebal, segelannya juga kuat, aman untuk kemasan susu segar.” Umi menjelaskan pada Harish.

“Harish yang nuang ke gelas, ya?” Harish minta izin.

“Boleh, hati-hati supaya tidak tumpah, setengah gelas dulu, ya?”

“Kok setengah?” wajah Harish kecewa.

“Kan Harish baru kali ini mau coba susu HOMETOWN, tuang setengah dulu, kalau suka, nanti boleh tambah lagi.”

Wajah Harish cerah lagi. Dengan semangat dia tuangkan susu ke gelas tanpa tumpah.

“Hmm, enak, Mi, tapi nggak manis, ya?”komentar Harish.

“Ini susu asli, tanpa tambahan rasa apapun, seperti itulah sapi menghasilkan susu.”

“Sapi nggak punya gula, ya?” tanya Harish, bercanda.

“Amis, nggak?” tanya Umi.”

“Nggak, Mi, cobain, deh!”

Umi mengambil gelas dari tangan Harish, indera penciumannya dipertajam, mencari aroma khas susu, sebelum mencicipnya sedikit.

“Amis, nggak?” tanya Harish, penasaran.

“Iya, nggak amis, rasanya gurih.”

“Boleh tambah, Mi?”tanya Harish.

“Boleh.”

“Mi, ini harus langsung dihabisin, ya?”

“Coba dibaca petunjuknya!”

“Simpan di bawah suhu 4oC. Kocok sebelum dibuka. Setelah dibuka, sebaiknya dikonsumsi secepatnya. Hmm, tadi sudah dikocok, kan?”

“Sudah.”

“Dikonsumsi secepatnya artinya harus habis sekarang?”

“Ya nggak juga, tapi jangan sampai lebih dari 2 jam, kalau nggak di kulkas. Memang Harish bisa menghabiskan 1 liter sekaligus?”

“Nggak, lah, Mi, kekenyangan, nanti.”

“Ya sudah, simpan di kulkas dulu, tunggu Abi dan Mbak Husna, nanti minum sama-sama, biar langsung habis.”

“Yess! Aku suka susu HOMETOWN!”

Untuk yang di Bandarlampung, bisa delivery ke

@hometowndairy.id

Cp : Balam 0821 7741 7271

Atau di beberapa minimarket atau supermarket yang sudah menyediakan counter.

 

2 Comments

  1. Naqiyyah Syam September 5, 2017
    • nenysuswati123 September 5, 2017

Add Comment