Syirik; Jenis, Akibat dan Contohnya-kajian Ustadz Adi Hidayat

Syirik; jenis, akibat dan contohnya-kajian ustadz Adi Hidayat

Syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah, baik dalam keyakinan, pengakuan maupun ibadah. Sebagai manusia, seharusnya kita memahaminya agar tidak terjebak pada perbuatan yang sangat berbahaya ini.

Cuaca mendung disertai gerimis kecil, saat saya datang

Jum’at, 5 Januari 2018

Entahlah, ada berapa banyak manusia menyemut menuju masjid Ad Dua, Bandarlampung untuk mendengarkan tausiah ustadz muda yang sedang popular ini. Bahkan saya sempat membayangkan, salah satu anak saya, yang sekarang sedang belajar di Turki, suatu saat nanti akan seperti beliau. Bukan popularitasnya, tapi muda, cerdas, berilmu dan bermanfaat untuk umat.

Sudah lama saya ingin melihat dan mendengar langsung kajian beliau yang sudah berulang kali diadakan di Bandarlampung, baru ini kesampaian.

Saya sampai lokasi menjelang adzan maghrib. Tempat parkir dipindahkan ke lapangan yang berjarak sekitar 300 m dari masjid karena sebagian halaman masjid  dipasang tenda untuk jamaah, sebagian lain hanya digelari karpet tanda tenda, padahal mendung tebal menggantung.

Masyaallah, seperti…bahkan melebihi jamaah sholat ied.

“Umi Neny, apa kabar?”

“Ini…Ibu yang penulis itu, ya?”

“Umi, datang dengan siapa?”

Masyaallah, bahagianya dikenali para pemburu ilmu, pegiat kajian dan dakwah.

Peserta yang hadir terdiri dari berbagai usia, latar belakang pendidikan dan sosial. Pria, wanita, kaya, miskin, tua, muda, remaja, anak-anak bahkan bayi dalam gendongan.

Saya duduk di beranda TPA, karena masjid lantai atas sudah tak lagi bisa menampung peserta. Selain itu, bisa melihat layar lebar yang dipasang di halaman masjid. Jamaah sholat maghrib, selain di masjid, ruang-ruang TPA, juga di halaman masjid. Yang diberanda TPA, termasuk saya adalah wanita-wanita yang sedang udzur bulanan.

Qodarullah, setelah sholat maghrib, saat tausiyah akan segera dimulai, hujan mulai turun. Jamaah wanita yang ada di halaman melipir ke beranda, shaff dirapatkan agar cukup. Itu pun masih ada yang berdiri di luar pagar beranda, tapi masih terlindungi atap.

Masjid dua lantai yang luas itu tak mampu menampung jamaah yang membludak

Sepertinya panitia tidak menyangka peserta akan membludak, melebihi persiapan yang diselenggarakan, terutama antisipasi kalau turun hujan.

Sebelumnya, saya mengenal ustadz Adi Hidayat dari video-video kajiannya yang sering dishare di grup-grup wa atau lini masa fb. Jelas nampak kecerdasan dan ketajaman analisis serta kedalaman ilmunya. Selama kajian berlangsung, saya perhatikan sekilas, peserta yang membludak itu tetap tertib dan tidak berisik mendengarkan uraian beliau. Di dukung sound system yang bagus dan gambar yang jelas. Hanya menjelang akhir saja terdengar sesekali suara terputus-putus, mungkin energy batere mike mendekati habis.

Saya simpulkan, penguasaan tema yang baik dari narasumber akan mempengaruhi audiens. Intonasi bicaranya yang tegas dan hampir tanpa jeda, menunjukkan kerja otaknya yang tiada henti, membuat audiens merasa sayang mengalihkan fokusnya kepada yang lain.

Saya senang dengan acara model seperti ini, singkat, padat, berisi. Tidak menghabiskan waktu untuk seremonial dengan sambutan yang berderet berisi basa-basi. Mengingat begitu berharganya waktu narasumber, memang seharusnya panitia kerja ekstra bagaimana bisa mengefektifkan waktu beliau yang sempit, banyak memberikan ilmu kepada audiens yang juga butuh perjuangan untuk menghadiri acara tersebut.

Pukul 21.04 kajian sesuai tema selesai, dan beliau sudah menggenggam setumpuk kertas yang berisi pertanyaan peserta.

“Boleh kita tambah waktu sedikit, saya tawarkan, untuk menjawab 2 pertanyaan atau menjelaskaan metode menghafal Al Qur’an yang praktis?”

Hampir serempak, peserta memilih penjelasan metode menghafal qur’an praktis yang selama ini beliau ajarkan kepada murid-muridnya, mengingat beliau adalah seorang hafidz Qur’an.

Sedang asyik mengikuti intruksi beliau dalam mempraktekkan menghafal Al Qur’an, sayup=sayup terdengar suara panggilan di hp. Ternyata panggilan ketiga, yang 2 kali tidak terdengar ditambah satu sms. Rupanya rombongan sudah siap pulang, saya diminta menuju mobil di parkiran.

Ups! Lumayan juga, gerimis-gerimis berjalan 300m, tanpa payung. Lembab di jaket karena gerimis saat datang tadi masih terasa, ini harus ditambah lagi.

