Tenggelam di Pantai Dangkal

DCIM100GOPROG2880837.

DCIM100GOPROG2730813.

Spot satu di titik yang dekat pulau Pahawang besar, snorkeling pertama.

DCIM100GOPROG1340660.

Selanjutnya, sekitar jam 11an kami mendarat di pulau Pahawang besar untuk makan siang.

Kemudian ke spot ketiga, di taman Nemo, karena spot dua sedang kurang jernih.Selesai jam 13an. Dilanjutkan ke pulau lainnya untuk sholat dan selanjutnya bermain di pantai.

 

Saatnya untuk Umi dan Harish bermain airrrrr!

DCIM100GOPROG3340886.

Awalnya hanya di pinggir dengan kedalaman setengah meter, lumayan untuk berendam sambil duduk dan bermain air.

Harish tetap dengan pakaian snorkelingnya. Bergaya seperti penyelam sungguhan.

DCIM100GOPROG3420898.

“Umi! Sini, lebih jernih!” teriak Abi dari arah yang lebih ke tengah.

“Nggak, ah! Di sini juga bersih, ya, Rish?”

Benar! Pasirnya putih, pantainya bersih, jarang terlihat sampah. Tapi tetap saja pasirnya bubar saat kita bergerak dan menyelusup ke dalam pakaian.

DCIM100GOPROG3770939.

“Sini aja, nggak dalam!” Abi mengulang ajakannya.

“Pegangin!”

Abi menghampiri Umi, menuntun ke arah yang lebih dalam.

“Di sini aja,” kata Umi, saat sampai di kedalaman sepinggang.

“Ke sana lagi, bersih banget, nggak dalam,” kata Abi, sambil menuntun Umi.

Umi nurut, sambil berpegangan leher Abi. Sampai di kedalaman hampir seleher.

Tiba-tiba datang ombak, Umi oleng. Kaki lepas dari pijakan. Sebenarnya ingat menjejakkan kaki, tapi karena posisi badan sudah bergeser terdorong ombak, agak miring, maka jejakan tidak sampai ke dasar, tapi ke samping. Umi kehilangan pegangan, perlahan badan tersedot ke dasar. Umi tidak berontak, khawatir salah. Dengan pasrah Umi teggelam, ooo, begitu rasanya tenggelam. Tapi Umi ingat, langsung melambaikan tangan supaya Abi tahu kalau Umi tenggelam. Abi langsung menangkap badan Umi dan menyembulkan ke permukaan.

Pedih! Mata dan hidung terasa pedih, telinga seakan penuh air!

“Aneh! Di tempat dangkal kok tenggelam!” Abi ngomel, tapi ketawa.

Anak-anak pun tidak sadar kalau Umi tenggelam beberapa detik!

Setelah Umi batuk-batuk berusaha mengeluarkan air yang terlanjur masuk, baru mereka sadar.

“Umi tenggelam?”

Oo, polosnya pertanyaan.

“Husna pernah tenggelam?”

“Sering!”

Lho?

Ha ha ha, o iya, ya. Anak-anak kan belajar berenang, wajar kalau sering tenggelam hitungan detik seperti tadi!

Pantesan, bisa mentertawakan Umi tenggelam.

Dah, nggak pa pa pernah tenggelam, mainan airnya dilanjut.

“Ke sini lagi, Mi?” tawar Abi.

“Nggak mauuuuuu!”

DCIM100GOPROG3540914.

Sayang, hari masih siang, sehingga kami tidak bisa menyaksikan pasir timbul. Sebagian peserta belum puas, mau snorkeling di spot yang lain. Sambil perjalanan pulang, melewati spot berikutnya, sayang, ombak seperti kurang bersahabat. Snorkeling dibatalkan, langsung pulang. Di tengah perjalanan, sopir kapal meninggalkan stir, membetulkan tiang kapal yang miring di bagian anjungan.

DCIM100GOPROG3840953.

Abi menggantikan posisinya, mengendalikan arah kapal.

Harish memeluk Umi, terlihat wajahnya menampakkan kekhawatiran. Angin bertiup lumayan kencang, ombak lebih besar, mendung menggantung, gerimis mulai turun. Dermaga belum terlihat.

Sepanjang pandangan hanya terlihat air laut dan pulau-pulau kecil di kejauhan.

tmpdoodle1481713870205

Benar-benar merasakaan sapaan alam, beda saat naik kapal besar. Sebetik rasa takut muncul, tapi segera ditepis. Perbanyak dzikir.

Alhamdulillah, segera nampak dermaga. Cuaca pun semakin ramah, walau tetap masih lebih tenang saat keberangkatan.

2 Comments

  1. Wahid Biyobe Desember 16, 2016
    • nenysuswati123 Desember 16, 2016

Tinggalkan Balasan ke Wahid Biyobe Batalkan balasan