Tasya Busana, Hadir dengan Cinta

Mengubah penampilan, bagi saya pribadi, bukan masalah gampang.

Mengapa?

Karena harus mempertimbangkan tiga unsur pokok sekaligus: memenuhi kriteria syariah, nyaman untuk diri dan pantas di lihat orang lain.

Awal memutuskan untuk menggunakan busana sesuai syariat, awal tahun 1986, hal pertama yang jadi prioritas adalah memenuhi kriteria syariah, walaupun belum sempurna, karena terkendala kesediaan bahan.  Mengawali dengan baju yang ada, tidak banyak pilihan.

Saat ada sedikit kemampuan, pilihan mengikuti trend komunitas, sedikit dari mahasiswi yang mulai berbusana muslimah..

Setelah menikah, pilihan busana sesuai dengan yang diridhoi suami, sampai kemudian memiliki anak, yang jadi pertimbangan utama selain sesuai syariat, tentu yang praktis menggunakannya, mudah memakainya dan tidak sulit memperbaikinya saat jilbab ditarik-tarik anak di gendongan.

Kini, anak-anak sudah besar, mandiri dan tidak lagi menarik-narik jilbab. Suara di sekitar mulai berisik, menuntut untuk berpakaian yang sesuai dengan situasi, pas dengan acara dan terkesan menghormati orang lain.

Lho?

Selama ini, adakah unsur kurang menghormati orang lain?

Saya tidak pernah berpikir sejauh itu, karena saya tidak memandang kualitas seseorang dari pakaiannya!

Tetapi, . . .pikiran manusia tidak semuanya sama dengan saya. . .oke, baiklah, kalau memang dipandang perlu untuk mengubah penampilan, selama tidak mengurangi syarat syariat dan kenyamanan saya sebagai pemakainya.

Banyak yang memberi masukan, tapi yang mengikutinya dengan tindakan, yaaa…owner Tasya Busana, sahabat saya yang care dengan kehidupan sesama.

Beberapa style dicobakan, terutama jilbab, sampai akhirnya. . .saya menemukan kecocokan di salah satu model jilbab yang dibuatkan khusus, serasa menemukan wajah saya saat aktif di kampus, walaupun. . .tentu dengan kegembilan pipi yang berbeda.

Ish! Tasya Busana memang keren! Saya sepakat dengan jargonnya, Hadir dengan Cinta.

Cintalah yang membuat Nur Aini, ownernya, tegar menghadapi kehidupan pribadi dan keluarganya.

Cintalah yang membuatnya peduli terhadap kehidupan orang lain yang dalam kekurangan dan menggerakkannya untuk selalu bersedekah.

Cintalah yang membuatnya menjadi pendengar yang sabar saat sahabat-sahabatnya curhat.

Cintalah yang membuatnya selalu ingin mendukung dakwah ilallah dengan kemampuan yang dimilikinya.

Barokallah, semoga dengan taburan cintanya, Allah melimpahkan keberkahan dalam kehidupannya, aamiin.

One Response

  1. Adian Juni 6, 2017

Add Comment