Bismillah, saya berjalan cepat sambil memegangi plastic kresek untuk penutup kepala. Ups! Terpaksa sepatu, bahkan kaos kaki basah karena menginjak genangan air sepanjang jalan.

Harus bersabar menunggu antrian keluar dari arena parkir yang penuh dengan mobil. Alhamdulillah, kalau melihat dari kendaraan sebagian peserta yang hadir, kita bisa menilai tingkat kesejahteraan yang lumayan tinggi. Semoga kesadaran beragama yang saya lihat dari antusiasme kehadiran dalam kajian tadi, bukan sekedar trend, tapi benar-benar sebuah kebutuhan dan panggilan hati yang haus akan bimbingan menuju Allah.

Eh, hampir saya akhiri postingan ini, padahal inti pentingnya belum disampaikan, yaitu isi kajian ustadz Adi Hidayat Lc, M.A.

Berikut kajian yang saya serap dengan tambahan beberapa referensi untuk melengkapinya.

***

Dalam pengantarnya, Ustadz Adi mengatakan bahwa, jika masjid difungsikan dengan benar maka Allah akan memberkahi di seputarnya, berupa kedamaian dan kemakmuran.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Terjemah QS. Al Isro’ ayat 1)

Beliau juga mengingatkan peristiwa saat hijrah Rasulullah Saw. ke Madinah, bahwa hal pertama yang dilakukan beliau sesampainya di sana adalah membangun masjid, kemudian mempersaudarakan sahabat yang hijrah dari Mekah dengan sahabat yang asli penduduk Madinah, maka kemudian sejarah mencatat keberkahan yang terlimpah ke Madinah, dimana sebelumnya masyarakat hidup saling bermusuhan, kemudian tercipta kedamaian, hidup penuh kasih sayang, sampai kemudian Madinah menjadi pusat pemerintahan yang wilayah kekuasaannya mendunia.

 

Dalam kajian intinya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan dengan detail tentang syirik, sebagai salah satu dosa besar di urutan pertama.

Syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah, baik dalam keyakinan, pengakuan maupun ibadah. Sebagai manusia, seharusnya kita memahaminya agar tidak terjebak pada perbuatan yang sangat berbahaya ini.

Syirik digolongkan menjadi dua, yaitu syirik akbar dan syirik asghar.

Syirik akbar adalah memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah.

Akibat perbuatan syirik akbar:

Pertama, tidak mendapat ampunan Allah bagi pelakunya, jika yang bersangkutan tidak bertobat sampai ajalnya.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Terjemah QS. An Nisa: 48)

 

Kedua, gugur semua amalannya

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Terjemah QS. Az Zumar : 65)

 

Ketiga, menghadirkan 2 jenis hukuman: di dunia hingga alam kubur juga di akhirat

Contohnya adalah Fir’aun, orang yang tidak hanya mempersekutukan Allah dan memerintahkan manusia untuk itu, bahkan dia sendiri mengaku sebagai sekutu/ setara Allah. Di dunia, Fir’aun dan para pengikutnya mendapatkan azab yang sangat buruk di akhir hayatnya.

Di alam kubur, dinampakkan neraka yang akan mereka tempati di akhirat nanti.

Kita bisa membayangkan, jika setiap pagi dan petang dinampakkan situasi neraka yang pasti akan dimasukinya, betapa sangat menyiksanya! Belum lagi saat waktunya tiba!

…dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?” (Terjemah QS.Mukmin: 45-47)

Jika masih ada sedikit saja iman kita terhadap hari akhir, rasanya tidak mungkin berani melakukan kesyirikan yang sangat Allah benci.

Pertanyaan berikutnya, apa saja yang tergolong perbuatan syirik akbar?

Sebagai seorang manusia yang berharap keselamatan hidup di dunia dan akhirat, seharusnya kita mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa menghalangi kita untuk mendapatkan itu. Dan kepastian yang diinformasikan dalam Al Qur’an adalah bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik, berarti celaka bagi orang orang yang melakukan kesyirikan.

Banyak bertebaran artikel tentang syirik di internet, silakan searching dengan kata kunci utama SYIRIK, teman-teman bisa membacanya dari beberapa sumber. Mungkin ada sedikit perbedaan dari sisi redaksinya, tapi intinya, syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah. Ini salah satu linknya.

Dalam menjelaskan Syirik kecil, beliau memberi contoh perbuatan riya’ dan sum’ah, yaitu saat kita melakukan amal sholeh dengan niat ingin dipuji atau didengar oleh orang lain.

Riya’ daan sum’ah merupakan syirik kecil yang tersembunyi, merupakan hal yang sering tidak kita sadari. Sayang sekali kalau amal perbuatan kita tercemari niat yang mengganggu keikhlasan, khawatirnya sudah cape-cape tetapi tidak tercatat dan Allah mengabaikannya. Fatamorgana, merasa banyak pahala amal sholehnya, ternyata kosong karena tercampur riya’ dan sum’ah. Itu perlunya kita selalu menjaga niat, di awal, sedang atau setelah melakukan perbuatan baik.

Satu lagi, beliau mengingatkan kita terhadap bahayanya syirik kontemporer yang biasanya terbalut dalam acara-acara hiburan di televisi dan media lainnya.

Add Comment